Sabtu, 22 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Matinya Seorang Pencopet

Rabu, 04 Jul 2018 08:45 | editor : Muhammad Fahmi

cerpen, radar bromo, ruang publik, matinya seorang pencopet

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

MENJADI tukang copet bukanlah pilihan yang baik, namun, saat itu mencari pekerjaan di kota sebesar ini sangatlah susah. Dan, menjadi tukang copet saat itu adalah satu-satunya jalan yang aku pilih setelah krisis ekonomi melanda seluruh bagian negeri. Dan untuk saat ini aku begitu menyesali pilihanku. Ya, saat ini aku sedang berada di antara langit dan bumi.

Beberapa malam yang lalu aku masih menjadi tukang copet. Biasanya aku mulai beraksi ketika malam tiba, mangsaku adalah orang-orang yang telah pulang kerja dan melewati jalanan yang sepi di kota ini. Biasanya aku mengikuti calon korbanku dari tempatku mangkal, di sebuah perempatan kota yang pastinya banyak dilalui oleh pengendara sepeda motor yang baru saja pulang kerja. Perempatan itu memang menghubungkan antara kota dan desa. Namun malam itu nasib seperti tak berpihak padaku. Setelah berhasil mencopet tas milik korbanku, seperti biasanya tentu aku melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan meninggalkan korbanku. Namun malam itu tiba-tiba sepeda motor yang aku gunakan untuk mencopet mati mendadak saat jarakku hanya beberapa ratus meter dari orang-orang yang mengejarku. Karena panik aku meninggalkan sepeda motorku dan berlari sangat kencang di jalanan. Daerah itu hanya berisi jalanan aspal panjang dan jembatan besar di atas sungai.

Kulihat dari jauh lampu-lampu sepeda motor yang mengejarku sudah mulai mendekat, entah, karena saat itu aku begitu panik, maka aku menuju jembatan besar itu dan melompat dari atasnya. Melompat ke sungai itu bukanlah pilihan yang baik, namun saat itu, karena begitu panik pilihan itu menjadi satu-satunya jalan yang aku pilih.

Saat terjun ke sungai itu masih sempat aku mendekap tas yang berhasil aku copet. Tentunya aku akan mati. Batu-batu besar di sungai sudah siap menyambutku. Tapi saat itu entah mengapa pikiranku begitu kosong, begitu bebas, orang-orang di atas sana tak mungkin ikut terjun bersamaku. Tas hasilku mencopet masih aman dalam dekapanku. Di saat-saat terakhir aku masih berhasil menjadi tukang copet yang handal, pikirku.

Tubuhku jatuh dan menghempas batuan besar di sungai. Aliran darah mulai terbawa arus sungai di dekat batu-batu itu. Suasana malam yang gelap dan gerimis nampak berwarna merah darah. Pikirku saat itu aku sudah pasti mati. Dan benar, aku telah mati di atas batu-batu itu. Rasanya tubuhku menjadi sangat ringan dan tiba-tiba aku bisa terbang. Kulihat dari atas wajahku sudah tak bisa lagi kukenali bentuknya. Sebelum terbang semakin ke atas, aku sempat melihat di dekapanku tas hasilku mencopet masih aman. Aku merasa lega dan bergerak seperti mengikuti udara, terbang dan terbang ke atas menuju perbatasan antara langit dan bumi.

Aku sudah mati. Bukan karena bosan hidup, namun karena itu satu-satunya pilihanku. Terjun dari jembatan di atas sungai adalah cara mati yang pasti akan membuat media-media lokal heboh. Obrolan orang-orang sekitar akan tertuju hanya padaku.

“Kasihan juga tukang copet itu, malam itu dia sungguh tidak beruntung. Matinya mengenaskan.”

“Apanya yang kasihan? Dia itu tukang copet dan baguslah kalau mampus dengan cara begitu.”

“Jangan-jangan dia menjadi tukang copet karena tidak ada pilihan lain? Pilihan terakhir untuk menghidupi keluarganya. Kasihan juga kalau begitu, kan? Mencopet karena keadaan.”

“Tidak perlu dikasihani yang seperti itu. Jalan mencari rejeki yang halal masih banyak. Dia memang orang jahat, tidak perlu dikasihani. Lihat saja, sampai akhir-akhir hidupnya dia masih mendekap tas hasilnya mencopet.”

Aku tidak terlalu perduli dengan obrolan orang-orang atau media yang semuanya membicarakanku. Toh, apa gunanya? Aku sudah mati. Justru aku merasa telah menghidupi mereka dengan berita-berita yang heboh di media.

Saat ini arwahku sudah berada di antara langit dan bumi. Arwahku tidak bisa langsung menuju langit karena aku mati bunuh diri. Dulu seingatku orang yang mati bunuh diri arwahnya akan melayang-layang di antara langit dan bumi, dan sekarang aku percaya itu. Jadi, di antara langit dan bumi arwahku terbang melayang-layang tanpa tujuan. Aku masih bisa melihat kota tempat tinggalku dulu dari atas. Dan nampaknya orang-orang masih tak henti-hentinya membicarakanku; tukang copet yang memilih mati dengan melompat dari atas jembatan daripada harus tertangkap dan kemudian diadili.

Di batas antara langit dan bumi ini ternyata aku bisa bertemu dengan arwah-arwah orang lain yang senasib denganku. Di dunia, ternyata bunuh diri masih menjadi pilihan yang favorit. Karena merasa asing dan sepi akhirnya aku memutuskan untuk mencari obrolan dengan arwah-arwah lain. Aku langsung membaur begitu saja kepada mereka. Kusimak sekilas mereka saling bercerita dengan cara apa mereka bunuh diri dan sebab apa. Mereka bercerita seolah-olah tanpa beban. Padahal arwah orang yang mati bunuh diri akan selamanya melayang-layang di antara langit dan bumi.

“Saya sengaja mati dengan minum obat serangga. Istri saya kepergok kawin lagi.” Kata salah satu arwah yang matanya merah dan perutnya agak besar.

Ya jelas saja istrimu kawin lagi, aku bisa perkirakan arwah itu adalah pemabuk berat dan orang yang kasar kepada istrinya. Patutlah istrimu kawin lagi, pikirku dalam hati.

“Kalau saya, saya mati karena ditinggal nikah oleh pujaan hati saya. Saya mati dengan cara mengiris pergelangan tangan saya dengan pisau dapur yang karatan.” Kata arwah yang terlihat kurus kering, bahkan tubuhnya nyaris terlihat tulang dan kulitnya saja.

Ya pantas saja pujaan hatimu kawin dengan orang lain. Wajahmu tidak terawat, dan tubuhmu, tubuhmu nyaris seperti tengkorak berjalan. Pantaslah pujaan hatimu kawin dengan orang yang lebih baik darimu, batinku.

Aku masih belum berbicara sepatah kata pun. Karena merasa orang baru dan asing aku memutuskan hanya menyimak obrolan arwah-arwah yang senasib denganku itu.

“Anda orang baru ya di sini?” kata arwah yang bermata merah itu kepadaku.

“Benar. Saya baru sampai di sini hari ini. Saya mati dengan terjun dari atas jembatan.”

“Istri Anda selingkuh?”

Saya bukan pemabuk berat dan orang yang kasar kepada wanita sepertimu, batinku.

“Tidak, saya terpaksa terjun dari jembatan kala itu.”

“Ditinggal pujaan hati kawin?”

Saya tidak sebodoh itu tentunya, batinku lagi.

“Tidak juga, saya terjun dari jembatan karena itu pilihan satu-satunya yang saya pikir juga yang terbaik. Saya dikejar orang-orang yang memergoki saya mencopet tas seorang wanita malam-malam.”

“Matimu yang paling mengenaskan, kamu akan berada di sini selamanya. Arwahmu pasti ditolak langit dan bumi.”

Mendengar itu, aku menjadi getar-getir. Apakah benar aku akan di sini selamanya? Apakah Tuhan tidak akan memaafkanku?

Tiba-tiba, saat kami asyik mengobrol, seorang malaikat turun dari langit dan menghampiri kami semua.

“Yang mana yang mati karena jadi tukang copet?” tanya malaikat itu.

“Saya tuan malaikat. Saya mati sebagai seorang pencopet, sampai akhir hayat tas hasil copetan masih saya dekap erat-erat.” Jawabku.

Tiba-tiba malaikat itu memegang tanganku dan membawa pergi arwahku menuju langit. Tentu aku begitu heran, bukankah aku adalah orang jahat yang mati karena bunuh diri? Mengapa arwahku ditarik ke langit?

“Ibumu. Ibumu yang memohon kepada Tuhan agar kamu bisa menembus langit. Doa ibumu yang bersih itu telah menembus langit.”

Aku dan malaikat itu terus terbang ke atas, menuju langit. Diam-diam air mataku menetes. Bahkan, sampai urusan langit pun ibu masih menolongku. Terima kasih ibu....


Oleh: Haryo Pamungkas, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember

(br/jpk/mie/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia