Selasa, 20 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Perayaan Ultah Radar Bromo ke 19

Suka Cita Liana-Nur Aini, Mendapat Kesempatan Operasi Katarak Gratis

Sabtu, 28 Jul 2018 09:30 | editor : Fandi Armanto

operasi katarak gratis, hut radar bromo

SIAP-SIAP: Liana ketika bersiap hendak dioperasi di Klinik Mata EDC, Bangil. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

KEGIATAN sosial pemeriksaan mata gratis dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Jawa Pos Radar Bromo ke 19, memberikan secercah harapan bagi pasien. Mereka berharap operasi hasil kerja sama Jawa Pos Radar Bromo dan Klinik Mata EDC, Bangil, Jumat (27/7), memberikan kesempatan pada mereka untuk melihat lebih jelas.

----------------

Bertahun-tahun menderita katarak, membuat Liana, 62, warga Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan ini tak bisa melihat. Sempat hendak operasi, namun gagal lantaran biaya dan tensi darah tinggi. Kini, ia bersyukur karena berkesempatan untuk menjalani operasi mata.

Raut wajah Liana, Kamis (26/7) lalu tampak cemas. Tisu yang berada di tangan kanannya ia pilin-pilin. Sesekali tisu itu ia usapkan ke kedua matanya yang basah. Bibirnya pun tak henti bergerak. Sekilas terlihat ia mengucap basmalah. Setelah itu, mulutnya komat-kamit membaca doa agar operasi yang dilakoninya berjalan sempurna. “Mudah-mudahan bisa melihat,” aku Liana, saat ditemui di Klinik Mata EDC Bangil.

Wajar jika Liana gugup. Ia harus menjalani operasi katarak yang diderita pada kedua matanya. Namun, ia harus sedikit menelan kecewa. Karena hanya mata kirinya yang bisa dioperasi. Sementara mata kanannya tidak, lantaran sudah terlambat.

Meski begitu, ia tak begitu kecewa. Yang terpenting, ia masih bisa melihat. Meski tidak semuanya sempurna. “Tidak apa-apa (walau hanya kiri, Red). Yang penting, mata kiri saya bisa melihat. Karena menurut dokter, yang kanan sarafnya sudah rusak,” imbuhnya.

Liana mengaku, derita katarak yang dialaminya berlangsung tiga tahun lalu. Ketika itu, dirinya ikut sang suami, Ali Marjuki tinggal di Sidoarjo. Ia bekerja membantu suaminya sebagai penjual sayur atau wlijo. Setiap harinya, ia mengangkut berkilo-kilo barang di atas kepala. Awalnya memang tidak masalah. Namun, lambat laun matanya mulai bermasalah.

“Apakah pengaruh mengangkat wlijo atau tidak, yang jelas tiga tahun yang lalu, mata kanan saya terasa tak nyaman,” ceritanya. Pandangan mata kanannya mulai kabur. Ia pun dibuat tak nyaman dengan kondisi itu. Karena itu, tak jarang ia merasa pusing imbas masalah mata yang dialaminya.

Deritanya semakin parah, setelah tak memiliki biaya untuk mengobati matanya. Sampai akhirnya tahun 2015 lalu, ia memilih untuk pulang kampung di Sukorejo. Di situlah, ia kemudian diantar ke puskesmas oleh anaknya. Setelah diperiksa, rupanya matanya menderita katarak. Ia juga harus menjalani operasi untuk mengangkat gumpalan putih yang menutupi retinanya.

“Sebenarnya sempat mau operasi. Tapi, karena darah tinggi, batal. Saya hendak operasi menggunakan BPJS,” ungkapnya. Gagal operasi, ia memilih untuk pengobatan alternatif. Sayang, harapannya untuk sembuh, tak kesampaian. Justru kondisinya semakin parah. Dari yang semula hanya mata kanan, menular ke mata kirinya.

Imbasnya, ia sulit melihat. Bahkan, hampir tak bisa melihat. Dalam penglihatannya, yang ditangkap hanya serpihan cahaya. Itu pun hanya terpantul dari mata kirinya. Sedangkan mata kanannya, nyaris tak lagi melihat apa-apa. “Penglihatan saya kabur. Hanya terlihat seperti bayang-bayang,” tandas dia.

Sebagai manusia, ia tentu ingin fungsi indera penglihatannya kembali normal. Karena tanpa penglihatan, ia sulit beraktivitas. Bahkan, untuk jalan-jalan pun ia harus digandeng oleh suaminya ataupun anak-anaknya.

Sempat kehilangan harapan, namun akhirnya peluang itu muncul. Bermula ketika ada saudaranya yang menginformasikan program operasi katarak gratis gelaran Jawa Pos Radar Bromo bareng Klinik EDC Bangil, ia kemudian melakukan pendaftaran. Dari situpula, Liana berkesempatan untuk menjalani operasi. Peluang untuk melihat lagi terbuka, meski hanya sebelah kiri.

Perasaaan tak jauh berbeda juga dirasakan Nur Aini. Lelaki 70 tahun asal Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini mengaku, sudah setahun ini kondisi mata kirinya tak nyaman. Itu tak lepas dari gumpalan lemak yang menutupi matanya. “Setelah saya periksa, ternyata memang katarak,” sambungnya.

Sejatinya, ia pernah berencana untuk operasi. Namun, karena takut, ia mengurungkannya. Hingga akhirnya, ia mengetahui adanya program sosial ini, Nur Aini pun akhirnya memberanikan diri untuk operasi. “Dulu takut karena tetangga saya ada yang gagal. Tapi, insya Allah saya tidak takut lagi. Saya ingin sembuh,” tandasnya.

operasi katarak gratis, hut radar bromo

TERIMA BINGKISAN: Liana mendapat bingkisan bersama peserta lainnya seusai operasi. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia