alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

Perjokian Atlet Demi Bonus, Ketua PBFI: Pernah Terjadi di Cabang Binaraga

PASURUAN, Radar Bromo – Praktik perjokian atlet wushu kontingen Kota Pasuruan peserta Porprov VII Jatim 2022 membuka ”buku lama” kasus serupa. Ketua Persatuan Binaraga Fitness Indonesia (PBFI) Kota Pasuruan Akhmad Ghozi mengungkap bahwa praktik serupa pernah terjadi di cabang olahraga binaraga.

Menurut Ghozi, praktik seperti itu diduga terjadi pada 2016. Saat itu, olahraga binaraga masih berada di bawah naungan Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI). Dia mengaku tahu benar ada atlet binaraga yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan formalitas pertanggungjawaban.

”Tapi, yang sebenarnya terjadi atlet tersebut sama sekali tidak pernah terlibat dalam pertandingan dan posisinya digantikan oleh orang lain,” kata Ghozi.

Menurut dia, kasus joki atlet semacam itu ditengarai bertujuan mencari keuntungan bagi segelintir orang. Ada pihak yang sengaja mengatur pengganti atlet agar bisa memenangi pertandingan. Sehingga dapat reward atau bonus dari pemerintah melalui KONI. Bonus itu yang dinikmati pihak yang terlibat dalam pengaturan joki atlet.

”Dengan ulah seperti ini, Kota Pasuruan hanya mendapatkan kebanggaan palsu atas prestasi yang diraih kontingennya,” beber Ghozi.

Dia berharap KONI bisa mengambil tindakan tegas terhadap cabor yang mencederai sportivitas. Ghozi juga melayangkan surat ke Pemkot Pasuruan agar turun tangan menindak tegas kasus joki atlet tersebut. Terutama membongkar oknum-oknum yang bermain dalam pusaran joki atlet. Sebab, bila dibiarkan, mereka akan menjadi pengganjal perkembangan olahraga di Kota Pasuruan.

PASURUAN, Radar Bromo – Praktik perjokian atlet wushu kontingen Kota Pasuruan peserta Porprov VII Jatim 2022 membuka ”buku lama” kasus serupa. Ketua Persatuan Binaraga Fitness Indonesia (PBFI) Kota Pasuruan Akhmad Ghozi mengungkap bahwa praktik serupa pernah terjadi di cabang olahraga binaraga.

Menurut Ghozi, praktik seperti itu diduga terjadi pada 2016. Saat itu, olahraga binaraga masih berada di bawah naungan Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI). Dia mengaku tahu benar ada atlet binaraga yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan formalitas pertanggungjawaban.

”Tapi, yang sebenarnya terjadi atlet tersebut sama sekali tidak pernah terlibat dalam pertandingan dan posisinya digantikan oleh orang lain,” kata Ghozi.

Menurut dia, kasus joki atlet semacam itu ditengarai bertujuan mencari keuntungan bagi segelintir orang. Ada pihak yang sengaja mengatur pengganti atlet agar bisa memenangi pertandingan. Sehingga dapat reward atau bonus dari pemerintah melalui KONI. Bonus itu yang dinikmati pihak yang terlibat dalam pengaturan joki atlet.

”Dengan ulah seperti ini, Kota Pasuruan hanya mendapatkan kebanggaan palsu atas prestasi yang diraih kontingennya,” beber Ghozi.

Dia berharap KONI bisa mengambil tindakan tegas terhadap cabor yang mencederai sportivitas. Ghozi juga melayangkan surat ke Pemkot Pasuruan agar turun tangan menindak tegas kasus joki atlet tersebut. Terutama membongkar oknum-oknum yang bermain dalam pusaran joki atlet. Sebab, bila dibiarkan, mereka akan menjadi pengganjal perkembangan olahraga di Kota Pasuruan.

MOST READ

BERITA TERBARU

/