alexametrics
28.3 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Sudah Training Camp, Atlet Petanque Kota Pasuruan Batal Ikut PON

PASURUAN, Radar Bromo – Kesempatan atlet petanque asal Kota Pasuruan, Anjani Dwi Aprilia mengikuti PON XX Papua batal. Bukan karena bermasalah. Namun, cabor petanque ternyata tidak dipertandingkan dalam perhelatan itu.

Tidak hanya petanque, PON XX Papua juga tidak akan mempertandingkan sembilan cabor lain. Yakni, motor, catur, bridge, gateball, woodball, dansa, selam, kriket, dan ski air.

Anjani yang menjadi andalan Kota Pasuruan, sudah menyiapkan diri lama. Dia bahkan menjadi salah satu atlet yang dipanggil FOPI Jawa Timur untuk mematangkan skill-nya.

Anjani sempat mengikuti training camp di Surabaya selama beberapa bulan. Dia bersama 18 atlet petanque lain yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

Anjani terpilih ikut training camp berdasarkan penilaian FOPI Jawa Timur dalam ajang Porprov Jatim 2019. Atlet perempuan itu dinilai memiliki skill yang bisa diandalkan.

Pelatih FOPI Kota Pasuruan Budi Utomo juga mengakui hal itu. Selama ini, Anjani juga memiliki catatan baik. Dia memiliki disiplin dan kemauan yang tinggi. Budi pun membenarkan jika salah satu anak asuhnya tersebut akhirnya harus batal ikut PON Papua.

“Memang batal ikut. Ada 10 cabor yang tidak dipertandingkan di sana nanti. Salah satunya petanque,” kata Budi.

Dibatalkannya 10 cabor itu, dikarenakan alasan pandemi. Menurut Budi, pembatasan cabor yang akan dipertandingkan dalam ajang bergengsi itu merupakan kewenangan KONI pusat. Karena itu, meski sedikit kecewa, pihaknya tetap menerima keputusan tersebut. Dan harus legawa atletnya batal dikirim ke PON Papua.

“Tentunya kami menerima. Namun ini tidak akan memengaruhi pembinaan yang kami lakukan,” kata Budi.

Pihaknya tetap menjaring atlet-atlet petanque yang bisa disiapkan dalam ajang bergengsi di masa mendatang. Pembinaan tetap jalan. Semua potensi pun dimaksimalkan.

“Bahkan, kami sudah menyusun rencana untuk membidik atlet-atlet dari tingkat SD. Jadi, ada waktu cukup untuk menjadikan atlet siap menatap kompetisi. Karena, dalam menyiapkan atlet itu tidak hanya bicara skill, tetapi juga butuh jam terbang,” bebernya. (tom/hn)

PASURUAN, Radar Bromo – Kesempatan atlet petanque asal Kota Pasuruan, Anjani Dwi Aprilia mengikuti PON XX Papua batal. Bukan karena bermasalah. Namun, cabor petanque ternyata tidak dipertandingkan dalam perhelatan itu.

Tidak hanya petanque, PON XX Papua juga tidak akan mempertandingkan sembilan cabor lain. Yakni, motor, catur, bridge, gateball, woodball, dansa, selam, kriket, dan ski air.

Anjani yang menjadi andalan Kota Pasuruan, sudah menyiapkan diri lama. Dia bahkan menjadi salah satu atlet yang dipanggil FOPI Jawa Timur untuk mematangkan skill-nya.

Anjani sempat mengikuti training camp di Surabaya selama beberapa bulan. Dia bersama 18 atlet petanque lain yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

Anjani terpilih ikut training camp berdasarkan penilaian FOPI Jawa Timur dalam ajang Porprov Jatim 2019. Atlet perempuan itu dinilai memiliki skill yang bisa diandalkan.

Pelatih FOPI Kota Pasuruan Budi Utomo juga mengakui hal itu. Selama ini, Anjani juga memiliki catatan baik. Dia memiliki disiplin dan kemauan yang tinggi. Budi pun membenarkan jika salah satu anak asuhnya tersebut akhirnya harus batal ikut PON Papua.

“Memang batal ikut. Ada 10 cabor yang tidak dipertandingkan di sana nanti. Salah satunya petanque,” kata Budi.

Dibatalkannya 10 cabor itu, dikarenakan alasan pandemi. Menurut Budi, pembatasan cabor yang akan dipertandingkan dalam ajang bergengsi itu merupakan kewenangan KONI pusat. Karena itu, meski sedikit kecewa, pihaknya tetap menerima keputusan tersebut. Dan harus legawa atletnya batal dikirim ke PON Papua.

“Tentunya kami menerima. Namun ini tidak akan memengaruhi pembinaan yang kami lakukan,” kata Budi.

Pihaknya tetap menjaring atlet-atlet petanque yang bisa disiapkan dalam ajang bergengsi di masa mendatang. Pembinaan tetap jalan. Semua potensi pun dimaksimalkan.

“Bahkan, kami sudah menyusun rencana untuk membidik atlet-atlet dari tingkat SD. Jadi, ada waktu cukup untuk menjadikan atlet siap menatap kompetisi. Karena, dalam menyiapkan atlet itu tidak hanya bicara skill, tetapi juga butuh jam terbang,” bebernya. (tom/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/