Senin, 10 Dec 2018
radarbromo
icon-featured
Kraksaan

Limbah Pabrik Gula Telan Korban Jiwa di Probolinggo

31 Oktober 2018, 11: 52: 57 WIB | editor : Muhammad Fahmi

MEMBAHAYAKAN: Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP di limbah yang menelan korban jiwa.

MEMBAHAYAKAN: Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP di limbah yang menelan korban jiwa. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

BANYUANYAR–Limbah pabrik gula yang dibuang sembarangan, menelan korban jiwa. Korban adalah  Sujiani, 72, warga Dusun Pring, RT 3/RW 1 Desa Klenang Lor, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Ia meninggal dunia Senin (29/10) lalu, setelah terperosok limbah Pabrik Gula (PG) Gending pada 7 Oktober silam.

            Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, peristiwa itu terjadi sekira pukul 08.00. Saat itu, korban hendak mencari tali untuk mengikat ranting. Mereka tidak menyadari jika gundukan tanah itu merupakan limbah pabrik gula. Sesaat setelah menginjakkan kaki di gundukan itu, korban terperosok.

            Sujiani terperosok cukup dalam. “Korban terperosok tepat di tengah bekas urukan limbah itu. Kebetulan saya yang menolongnya,” kata Sati, 51, keponakan korban. “Dia menderita luka dari bawah pinggul sampai kaki. Karena terperosoknya cukup dalam,” imbuhnya.

            Sukardi, 60, putra korban saat ditemui koran ini mengatakan, sesaat setelah terperosok, korban langsung dibawa ke Puskesmas Maron. Namun, karena lukanya cukup serius, puskesmas merujuk ke RSUD Waluyojati Kraksaan. Selama 10 hari, ibunya dirawat di rumah sakit menggunakan kartu BPJS warga tidak mampu.

“Kebetulan ibu punya kartu BPJS, jadi di rumah sakit pakai BPJS,” ujarnya. Selama dirawat, diketahui luka yang diderita ibunya tak semakin membaik. Bak petir di siang bolong, petugas medis menyampaikan kabar bahwa kaki sang ibu harus diamputasi.

BERDUKA: Keluarga Sujiani saat hendak mengantarkan jenazah ke pemakaman. (Istimewa)

BERDUKA: Keluarga Sujiani saat hendak mengantarkan jenazah ke pemakaman. (Istimewa)

Tindakan medis berupa amputasi itu kemudian ditolak keluarga. Pihak keluarga memilih membawa pulang korban. Apalagi, saat itu keluarga korban mendapat informasi jika BPJS hanya menyediakan pelayanan kesehatan selama 10 hari. “Kalau sampai lebih dari 10 hari dirawat inap, harus bayar Rp 10 juta. Meski lebih sehari, harus bayar,” ungkapnya.

Karena itulah, keluarganya pasrah. Sampai akhirnya, Senin sekira pukul 17.00, Sujiani mengembuskan napas terakhir. Selama di rumah, ia mendapat perawatan ala kadarnya. Malam itu juga, korban kemudian dimakamkan. “Pihak PG sudah memberikan tali asih saat ibu meninggal. Kalau soal biaya selama sakit, kami tanggung sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Genegar Manager PG Gending Imam Cipto belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, tak kunjung diangkat. Pesan singkat via WhatsApp belum dibalas.

Di sisi lain, Fathur Rahman selaku kepala keamanan PG Gending mengatakan, pihaknya menganggap kejadian yang di Desa Klenang Lor selesai. Seiring dengan pemberian tali asih dan pernyataan hitam di atas putih bahwa keluarga korban menerima kejadian itu.

“Dengan pihak keluarga korban sudah selesai semua. Termasuk saat penguburan, kami PG sudah ke sana dan memberi tali asih,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin.

Meski begitu, Fathur mengaku jika limbah di lokasi itu merupakan limbah dari PG Gending yang dibuang tahun 2014 lalu. Dimana, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Aktivitas pembuangan itu juga sudah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Secara aturan sudah habis masa kontraknya pembuangan limbah itu. Karena kontrak dengan pihak ketiga selama tiga tahun mulai tahun 2014 sampai 2017,” terangnya.

Disinggung soal proses pembuangan limbah yang diduga menyalahi aturan? Fathur mengaku tidak mengetahui soal itu. Semua itu diserahkan pada pihak ketiga yang kontrak soal pembuangan limbah. “Itu, langsung ke pihak ketiga yang menanganinya,” ujarnya.

Kejadian ini menambah daftar panjang warga yang menjadi korban limbah. Jumat (27/10) lalu, Muhammad Rahmad, 36, warga Desa Mranggonlawang, Kecamatan Dringu, harus dirawat intensif di RSUD Waluyojati Kraksaan. Itu, setelah kedua kakinya melepuh akibat terperosok ke limbah PG Wonolangan yang ada di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.

Perusahaan Tak Bisa Lepas Tangan

KASUS pembuangan limbah Pabrik Gula (PG) yang menelan korban, langsung jadi perhatian serius Polres Probolinggo. Kemarin, tim Satreskrim Polres Probolinggo mendatangi dua lokasi pembuangan limbah tersebut. Baik itu di Dusun Pring Desa Klenang Lor, Kecamatan Banyuanyar maupun Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.

Polisi pun melakukan penyelidikan dan olah TKP di lokasi kejadian. Petugas menemukan dugaan kelalaian pihak PG Wonolangan Dringu dan PG Gending. Pasalnya, pihak PG tidak memperhatikan serius lokasi pembuangan limbah, meski sudah lama pekerjaannya. Terbukti, di lokasi kejadian tidak adanya pagar yang membatasi lokasi pembuangan limbah dan rambu peringatan.

Hal itu disampaikan Kasatreskrim AKP Riyanto. Kasat mengaku pihaknya mendatangi langsung lokasi kejadian limbah karena sudah menelan korban. Bahkan, salah satu korban meninggal akibat luka bakar serius di tubuhnya.

“Kami lakukan olah TKP untuk proses penyelidikan. Baik itu pembuangan limbah PG Dringu maupun Gending. Terutama pembuangan limbah PG Gending di Desa Klenang Lor karena sudah menelan korban jiwa,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Riyono mengatakan, pihaknya akan menyelidiki langsung dan memproses saat ditemukan pelanggaran. Mulai dari selidiki izin pembuangan limbahnya, tempat, dan lainnya. Sejauh ini, pihaknya menemukan dugaan kelalaian dari pihak PG. Dimana, PG tidak memperhatikan lokasi pembuangan limbah dengan tidak memasang pagar.

“Meski itu sudah dipihakketigakan, harusnya PG memperhatikan pembuangan limbah itu. Bukan berarti dipihakketigakan, terus PG lepas tangan. Tetap, pengawasan harus melekat di PG,” tegasnya. 

(br/mas/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia