Sawan

Sawan

Oleh: M. Arif Budiman JAMAIN masih kelimpungan di atas dipan. Kedua kaki dan tangannya dipasung menggunakan kain sampur. Matanya membelalak menghadap langit-langit. Sesekali hidungnya mengendus-endus ketiaknya sendiri, menggeram, kemudian menjulurkan lidahnya dan meneteskan air liur seperti anjing. Sementara bapaknya, Suparjo, mengelus kening Jamain sembari membaca ayat-ayat suci. Sesekali Sarmi, kakak Jamain juga membantu bapaknya dengan memencet jempol Jamain sambil berulangkali membaca ayat kursi. “Apa tidak sebaiknya Jamain kita bawa ke orang pintar, Pak?” tanya Bu…

Selengkapnya...