Sawan

Sawan

Oleh: M. Arif Budiman JAMAIN masih kelimpungan di atas dipan. Kedua kaki dan tangannya dipasung menggunakan kain sampur. Matanya membelalak menghadap langit-langit. Sesekali hidungnya mengendus-endus ketiaknya sendiri, menggeram, kemudian menjulurkan lidahnya dan meneteskan air liur seperti anjing. Sementara bapaknya, Suparjo, mengelus kening Jamain sembari membaca ayat-ayat suci. Sesekali Sarmi, kakak Jamain juga membantu bapaknya dengan memencet jempol Jamain sambil berulangkali membaca ayat kursi. “Apa tidak sebaiknya Jamain kita bawa ke orang pintar, Pak?” tanya Bu…

Selengkapnya...

Seekor Anjing, Penjual Bakso, dan Si Hantu Berwajah Gelap

Seekor Anjing, Penjual Bakso, dan Si Hantu Berwajah Gelap

Oleh: M Faizul Kamal Sudah menjadi kebiasaan setiap hari, ketika tukang bakso membunyikan mangkuk sambil mendorong gerobaknya, Syatta keluar rumah membawa boneka anjing, menyebut-nyebut perkataan aneh kepada tukang bakso itu. “Awas! Di belakangmu ada hantu berwajah gelap.” Entah apa maksudnya. * Wardikun, si penjual bakso, beberapa hari ini berpikir ulang jika melewati jalan depan rumah Pak Irul. Dia merasa terancam atas perkataan-perkataan yang diucapkan gadis kecil itu. Sesuai rencananya, malam ini dia berniat untuk tidak…

Selengkapnya...

Sum

Sum

Oleh: M. Arif Budiman “Mestinya tak usah kau kursuskan Intan menari di sanggar itu. Tak ada gunanya.” ”Biarkan saja, Bu. Toh itu kegiatan yang positif.” “Positif apanya. Yang ada ia nanti akan apes seperti aku,” Sum lantas masuk rumah, mencoba menutup luka lama. Rupanya peristiwa setengah abad silam, masih melekat kokoh dalam ingatan Sum. Sebuah peristiwa yang telah membawanya ke dalam trauma berkepanjangan. Kegemarannya menari saat itu seolah telah menjerumuskannya ke dalam jurang yang mahagelap….

Selengkapnya...

Persoalan Teman Lama

Persoalan Teman Lama

Oleh: Ken Hanggara JARANG-jarang Mudakir mampir ke rumahku seperti sore itu. Ia duduk di kursi teras dan menyapaku begitu mesin motor kumatikan. Aku turun dari motor dan langsung saja menyambut jabat tangannya. Kami tetap duduk di kursi teras, karena Mudakir meminta demikian. Sejak tiba ke rumahku sejam yang lalu, istriku memintanya duduk di ruang tamu, tetapi tamu kami ini bersikeras duduk di teras rumah. Karena tadi menolak suguhan teh atau kopi sebelum aku tiba di…

Selengkapnya...

Itu Santunan Nak

Itu Santunan Nak

Oleh: Nanik Widahyanti KETIKA aku membuka mataku, aku tak lagi berada di atas ranjang kesayanganku. Tubuhku tak lagi tertutup selimut tebal yang biasa menghangatkanku, aku tak lagi melihat dinding-dinding putih yang mengelilingi kamarku. Yang ku tahu saat itu, kepalaku sedang bersandar pada pundak yang aku tidak tahu itu pundak siapa. Kurasakan kedua tangan yang begitu erat mendekap tubuhku. “ Minggir….Minggir….” Bibi, ya itu suara Bibiku. Teriakan itu membuatku memaksakan diri untuk mengangkat kepalaku yang sedang…

Selengkapnya...

Biduan

Biduan

Oleh: Abdur Rozaq SETIAP kali manggung di hadapan Ayeza, anakku, aku tak bisa total. Mama bilang goyanganku seperti gaya artis ibu kota yang sudah tak mengandalkan gerakan seronok untuk mendapatkan saweran. Padahal goyangan-goyangan itulah modalku. Wajahku kalah cantik dengan Erlita, biduan kampung sebelah sainganku. Kulitnya sudah mulus dari peruwatan, sedangkan aku harus mengandalkan lulur dan perawatan. Itupun, jika telat pergi ke salon, akan kembali seperti asal. Suara Erlita apalagi. Aku hanya unggul dari segi lekuk…

Selengkapnya...

Cangkir Kopi

Cangkir Kopi

Oleh: Siti Nur Jannah “Sugiarto, pergi ke warung dekat masjid. Minta gula!” Suruh suara serak di balik tirai yang membatasi antara dapur dan ruang tengah. Sugiarto yang masih melekatkan kepalanya di atas bantal pun tak berniat untuk menggeser posisinya. Apalagi selimut yang seakan menjadi kulitnya itu sudah membungkus tubuhnya dengan rapi. “Sugiarto!” suara itu mulai meninggi. Diiringi dengan kepala yang memiliki rambut yang mulai memutih. Sedangkan matanya tampak menelisik apakah Sugiarto melakukan tugasnya ataukah tidak….

Selengkapnya...
1 2