Sabtu, 17 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Radar Bromo Events
Oleh: Radfan Faisal, Pemimpin Redaksi

Spirit of Harmony

Kamis, 26 Jul 2018 07:24 | editor : Muhammad Fahmi

Radfan Faisal, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bromo

Spirit of Harmony (Oleh: Radfan Faisal)

“AGAMAKU adalah jurnalisme, imamku Bill Covach”. Eits tunggu dulu, jangan buru-buru mencap saya tengah menyebarkan paham atau agama baru. Atau kemudian menuduh saya melakukan penistaan agama. Pernyataan itu semata-mata menunjukkan, bahwa jurnalis adalah pekerjaan yang mahaberat, pertanggungjawabannya pun tidak main-main. Balasannya tentu saja di akhirat.

Kutipan yang sudah banyak didengungkan oleh sejumlah wartawan itu menjadi bukti, bahwa pekerjaan sebagai seorang jurnalis itu banyak risikonya. Bahkan, Allah SWT dalam firmannya di Surat Al-Qolam ayat 1: “Nuun Wal Qolami Wama Yasthurun,” yang artinya: Demi pena dan apa yang dituliskannya.

Tentu ada pertanggungjawaban yang harus diemban si penulis. Karena itu, jika ada yang menganggap bahwa pertanggungjawaban seorang jurnalis itu ringan, maka salah besar. Karena dari tulisannya pula, wartawan mampu mengubah opini masyarakat atas suatu persoalan. Wartawan punya andil mengangkat citra seseorang, sekaligus bisa menjatuhkan hingga titik terendah.

Karena itulah, menjadi jurnalis yang dipercaya oleh publik merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Apalagi di tengah banjirnya informasi. Dimana publik seakan tak bisa membedakan, mana berita benar dan mana berita bohong (hoax). Kerja-kerja mahaberat inilah yang tetap menjadi tanggung jawab media terbesar di Probolinggo-Pasuruan: Jawa Pos Radar Bromo.

Hari ini (26/7), tidak ada yang paling membanggakan selain survive dan eksisnya koran ini. Bayangkan saja, 19 tahun. Bukan sesuatu yang singkat. Gempuran media online di era teknologi dewasa ini, memang sempat memunculkan kekhawatiran. Bahwa: media cetak semakin tergerus.

Namun, optimisme itu kembali menyeruak, ketika kami menyadari bahwa karakteristik media online dengan media cetak berbeda. Sehingga, segmen pembacanya otomatis berbeda pula. Dan, itu yang justru akan tetap menjadi kekuatan media cetak agar tetap menjadi rujukan informasi publik.

Keyakinan itu semakin berlipat, ketika melihat kerja keras seluruh elemen perusahaan yang tak pernah lelah. Mulai dari jajaran pimpinan hingga staf, semua bekerja keras. Tak terkecuali semangat yang ditunjukkan agen hingga loper koran. Ketika mereka optimistis, sungguh sangat tidak adil ketika kami justru pesimistis.

Kemarin, saya sempat berbincang dengan Pak Gik, Manajer Pemasaran. Pria yang memiliki nama Giyanto Nargowo itu banyak bercerita soal gigihnya para agen maupun loper koran.

Bahkan sampai ada agen yang pengelolaannya kini dilakukan oleh generasi kedua. Seperti agen Ropingi di Purwodadi, Toko Abadi di Pasuruan, toko buku Cenderawasih di Bangil, agen Haryono di Bangil, sampai agen Sudirman yang melegenda. Melegenda karena Bang Dirman –begitu ia disapa –, menjadi tempat “berkeluh kesah” teman-teman kala berkunjung ke Tretes.

Usia 19 tahun, jika merujuk pada umur manusia, justru tengah hot-hot-nya. Di tengah persaingan media, baik dari sisi kekuatan perusahaan maupun trust dari pembaca, maka tidak ada hal yang paling penting selain melakukan inovasi. Baik dari sisi konten, dengan menampilkan rubrik yang segar namun tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai penyambung lidah rakyat, maupun perwajahan dengan menampilkan grafis dan desain yang berani.

Semuanya dilakukan hanya demi pembaca. Meminjam pernyataan Abah Dahlan Iskan, sebagus apapun berita dan desain yang dibuat, akan tidak berarti apa-apa tanpa kepercayaan dari pembaca. Karena itu, sejak awal berdirinya koran ini pada 1999 lalu, Radar Bromo tetap teguh menjaga independensinya. Pagar api yang selama ini mengelilingi, menjadi benteng untuk tetap netral dalam kondisi apapun.

Hal itu yang Radar Bromo tunjukkan dalam setiap kontestasi, yang rentan memunculkan tudingan: netral atau tidak netral. Yakni, pemilu. Apakah tidak ada tudingan bahwa Radar Bromo tidak netral? Banyak. Hampir di setiap pelaksanaan pemilu, terlebih perebutan kekuasaan di tingkat lokal, koran ini menjadi sasaran tembak calon maupun simpatisannya.

Buktinya? Tidak satu pun tudingan itu benar-benar bisa dibuktikan. Apakah saya sedang jemawa? Tentu tidak. Pernyataan ini berdasarkan matan keyakinan yang sebenarnya. Apalagi, saya juga yakin, pasukan redaksi yang berada di garda depan perusahaan media ini, tetap sadar dengan pagar api yang tidak boleh dilanggar.

Namun kami sadar, menyatakan diri netral, tidak serta merta membuat banyak kepala percaya. Terpenting saat ini adalah bagaimana dinamika dalam setiap kontestasi itu usai, begitu ditetapkan pemenangnya. Itu sebabnya, dalam ulang tahun Radar Bromo ke 19, kami mengusung semangat Spirit of Harmony.

Perbedaan pandangan, pilihan, pendapat, bahkan sampai pendapatan, sudah seharusnya disudahi. Mari terus bekerja untuk kemaslahatan bangsa. Mari terus memberikan insiprasi agar tak kering inovasi di negeri ini. Dan, Radar Bromo tetap akan berjalan dalam track yang benar. Menjalankan fungsi kontrol dan terus membela kepentingan publik.

Doa dan harapan juga terus mengalir pada perusahaan ini. Hampir rata-rata mendoakan koran ini tetap menjaga trust pembaca. Seperti yang disampaikan Wakil Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo. “Selamat telah melewati tahun demi tahun.   Semoga terus dipercaya dan menjadi radar bagi masyarakat dalam mengetahui dan mencari setiap kebenaran informasi,” begitu kata politisi muda itu.

Akhir kata, kami juga menyadari di usia 19 tahun ini bukannya tanpa noda dan dosa. Karena itu, siapapun berhak untuk mengingatkan kami agar tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan kode etik jurnalistik. Selamat ulang tahun Radar Bromo.

(br/mie/rf/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia