Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

Jaksa Tak Siap, Sidang Tuntutan Dimas Kanjeng Ditunda

Kamis, 01 Nov 2018 21:04 | editor : Muhammad Fahmi

PENAMPILAN NECIS: Dimas Kanjeng dengan rambut klimis dengan jam warna emas dan cincin batu akik saat ikuti sidang, beberapa waktu lalu.

PENAMPILAN NECIS: Dimas Kanjeng dengan rambut klimis dengan jam warna emas dan cincin batu akik saat ikuti sidang, beberapa waktu lalu. (Galih Cokro/ Jawa Pos)

SURABAYA- Sidang tuntutan terhadap terdakwa kasus penipuan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, kembali ditunda. Rabu (31/10), sidang kembali ditunda karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rakhmat Hari Basuki kembali tidak siap membacakan tuntutannya terhadap terdakwa.

Hari mengatakan, pihaknya masih harus menunggu petunjuk dari Kejaksaan Agung (Kejagung) tentang surat tuntutan yang akan dibacakan. Surat tuntutan itu sudah dikirimkan ke Kejagung sekitar tiga pekan lalu. Tapi, sampai kemarin belum ada jawaban. “Kami masih menunggu petunjuk dari Kejagung terkait tuntutan yang akan dibacakan dalam sidang,” ujar Hari di PN Surabaya, kemarin.

Sudah dua kali ini sidang dengan agenda tuntutan terhadap Taat ditunda. Hari mengaku, masih belum tahu kapan petunjuk dari Kejagung itu akan turun. Menurutnya, tuntutan terhadap Taat masih harus menunggu petunjuk Kejagung karena kasusnya menarik perhatian publik. “Kalau minggu depan sudah turun dari Kejagung, minggu depan kami siap langsung sidang,” ujarnya.

Kemarin, Taat juga tidak terlihat di PN. Dia sengaja tidak dihadirkan karena sidang sebelumnya sudah dipastikan ditunda. Dengan alasan efisiensi, Taat dibiarkan tetap dalam Rutan Kelas I-A Surabaya di Medaeng, tempatnya ditahan.

Sebelumnya, JPU mendakwa Taat telah menipu Muhammad Ali, pemilik pondok pesantren di Pekalongan senilai Rp 60 miliar. Pada 2014 lalu, Ali tertarik bekerja sama dengan Taat untuk membangun pondok pesantren, rumah sakit, dan panti asuhan. Setelah menyetor uang Rp 35 miliar, bangunan yang dimaksud tidak kunjung dibangun. 

Taat juga menjanjikan bisa menggandakan uang investasi itu, tapi janji itu juga tidak terbukti. Dalam kasus ini, Taat telah mengembalikan uang Ali Rp 3,5 miliar. Karenanya, kerugian Ali berkurang menjadi Rp 31,5 miliar. Dalam kasus ini, Taat dinilai melanggar pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan. (gas)

(br/jpk/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia