Minggu, 23 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Talak di Malam Takbiran

Senin, 16 Jul 2018 08:30 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, talak di malam takbiran

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

SUARA takbiran, letusan mercon dan derung motor di jalan, meningkahi obrolan kami di ruang tamu. Para tetangga mulai silih berganti datang berhalal bihalal, karena besok mungkin akan langsung mudik begitu usai sholat Id. Belum pamit tamu satunya, di pintu sudah muncul tamu lain. Maka rumahku begitu riuh.  Obrolan dan kelakar bersahutan penuh kegembiraan. Para tamu perempuan langsung menuju ruang tengah. Lebih riuh lagi berbasa-basi dengan istri dan anak-anakku. Para bocah ribut berebutan amplop yang dibagikan istriku seperti biasanya. Sementara para tamu laki-laki, jandoman di ruang tamu. Silih berganti menuang kopi, teh, sirup, atau wedang jahe dan menyalakan rokok yang sudah kami sediakan di meja.

Malam takbiran yang oleh para malaikat, ahli kubur, dan para wali ditangisi, malah kami rayakan. Sebagai kemenangan, katanya. Besok kami memang sudah bebas. Boleh makan, minum, kumpul bojo siang hari, ngerasani, tolah-toleh istri orang, bahkan anak-anak muda biasanya pesta arak di poskamling. Maka kegembiraan ini, meski sejatinya tak layak dirayakan, dalam budaya kami adalah semacam pesta. Maha pesta, malah.

Aneka suguhan tersaji di meja. Belasan toples berisi jajanan kuno, kaleng biskuit buatan pabrik, makanan khas lebaran seperti lepet, jenang madu mongso, bahkan ketupat dan lontong disajikan istriku di meja. Siapa yang hajat dipersilakan mencicipi. Aroma makanan, bau pakaian baru, bau cat tembok, bau sofa, dan permadani baru menjadi satu dengan aroma bunga sedap malam di bufet.

Aku sendiri larut dalam kegembiraan karena sudah bebas tidak kepontal-pontal menjadi imam tarawih di masjid. Dan, hobiku menyeruput kopi seraya merokok tanpa kenal waktu, sudah tak terikat lagi. Apalagi, seminggu menjelang Lebaran aku menang tender, ganti mobil dan istriku sudah tak uring-uringan lagi. Seakan lupa jika ia punya madu.

Menjelang jam sepuluh malam tamu mulai sepi. Lampu ruang tamu tak kumatikan, barangkali masih ada yang datang. Kalau setengah jam lagi tak ada tamu, aku akan berangkat ke alun-alun, ke makam Mbah Hamid sekalian melek-melek di sana. Sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, aku selalu melekan pada malam-malam becik. Kata Kiai Muhammad, biar rejeki lancar dan hajat terkabul.

Untungnya, aku belum berangkat ketika pintu diketuk pelan-pelan dari luar. Kubuka ternyata Arif, adikku. Kupanggil istri dan anak-anak yang belum tidur di dalam. Mereka berhamburan menyambutnya. Setelah mencium tanganku dan istriku, giliran anak-anak yang mencium tangan Arif. Rumah kembali ramai nggojloki sang pengantin baru.

“Sombong, Lik. Mentang-mentang pengantin baru ndak pernah sambang,” ujar Fira, anakku.

Adiknya menyahuti, “Lagi mesra-mesranya, Mbak.” Tapi Arif hanya tersenyum kecil, tak merespons sebagaimana wajarnya. Setelah ketiganya kembali masuk dan entah sedang apa di dalam, Arif duduk dengan lesu di kursi sebelahku.

“Istrimu kok tidak ikut, Rif?” tanyaku.

“Fia pulang, Cak,” jawabnya lesu.

“Istrimu Lebaran di Grogol, ta? Kamu kok belum berangkat?” ia diam tak menjawab. Tapi, mulai terlihat gugup menghisap rokoknya.

“Kami talak, Cak.”

“Talak bagaimana?” ujarku tak paham.

“Fia sudah kutalak tiga tadi sore.”

“Kamu ….ngomong apa sih, Rif?”

“Ini, Cak” katanya seraya menyodorkan HP kepadaku. “Fia ternyata masih berhubungan dengan lelaki lain. Tadi malam, ada seorang menelepon ketika kami sedang kumpul,” ujarnya dengan tatapan geram. Aku linglung. Petaka apalagi yang menimpa adikku ini. Bertahun-tahun menduda, baru menikah sebulan sudah bercerai lagi. Tak tanggung-tanggung, talak tiga. Menjelang malam takbiran!

Dunia tiba-tiba terasa gelap. Suara anak-anak takbiran di surau menikam dadaku. Bagaimana ini, malam hari raya yang seharusnya gembira, Arif memberiku kabar begitu menyakitkan. Kutarik napas dalam-dalam karena dadaku sesak. Beberapa saat aku tak bisa berpikir dan kulihat Arif mulai berkaca-kaca.

“Tolong jangan paiduh aku, Cak. Ini bukan hanya salahku. Yang paling kurang ajar ya pacarnya itu. Sudah tahu istri orang masih direbut juga,” ujarnya seraya meremat rokok pada asbak.

“Kamu sudah yakin itu bukan telepon iseng atau telepon nyasar?” tanyaku, memastikan riwayat panggilan di HP yang barusan ia berikan.

“Saat tunangan, Fia sudah bilang kalau ia masih berhubungan dengan seseorang, Cak. Bahkan, Fia pernah menunjukkan SMS dari lelaki itu saat aku sambang dulu.”

“Tapi kan bisa saja itu telepon iseng atau orang iri, Rif!?”

“Malam Rabu Fia menginap di rumah mertua. Kulihat riwayat panggilan di HP-nya, nomor itu juga menelepon. Tadi malam, saat kami sedang kumpul, selingkuhannya juga menelepon.”

“Kamu sudah menanyai istrimu?”

“Mereka sudah berzina, Cak. Setiap kali Fia menginap di rumah mertua, mereka melakukannya. Pantas saja ia sering minta menginap di rumah mertua. Pasti untuk berzina dengan bangsat itu.” Dadaku panas. Pandanganku berkunang-kunang oleh amarah, rasa terluka, dan malu. Aku bahkan tak sanggup untuk berpikir jernih, apa itu hanya kecurigaan Arif semata atau fakta.

“Fia memang sengaja menyakitiku, Cak, ia mengakui perzinahannya terang-terangan. Katanya sejak ia menjanda dulu.”

“Coba baca SMS mereka,” katanya seraya kembali menyodorkan HP tadi.

“Itu SMS mereka yang kukirim dari HP Fia.” jelasnya seraya menyeka air mata dengan ujung sarung. Kubuka SMS itu. Kubaca dengan teliti meski mataku berkunang-kunang dan kepala seperti pecah. Dadaku semakin panas karena dari isi SMS, adik iparku telah jelas-jelas berzina. Kata-kata mesum berhamburan dalam SMS mereka. Bahkan dengan jelas, Fia bilang kemaluan pacarnya lebih besar. Aku tak sanggup membaca belasan SMS dalam bahasa anak muda itu.

Arif menangis di hadapanku. Benar-benar berlinangan air mata seperti saat ia kanak-kanak dulu. Belasan tahun aku tak pernah melihat Arif menangis. Saat bapak meninggal dulu, ia hanya berkaca-kaca. Ketika  diceraikan mantan mertuanya, ia juga tak tampak terpukul sedikit pun. Hanya sesekali saat tahajud kulihat ia mengguguk-guguk tanpa suara. Kini ia menangis. Adik sulungku itu menangis. Tepat pada malam hari raya dan suara takbiran membahana di seluruh penjuru.

Suara anak-anak takbiran di surau makin menyayat. Dadaku makin terasa sesak. Kepala terasa pusing dan tengkuk terasa berat, pasti karena tekanan darahku naik.

