Sabtu, 22 Sep 2018
radarbromo
icon featured
Features

Begini Geliat Kerajinan Spanram di Sumberglagah di Rembang

Selasa, 24 Jul 2018 16:00 | editor : Fandi Armanto

pembuatan spanram

KERJAKAN PESANAN: Salah satu pembuat spanram di Sumberglagah. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

KERAJINAN spanram atau bingkai kayu merupakan salah satu produk unggulan di Desa Sumberglagah, Kecamatan Rembang. Industri rumahan ini menjadi tumpuan hidup beberapa warga.

----------------

Batangan kayu mahoni itu bertumpukan di sebuah gudang produksi. Kayu-kayu itu dipotongi menjadi beberapa bagian. Hingga diperoleh ukuran kecil, sesuai keinginan.

Selanjutnya, kayu itu disambung. Hingga bentuknya menyerupai persegi empat ataupun persegi panjang. Ada yang ukuran 10 R hingga ada yang berukuran 2,5 meter. Pemolesan menjadi bagian terakhir, agar bingkai kayu itu bisa layak dipasarkan.

Bingkai kayu atau spanram memang menjadi salah satu produk kerajinan warga Desa Sumberglagah, Kecamatan Rembang. Industri tersebut sudah ditekuni beberapa tahun belakangan.

Salah satu orang yang menekuni kerajinan tersebut adalah Mokh. Sholeh, juga kepala Desa Sumberglagah, Kecamatan Rembang. Sholeh menceritakan, kerajinan spanram mulai muncul di Desa Sumberglagah, semenjak ada rekanannya yang memesan.

Merasa mampu, ia pun memberanikan diri dan menyanggupinya. “Kebetulan juga, sumber daya di sini mumpuni. Baik dari SDM untuk pembuatan spanram ataupun kayu-kayu yang dibutuhkan. Cukup tersedia,” sampainya.

Produksi pun dilakukan. Spanram yang sudah diproduksi, diserahkan ke rekanannya. Rupanya, spanram yang diproduksi sesuai dengan keinginan. Dari situlah, kerja sama di bidang pembuatan bingkai kayu ini dijalankan.

Spanram buatannya itu, dikirim ke Bali. Spanram tersebut biasanya digunakan untuk media lukis atau bingkai kanvas. Ia rutin mengirim kanvas ke Bali dengan berbagai ukuran.

“Biasanya, tak hanya dijual ke Bali. Karena setelah dipasarkan ke Bali, juga dipasarkan ke luar negeri. Seperti ke Australia,” terangnya.

Harga spanram yang dibuatnya, bervariasi. Ada yang dibandrol Rp 12 ribu ada pula yang sampai Rp 18 ribu per biji. Setiap bulannya, ia mampu mengirim 10 truk dengan jumlah barang sebanyak kurang lebih 12 ribu spanram berbagai ukuran.

Untuk memproduksi spanram, ia tidak melakukannya seorang diri. Ia dibantu enam karyawan untuk kelancaran produksi. “Ada yang bagian motong, ada pula yang kebagian menempel. Jadi, mereka memiliki tugas masing-masing,” imbuhnya.

Produksi spanram yang dikelolanya, menjadi tumpuan bagi sebagian warga. Karena mereka memperoleh penghasilan dari kerajinan tersebut. Keberadaan industri spanram itu pula, mampu sedikit mengikis pengangguran di wilayah Sumberglagah.

“Industri spanram ini, mampu mencetak lapangan kerja. Karenanya, kami berusaha agar industri ini terus berjalan dengan baik. Supaya, bisa menghidupi warga secara berkelanjutan,” bebernya.

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia