alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Suhaimi, Sosok di Balik Eksistensi Persekap; Sepak Bola Ibarat Cinta Pertama

Menjadi pesepak bola merupakan mimpinya sejak kecil. Tiga kali ikut seleksi pemain Persebaya, tiga kali pula gagal. Impian menjadi pemain profesional akhirnya kandas. Kiprahnya lebih dominan di tepi lapangan. Baik di jajaran kepelatihan maupun manajemen. Sekarang dia dipercaya menjadi Ketua Askot PSSI Kota Pasuruan.

============================================

Bisa dibilang, karir Suhaimi sebagai pemain sepak bola sangat singkat. Dia mulai merintis sebagai pemain usia remaja dengan klub asal daerah kelahirannya, Persid Jember. Di posisi gelandang, dia memang punya gerakan yang cukup lincah mengecoh lawan. Suhaimi lantas mencoba peruntungannya untuk bergabung dengan Persebaya.

Kali pertama mengikuti seleksi pemain, dia gugur. Begitu pula dengan seleksi yang kedua dan ketiga. Suhaimi harus mengubur dalam-dalam harapan untuk menjadi pemain Persebaya. Dia pun mengakui kekurangannya saat itu. “Gugurnya karena kondisi fisik,” kata Suhaimi.

Maklum. Riono Asnan yang menjadi arsitek Persebaya saat itu, memang dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan fisik pemain. Gagal bergabung dengan tim berjuluk Bajol Ijo, Suhiemi lalu fokus menuntaskan kuliahnya di Universitas Putra Bangsa (UPB) Surabaya. “Waktu itu saya hanya fokus kuliah, nggak mikir jadi pemain lagi,” kelakarnya.

Tetapi, bagi Suhaimi, gagal menjadi pemain profesional bukan berarti berhenti bermain bola. Sepak bola ibarat cinta pertamanya. Sulit ditinggalkan. Bahkan, ketika sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Ngempit, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, salah satu programnya juga membina tim tarkam di desa itu. Yaitu, Singo Barong FC.

Sampai sekarang pun, Suhaimi tetap aktif membina tim tersebut. Sebab, di desa itu, dia tidak hanya menggelorakan sepak bola sebagai cinta pertama. Melainkan juga menemukan cinta sejatinya yakni Sri Mulyaningtias yang dinikahi pada 1995 silam. Setahun kemudian, Suhaimi sempat ditarik Persiku Kudus. Tetapi namanya belum tercatat sebagai pemain inti. “Dulu itu sekadar ikut latihan. Belum masuk line up,” ungkap pria kelahiran 2 April 1968 itu.

Selepas itu, dia makin aktif dalam sepak bola Pasuruan. Bahkan, Suhaimi juga sempat mendatangkan beberapa pemain Persebaya untuk main di Pasuruan. Antara lain Mursyid Effendi dan Yusuf Ekodono. Semakin lama semakin banyak tim-tim lokal yang dijajal. Termasuk PS Angkota, salah satu tim lokal di Pasuruan yang cukup kuat, meski pemainnya ialah sopir angkutan kota.

Suhaimi lalu mengikuti kursus kepelatihan lisensi D pada 2000 silam. Di antara semua peserta, dia menempati peringkat ketujuh nasional. Suhaimi kemudian dilirik tim Persekap yang saat itu ditukangi Jamrawi. “Di Persekap, memang cukup lama saya menjadi asisten pelatih,” kata pemegang lisensi B tersebut.

Ia hanya dua kali menjadi pelatih kepala. Pertama, saat menangani Persekap Jr pada musim kompetisi 2003. Kemudian pada 2008, saat Persekap mentas dari Divisi III ke Divisi II Nasional. Beberapa pemain jebolan Persekap, kini juga banyak yang memperkuat klub-klub di Liga 1. Sebut saja Dave Mustaine di PSS Sleman, Samsul Arifin di Persik Kediri, hingga Bayu Gatra yang bergabung dengan Madura United.

“Itu yang selalu membuat saya bersyukur bisa mengawal anak-anak sampai jadi pemain nasional,” katanya.

Menjadi pelatih, kata Suhaimi, memang perlu telaten dan sabar. Seorang pelatih tidak sekadar jago mengasah teknik pemain. Tetapi, juga mesti bisa ngemong. Sekaligus mau membuka kesempatan bagi putra daerah. Karena itu, sampai sekarang pun seleksi pemain Persekap diutamakan untuk putra daerah.

“Kalau memang pemain putra daerah sudah cukup, baru kami ambil dari luar. Yang jelas selama ini putra daerah selalu diberi kesempatan lebih besar,” katanya.

Seleksi pemain dengan pola semacam itu, diyakini bisa membuat pembinaan sepak bola terus berjalan. “Jadi supaya terus melahirkan generasi-generasi pemain secara kontinyu,” bebernya. Terlebih, Suhaimi punya angan-angan Persekap suatu saat bertengger di Liga 1. Betapa bangganya jika skuadnya nanti diisi oleh arek-arek Pasuruan sendiri.

