31.4 C
Probolinggo
Sunday, September 25, 2022

Anggaran Askot PSSI Kota Probolinggo Mepet, Tahun Depan Ajukan Rp 1,7 M

FORMAT home and away sudah kerap dibicarakan bakal kembali digunakan PSSI Jatim dalam Liga 3 musim ini. Namun, faktanya, menurut jajaran manajemen Persipro 54, sejauh ini, belum ada surat resmi turun mengenai kejelasan format kompetisi.

Kondisi itu membuat jajaran manajemen Persipro 54 juga belum bisa mengestimasi anggaran yang dibutuhkan untuk mengarungi musim ini. Askot PSSI Kota Probolinggo sendiri tahun ini dikucuri anggaran Rp 600 juta.

Namun, anggaran itu tak semuanya untuk Persipro 54. Ada juga futsal, termasuk pembinaan sepak bola kelompok umur. “Untuk masalah anggarannya, kami masih belum bisa menjawab. Sebab, kami juga harus berdiskusi dengan Wali Kota Probolinggo selaku manajer tim,” kata Ketua PSSI Askot Probolinggo Eko Purwanto.

Yang jelas, menurut Eko, Persipro 54 tak hanya mengandalkan dana APBD. Tapi, juga menggandeng sponsor. Termasuk membuka peluang jika ada dukungan dari suporter yang ingin memberi support untuk tim kebanggannya.

“Untuk Liga 3, berbeda dengan Liga 2 yang sponsornya bisa ditaruh di mana saja dalam kaus tim. Untuk Liga 3, hanya ada satu sponsor utama,” bebernya.

Lalu, bagaimana bila ada sponsor lokal masuk? “Cara mengakali, untuk sponsor yang masuk, kami  taruh di kaus latihan. Sementra untuk penjualan tiket sendiri, tidak banyak. Dan untuk penjualannya, akan sama seperti sebelumnya, yakni secara langsung,” tuturnya.

Abdur Rahman Sunyoto, wakil askot menambahkan, untuk pembinaan pemain sebenarnya tak susah. Kuncinya, kompetisi internal harus berjalan. Sehingga tim tak kesulitan mencari bibit unggul.

FORMAT home and away sudah kerap dibicarakan bakal kembali digunakan PSSI Jatim dalam Liga 3 musim ini. Namun, faktanya, menurut jajaran manajemen Persipro 54, sejauh ini, belum ada surat resmi turun mengenai kejelasan format kompetisi.

Kondisi itu membuat jajaran manajemen Persipro 54 juga belum bisa mengestimasi anggaran yang dibutuhkan untuk mengarungi musim ini. Askot PSSI Kota Probolinggo sendiri tahun ini dikucuri anggaran Rp 600 juta.

Namun, anggaran itu tak semuanya untuk Persipro 54. Ada juga futsal, termasuk pembinaan sepak bola kelompok umur. “Untuk masalah anggarannya, kami masih belum bisa menjawab. Sebab, kami juga harus berdiskusi dengan Wali Kota Probolinggo selaku manajer tim,” kata Ketua PSSI Askot Probolinggo Eko Purwanto.

Yang jelas, menurut Eko, Persipro 54 tak hanya mengandalkan dana APBD. Tapi, juga menggandeng sponsor. Termasuk membuka peluang jika ada dukungan dari suporter yang ingin memberi support untuk tim kebanggannya.

“Untuk Liga 3, berbeda dengan Liga 2 yang sponsornya bisa ditaruh di mana saja dalam kaus tim. Untuk Liga 3, hanya ada satu sponsor utama,” bebernya.

Lalu, bagaimana bila ada sponsor lokal masuk? “Cara mengakali, untuk sponsor yang masuk, kami  taruh di kaus latihan. Sementra untuk penjualan tiket sendiri, tidak banyak. Dan untuk penjualannya, akan sama seperti sebelumnya, yakni secara langsung,” tuturnya.

Abdur Rahman Sunyoto, wakil askot menambahkan, untuk pembinaan pemain sebenarnya tak susah. Kuncinya, kompetisi internal harus berjalan. Sehingga tim tak kesulitan mencari bibit unggul.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/