“Kamu menalaknya tiga?” tanyaku seraya menggelosoh pada sandaran kursi.

“Ya, biar tidak rujuk lagi, Cak.”

Ia mengambil HP yang tadi kuletakkan di meja, dekat toples berisi kue lebaran. Ia mengutak-atik HP itu, lalu menunjukkan padaku sebuah pesan berisi gambar dan kata-kata.

“Ini chat mereka di WA, Cak. Bangsat itu bahkan mengirim foto telanjangnya, Fia juga mengirim foto-fotonya ketika mandi.” Tak bisa kupungkiri, pesan dan gambar-gambar itu memang begitu menjijikkan. Dan meski tak ada saksi yang melihat kedua bajingan itu melakukan zina, aku yakin mereka memang telah melakukannya. Apalagi, Arif juga menjelaskan isi percakapan dalam bahasa anak ingusan yang disingkat-singkat itu.

“Ya, Rif. Kamu sudah benar. Kamu memang lanang. Pelacur itu memang sudah selayaknya kau talak tiga” ujarku tanpa terasa.

*****

Suara takbiran kali ini akhirnya membuatku benar-benar menangis. Bukan karena teringat pada emak dan bapak seperti biasanya. Tapi, karena memikirkan Arif yang tak pernah usai dirundung musibah. Tiga lebaran ia menduda karena selepas diceraikan mantan mertuanya, puluhan kali ia ditolak orang yang hendak ia lamar. Jangankan melamar, nontoni saja selalu gagal. Arif yang masih gagah, belum tampak sedikit pun kerutan di wajah bersihnya, meski tak punya anak, berkali-kali ditolak orang. Orang bilang duda tanpa anak bisa memilih perempuan mana saja. Tapi Arif, mulai perawan tua, janda tanpa anak ,hingga janda beranak tiga menolaknya. Setelah puluhan orang menolak pinangan bahkan tak sudi ditontoni, kami sowan kepada Kiai Muhammad. Belum sempat kami bertanya, beliau sudah bilang “Sampeyan kena sihir tafriq. Kata orang Jawa, di-patek. Maka dengan izin Allah, siapa pun akan menolak sampeyan.”

“Siapa yang melakukannya, Kiai?” tanyaku kala itu.

“Sudah, ndak usah tanya biar ndak suuzan. Yang penting kan sembuh?” namun suwuk Kiai Muhammad menter. Bukan menter, ketika pengaruhnya hilang, sihir dipasang lagi karena mantan mertua Arif memang punya perewangan sendiri.

“Maesan Semi memang begitu, agak sulit melepasnya. Mereka kepingin sampeyan ndak bisa menikah lagi sebelum batu nisan tumbuh. Lha, apa ada batu nisan yang tumbuh meski ditancapkan ke tanah? Apalagi ini minta bantuan jin Bali,” ujar Kiai Muhammad, entah pada ke sekian kalinya kami minta Arif di-suwuk.

Puluhan dukun juga kami datangi untuk melunturkan patekan Maesan Semi yang dipasang mantan mertuanya di Winongan sana. Seperti namanya, aku khawatir Arif takkan bisa berumah tangga kembali sebelum maesan nyemi, sebelum batu nisan tumbuh seperti pohon kamboja yang ditancapkan di tanah. Berbagai macam ijazah wirid mulai ilmu Jawa, Arab, Ruqyah, rukat, ritual mandi kembang Kerah Macan, bahkan lintrik, kami lakukan demi menghancurkan sihir bangsat itu. Tapi tak ada hasilnya. Arif tetap ditolak melamar perempuan.

Hingga setelah kami putus asa, seorang dukun dari Jember bilang sihir itu telah luntur dan Arif memang kembali menikah bulan Sya’ban lalu. Tapi, setelah ia bercerai lagi sore tadi, jangan-jangan mertuanya mengganggunya lagi.

Hatiku perih. Jam sebelas tadi aku pamit kepada istriku untuk berziarah ke makam Mbah Hamid. Ketika keluar kulihat Arif termenung di ruang tamunya seorang diri. Lampu memang sudah dimatikan, tapi cahaya merah dari ujung rokoknya dan temaram lampu dari ruang tengah, jelas memperlihatkan sosoknya sedang meringkuk di kursi ruang tamu.

Sepanjang perjalanan, berkali-kali aku dibentak orang karena mobilku hendak menyerempet mereka. Pikiranku memang tak sedang berada dalam batok kepala. Angan-angan berlompatan ke mana-mana. Hatiku perih tak tertanggungkan. Bagaimana tidak, ini malam penuh kegembiraan. Para tukang becak, tukang parkir, bahkan para pemulung di rumah-rumah petak sepanjang gang Wiroguno tampak semringah. Anak-anak bermain petasan. Warung-warung ramai oleh orang nongkrong melek-melek. Di sepanjang jalan kulihat orang merayakan kegembiraan dengan cara masing-masing. Bahkan, anak-anak punk bergerombol menyalakan sound system menikmati alunan reggae. Jalanan sampai macet oleh konvoi anak-anak muda entah hendak ke mana. Duka seakan diangkat dari bumi sejak Magrib tadi hingga besok selepas salat Id. Tapi aku, istriku, apalagi Arif, malam ini menangis dalam hati. Lebaran kali ini sepertinya Arif takkan kemana-mana karena aib pasti akan cepat merebak seperti dulu ketika ia diceraikan mantan mertuanya. Besok, ketika orang berhalal bihalal ke rumah-rumah tetangga, semua pasti bertanya ke mana istri Arif. Sepasang pengantin baru, saat hari raya tidak bersama, pasti menimbulkan tanda tanya. Alasan apapun yang ia sampaikan, pasti terasa janggal.

Sesampai di alun-alun aku langsung memarkir mobil di area parkir masjid jamik. Aku ingin langsung sowan Mbah Hamid, barangkali saja hatiku bisa sedikit tenang. Sebenarnya pikiran berkecamuk dan tengkuk terasa makin berat, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Mbah Hamid mungkin sudah wafat secara lahir, tapi aku berharap ada sedikit keajaiban, paling tidak hatiku menjadi sedikit tenang.

Di makam Mbah Hamid, meski zikir dan salawat kubaca dengan khusyuk, pikiran tetap tak bisa kukendalikan. Aku khawatir perceraian Arif ini karena pengaruh sihir itu masih ada. Karena menurut Arif, Fia tiba-tiba begitu membencinya padahal setelah akad nikah baik-baik saja. Bisa juga Fia terkena lintrik. Sebab, saat pesta pernikahan, Arif bilang pacarnya ikut rewang. Bahkan, Arif curiga karena duda itu duduk lama di depan pintu kamar pengantin. Arif juga bercerita kalau Fia sering merasa sakit kepala dan mulas tanpa sebab, pertanda reaksi sihir.

Pikiran tak juga bisa kukendalikan meski sudah berjam-jam aku berzikir. Bahkan rencana lama untuk mencari dukun santet atau menyewa pembunuh bayaran tiba-tiba kembali muncul. Biarlah dosa dipikir di ahirat kelak. Sebab, dosa membunuh orang lebih ringan daripada dosa syirik melakukan sihir. Perusak rumah tangga orang, apalagi menggunakan ilmu hitam, kukira layak dibunuh. Biarlah karma atau kuwalat mengancam, sakit hati tak ada obatnya. Pikiran makin keruh, tapi dalam hati aku ciut. Kami bukan trah para pembunuh, apalagi tukang sihir.

****

Seperti kuduga, kami memang tak ngelencer ke mana-mana lebaran kali ini. Biasanya kami berombongan, mengajak Arif dan mantan istrinya berkeliling silaturahmi mengunjungi sanak famili. Maka, kalau lebaran kali ini aku hanya ngelencer bersama istri dan anak-anak, para famili akan bertanya kenapa Arif tidak ikut. Jika Arif ikut tapi tidak bersama istrinya, akan semakin panjang lagi pertanyaan itu.

Tapi karena musibah atau katakanlah aib memang tak bisa ditutup-tutupi, Cak Misbah akhirnya menanyakannya juga ketika ngelencer ke rumah.

“Arif kok sendirian di rumahnya tadi, istrinya ke mana?”

“Menginap di rumah ibunya, Cak,” jawabku ketar-ketir.

“Lho Arif kok ndak ikut?”

“Ya” hanya begitu yang bisa kukatakan.

“Sik talah, ndak ada apa-apa kan?” kejar Cak Misbah dengan raut muka penasaran.

“Istrinya ngambul ta?” kejar sepupuku itu sampai meletakkan rengginang yang baru diambilnya dari toples. Tak ingin membuka aib, malah istriku yang menjawab.

“Sudah talak, Cak.”

“Astaghfirullah!” sergah Cak Misbah pasrah.

“Makanya, mau menikah kok tidak tanya-tanya dulu sama keluarga,” timpal istri Cak Misbah.

“Kalau dapat wanita nakal begini, bagaimana?” lanjut perempuan judes itu.

“Senuk bagaimana, Yu?” tanya istriku kaget.

“Hmmm, semua orang sudah pernah numpaki, Dik. Wong sama suaminya yang dulu cuma tiga bulan. Siapa yang tidak kenal Fia? Semua dagang gabah, blantik, dan pelanggan warung ibunya sudah pernah numpaki. Faisol anak saya, tahu siapa saja yang pernah numpaki. Fia itu stres. Dulu, masih kecil sudah dikawinkan karena orang tuanya ndak mampu membiayai sekolah. Baru tiga bulan diceraikan karena orang tuanya ndak bisa ikut meres uang suaminya.”

“Sampeyan yakin ta, Yu?” timpalku memastikan.

“Wong hanya beberapa gang dari rumahku. Dulu apa sampeyan ndak tanya-tanya dulu mau melamar?”

“Namanya sudah apes, Yu. Lagi pula mumpung ada jodoh. Puluhan kali ditolak orang, begitu ada yang mau ndak tanya-tanya lagi.”

“Pacarnya itu, pasti Rozi,” timpal Cak Misbah.

“Sudah lama gendakan sama Fia,” tambah istrinya.

“Rozi itu duda apa perjaka?” tanya istriku.

“Duda. Coba pikir, kalau ada duda gendakan sama janda, apa yang diharap?” ujar istri Cak Misbah penuh arti.

“Lha sampeyan kok yakin kalau yang namanya Rozi itu pacarnya?” kejar istriku.

“Wong tiap hari tidur di rumah? Ngalor-ngidul sama Faisol, anakku. Faisol pura-pura ndak tahu kalau Arif itu liknya.” Dadaku panas mendengar cerita Cak Misbah dan istrinya. Ternyata Bahri benar, ketika dilacak nomor telepon itu memang berada di daerah Grogol. Bahkan, ketika Bahri ngopi di Alun-alun Ranggeh, ia melihat lelaki itu mengangkat telepon ketika ia missed call. Duda itu buru-buru pergi ketika Bahri hendak mendekatinya. Di-missed call lagi HP-nya sudah tidak aktif.

Diam-diam kuambil HP di saku. Kukirim SMS kepada Bahri.

“Sepertinya kamu benar, Ri. Anak Grogol. Tapi pastikan dulu. Kalau sudah yakin ya sudah.”

Bahri langsung membalas

”Oke, Cak. Diapakan?”

”Lho kok tanya lagi? Buat seperti korban begal, Ri.”

”Persekotnya ada, Cak?”

”Ada, nanti ke rumah. Tapi aku tahu bersih, lho.”

”Yang Winongan bagaimana?”

”Ndak usah, habis Lebaran aku ke Banyuwangi.”

”He he he”.


Oleh: Abdur Rozaq
Bakalan, 14 Ramadhan 2017

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia