Sabtu, 17 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Petani Kentang di Sumber Masih Enggan Panen, Ini Alasannya

Minggu, 29 Jul 2018 14:00 | editor : Muhammad Fahmi

kentang, petani, panen, harga

HARGA ANJLOK: Kentang di Kawasan Sumber. (Dok. Radar Bromo)

SUMBER - Harga kentang di petani Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, kembali turun. Kali ini harganya berada di kisaran Rp 5.500 sampai Rp 6.000 per kilogram. Karenanya, kini banyak petani yang masih enggan memanen kentangnya.

Sebelumnya, harga kentang di daerah Kecamatan Sumber mencapai Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram. Namun, harga itu tidak bertahan lama. Sejak sebulan terakhir harganya terus turun. Sehingga, banyak petani yang enggan memanen kentangnya.

Salah seorang warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Supriyadi mengatakan, turunnya harga kentang ini karena adanya panen raya yang bersamaan dengan daerah lain. “Ini, sudah kedua kali turun. Penyebabnya adanya panen di daerah lain. Seperti, di daerah Dieng (Jawa Tengah). Di sana saat ini panen juga dan harga jualnya lebih murah daripada di sini,” ujarnya.

Menurutnya, murahnya harga kentang di Dieng, karena di sana biaya produksinya lebih murah. Sehingga, meski dijual murah masih untung. Berbeda dengan di daerahnya, bila dijual di bawah Rp 6.000, keuntungannya sangat mepet. “Di sana biaya produksinya lebih murah. Di sana harga Rp 4.000 sudah untung,” ujarnya.

Hal senada diungkap Ketua Kelompok Tani Desa Wonokerso Suliono. Menurutnya, adanya penurunan harga kentang ini membuat warga banyak yang menahan tanamannya di ladang. Mereka memilih tidak memanen dan menunggu harga mahal. “Masih banyak yang belum panen. Mereka menunggu harganya mahal. Mereka menahan tanamannya di ladang meski berisiko rusak,” ujarnya.

Menurutnya, para petani meyakini harga kentang akan kembali naik bulan depan. Karenanya, meski sudah memasuki panen, bulan ini belum dipanen. “Agustus ini harganya diprediksi naik. Jadi, petani masih bertahan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo Handoko mengatakan, kejadian ini merupakan hukum pasar. Yakni, jika stok banyak, akan mempengaruhi harga. “Seperti dulu, jika ada barang maka mempengaruhi terhadap harga," ujarnya.

(br/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia