alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Sejarah PSPK, Didirikan untuk Wadah Pembinaan

RENCANA owner PSPK untuk mengubah julukan tim dari Laskar Darmoyudo ke Laskar Muda Sakera atau Laskar Sakera Muda cukup beralasan. Hal itu tak lepas dari histori klub.

Saat awal dibentuk, PSPK boleh dibilang tim muda yang dimiliki Kota Pasuruan. Dibentuk sejak 2013 lalu. Jauh lebih muda dibanding Persekap yang juga tim asal Kota Pasuruan.

Keberadaan PSPK sebenarnya cukup penting. Meski yang lebih menonjol selama ini tetap saudara tuanya, Persekap. Namun, jangan salah. PSPK selama ini menjadi wadah bagi para pemain yang mulai memasuki masa transisi.

Pendiri PSPK Suhaimi menguraikan, Laskar Darmoyudo itu dibentuk ketika Persekap masih berjaya. Lebih tepatnya saat tim berjuluk Laskar Suropati itu masih bertengger di Liga 2. “Nah, waktu Persekap masih di Liga 2 dulu, kami butuh wadah untuk pembinaan,” kata Suhaimi.

Singkat cerita, dibentuklah PSPK. Sedari awal, Suhaimi yang menjadi owner klub tersebut. Dalam kompetisi, Persekap memang menjadi andalan. Tetapi, tidak sedikit pemain yang memperkuat Persekap, justru dipoles lebih dulu di PSPK. “Memang itu tujuan dibentuknya PSPK,” kata Suhaimi.

Dalam menyiapkan pemain sepak bola, kata Suhaimi, tidak bisa ujug-ujug. Mereka yang andal di lapangan, tentu harus disiapkan secara matang. Di sinilah peran PSPK berjalan.

Selama ini, PSPK boleh dibilang menjadi klub transisi. Para pemain muda yang potensial, diajak bergabung. Mereka dilatih agar skill-nya mantap.

“Jadi, pemain-pemain junior itu kami ajak gabung di PSPK dulu sebelum mereka benar-benar siap masuk Persekap,” ungkap dia.

Suhaimi juga mengatakan, bahwa pembinaan pemain di PSPK selama ini selalu mengutamakan putra daerah. Dia ingin ke depan, banyak pemain andal yang berasal dari Kota Pasuruan. “Seperti Agies itu sebelum di Persekap kan lebih dulu masuk PSPK. Kemudian 2019 gabung dengan Persekap di Liga 3,” kata Suhaimi.

Musim ini, manajemen PSPK sudah diambil alih HSP Grup yang dipimpin lawyer Suryono Pane. Seleksi pemain yang mulai berjalan, diikuti beberapa eks pemain Persekabpas. Suhaimi mengaku senang jika PSPK bisa diperkuat para pemain yang sudah memiliki jam terbang.

Lantas bagaimana tanggapannya dengan anggapan PSPK yang kini cenderung bernapaskan Persekabpas? “Yang terpenting bagi kami, selagi untuk Pasuruan ya oke saja,” ungkap pria yang juga Ketua Askot PSSI Pasuruan tersebut.

Dalam kesepakatannya dengan Suryono Pane, pengelolaan PSPK itu memang hanya berlaku selama satu musim saja. Jika PSPK naik ke Liga 2, pengelolaannya dikembalikan kepada owner Suhaimi. Kendati demikian, sejauh ini Suhaimi menaruh kepercayaan kepada Suryono Pane bisa membawa PSPK sukses di Liga 3.

“Saya pribadi percaya dengan Pak Pane. Kalau memang PSPK naik ke Liga 2, Insyaallah saya beri kesempatan sekali lagi. Tetapi nanti dalam perpanjiannya juga diatur, tidak boleh turun (kasta),” ujarnya. (tom/mie)

RENCANA owner PSPK untuk mengubah julukan tim dari Laskar Darmoyudo ke Laskar Muda Sakera atau Laskar Sakera Muda cukup beralasan. Hal itu tak lepas dari histori klub.

Saat awal dibentuk, PSPK boleh dibilang tim muda yang dimiliki Kota Pasuruan. Dibentuk sejak 2013 lalu. Jauh lebih muda dibanding Persekap yang juga tim asal Kota Pasuruan.

Keberadaan PSPK sebenarnya cukup penting. Meski yang lebih menonjol selama ini tetap saudara tuanya, Persekap. Namun, jangan salah. PSPK selama ini menjadi wadah bagi para pemain yang mulai memasuki masa transisi.

Pendiri PSPK Suhaimi menguraikan, Laskar Darmoyudo itu dibentuk ketika Persekap masih berjaya. Lebih tepatnya saat tim berjuluk Laskar Suropati itu masih bertengger di Liga 2. “Nah, waktu Persekap masih di Liga 2 dulu, kami butuh wadah untuk pembinaan,” kata Suhaimi.

Singkat cerita, dibentuklah PSPK. Sedari awal, Suhaimi yang menjadi owner klub tersebut. Dalam kompetisi, Persekap memang menjadi andalan. Tetapi, tidak sedikit pemain yang memperkuat Persekap, justru dipoles lebih dulu di PSPK. “Memang itu tujuan dibentuknya PSPK,” kata Suhaimi.

Dalam menyiapkan pemain sepak bola, kata Suhaimi, tidak bisa ujug-ujug. Mereka yang andal di lapangan, tentu harus disiapkan secara matang. Di sinilah peran PSPK berjalan.

Selama ini, PSPK boleh dibilang menjadi klub transisi. Para pemain muda yang potensial, diajak bergabung. Mereka dilatih agar skill-nya mantap.

“Jadi, pemain-pemain junior itu kami ajak gabung di PSPK dulu sebelum mereka benar-benar siap masuk Persekap,” ungkap dia.

Suhaimi juga mengatakan, bahwa pembinaan pemain di PSPK selama ini selalu mengutamakan putra daerah. Dia ingin ke depan, banyak pemain andal yang berasal dari Kota Pasuruan. “Seperti Agies itu sebelum di Persekap kan lebih dulu masuk PSPK. Kemudian 2019 gabung dengan Persekap di Liga 3,” kata Suhaimi.

Musim ini, manajemen PSPK sudah diambil alih HSP Grup yang dipimpin lawyer Suryono Pane. Seleksi pemain yang mulai berjalan, diikuti beberapa eks pemain Persekabpas. Suhaimi mengaku senang jika PSPK bisa diperkuat para pemain yang sudah memiliki jam terbang.

Lantas bagaimana tanggapannya dengan anggapan PSPK yang kini cenderung bernapaskan Persekabpas? “Yang terpenting bagi kami, selagi untuk Pasuruan ya oke saja,” ungkap pria yang juga Ketua Askot PSSI Pasuruan tersebut.

Dalam kesepakatannya dengan Suryono Pane, pengelolaan PSPK itu memang hanya berlaku selama satu musim saja. Jika PSPK naik ke Liga 2, pengelolaannya dikembalikan kepada owner Suhaimi. Kendati demikian, sejauh ini Suhaimi menaruh kepercayaan kepada Suryono Pane bisa membawa PSPK sukses di Liga 3.

“Saya pribadi percaya dengan Pak Pane. Kalau memang PSPK naik ke Liga 2, Insyaallah saya beri kesempatan sekali lagi. Tetapi nanti dalam perpanjiannya juga diatur, tidak boleh turun (kasta),” ujarnya. (tom/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/