Menjadi pesepak bola merupakan mimpinya sejak kecil. Tiga kali ikut seleksi pemain Persebaya, tiga kali pula gagal. Impian menjadi pemain profesional akhirnya kandas. Kiprahnya lebih dominan di tepi lapangan. Baik di jajaran kepelatihan maupun manajemen. Sekarang dia dipercaya menjadi Ketua Askot PSSI Kota Pasuruan.

============================================

Bisa dibilang, karir Suhaimi sebagai pemain sepak bola sangat singkat. Dia mulai merintis sebagai pemain usia remaja dengan klub asal daerah kelahirannya, Persid Jember. Di posisi gelandang, dia memang punya gerakan yang cukup lincah mengecoh lawan. Suhaimi lantas mencoba peruntungannya untuk bergabung dengan Persebaya.

Kali pertama mengikuti seleksi pemain, dia gugur. Begitu pula dengan seleksi yang kedua dan ketiga. Suhaimi harus mengubur dalam-dalam harapan untuk menjadi pemain Persebaya. Dia pun mengakui kekurangannya saat itu. “Gugurnya karena kondisi fisik,” kata Suhaimi.

Maklum. Riono Asnan yang menjadi arsitek Persebaya saat itu, memang dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan fisik pemain. Gagal bergabung dengan tim berjuluk Bajol Ijo, Suhiemi lalu fokus menuntaskan kuliahnya di Universitas Putra Bangsa (UPB) Surabaya. “Waktu itu saya hanya fokus kuliah, nggak mikir jadi pemain lagi,” kelakarnya.

Tetapi, bagi Suhaimi, gagal menjadi pemain profesional bukan berarti berhenti bermain bola. Sepak bola ibarat cinta pertamanya. Sulit ditinggalkan. Bahkan, ketika sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Ngempit, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, salah satu programnya juga membina tim tarkam di desa itu. Yaitu, Singo Barong FC.

Sampai sekarang pun, Suhaimi tetap aktif membina tim tersebut. Sebab, di desa itu, dia tidak hanya menggelorakan sepak bola sebagai cinta pertama. Melainkan juga menemukan cinta sejatinya yakni Sri Mulyaningtias yang dinikahi pada 1995 silam. Setahun kemudian, Suhaimi sempat ditarik Persiku Kudus. Tetapi namanya belum tercatat sebagai pemain inti. “Dulu itu sekadar ikut latihan. Belum masuk line up,” ungkap pria kelahiran 2 April 1968 itu.

Selepas itu, dia makin aktif dalam sepak bola Pasuruan. Bahkan, Suhaimi juga sempat mendatangkan beberapa pemain Persebaya untuk main di Pasuruan. Antara lain Mursyid Effendi dan Yusuf Ekodono. Semakin lama semakin banyak tim-tim lokal yang dijajal. Termasuk PS Angkota, salah satu tim lokal di Pasuruan yang cukup kuat, meski pemainnya ialah sopir angkutan kota.

Suhaimi lalu mengikuti kursus kepelatihan lisensi D pada 2000 silam. Di antara semua peserta, dia menempati peringkat ketujuh nasional. Suhaimi kemudian dilirik tim Persekap yang saat itu ditukangi Jamrawi. “Di Persekap, memang cukup lama saya menjadi asisten pelatih,” kata pemegang lisensi B tersebut.

Ia hanya dua kali menjadi pelatih kepala. Pertama, saat menangani Persekap Jr pada musim kompetisi 2003. Kemudian pada 2008, saat Persekap mentas dari Divisi III ke Divisi II Nasional. Beberapa pemain jebolan Persekap, kini juga banyak yang memperkuat klub-klub di Liga 1. Sebut saja Dave Mustaine di PSS Sleman, Samsul Arifin di Persik Kediri, hingga Bayu Gatra yang bergabung dengan Madura United.

“Itu yang selalu membuat saya bersyukur bisa mengawal anak-anak sampai jadi pemain nasional,” katanya.

Menjadi pelatih, kata Suhaimi, memang perlu telaten dan sabar. Seorang pelatih tidak sekadar jago mengasah teknik pemain. Tetapi, juga mesti bisa ngemong. Sekaligus mau membuka kesempatan bagi putra daerah. Karena itu, sampai sekarang pun seleksi pemain Persekap diutamakan untuk putra daerah.

“Kalau memang pemain putra daerah sudah cukup, baru kami ambil dari luar. Yang jelas selama ini putra daerah selalu diberi kesempatan lebih besar,” katanya.

Seleksi pemain dengan pola semacam itu, diyakini bisa membuat pembinaan sepak bola terus berjalan. “Jadi supaya terus melahirkan generasi-generasi pemain secara kontinyu,” bebernya. Terlebih, Suhaimi punya angan-angan Persekap suatu saat bertengger di Liga 1. Betapa bangganya jika skuadnya nanti diisi oleh arek-arek Pasuruan sendiri.

MOST READ

BERITA TERBARU

/