Senin, 10 Dec 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Istri Dicerai setelah Kredit Motor

03 Juli 2018, 09: 15: 59 WIB | editor : Fandi Armanto

ono-ono ae, tole, minthul

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

KEPUTUSAN Minthul (nama samaran), 32, untuk nyicil motor agar tak selalu minta antar-jemput suaminya, malah jadi bumerang di rumah tangganya. Tole (juga nama samaran), 33, suaminya, meradang begitu mengetahui sang istri kredit motor. Alasannya, kredit motor itu justru membebani keuangan keluarga.

Tak hanya itu, keberadaan motor baru itu juga berpengaruh pada pengeluaran untuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Kondisi tersebut malah justru membuat pasangan suami-istri (pasutri) ini sering cekcok. Karena ribut terus, pernikahan mereka pun harus berakhir di Pengadilan Agama Bangil.

Minthul sendiri mengaku heran dengan sikap Tole. “Suami malah gak suka lihat istri senang. Padahal, saya juga membeli motor kredit dari keringat saya sendiri,” jelasnya. Selama ini, Minthul memang bekerja. Pasutri ini sama-sama bekerja sebagai buruh pabrik.

Tole memang tidak melarang Minthul untuk kerja. Maklum, Tole berharap istrinya itu bisa membantu kebutuhan keluarga. Ya, adik-adik Tole yang masih sekolah, butuh dukungan dana agar pendidikannya tidak berhenti di tengah jalan. Selama ini, memang Tole yang menjadi tulang punggung keluarga.

Hal itu juga menjadi alasan Tole mengajak serta Minthul untuk tinggal di rumahnya. Minthul sendiri sejatinya tidak mempermasalahkan jika harus membantu biaya pendidikan adik iparnya. “Ya saya anggap seperti adik sendiri. Toh, selama ini saya juga tetap ngasih untuk orang tua saya. Dan, Tole juga tahu hal itu,” jelasnya.

Karena itu, Minthul memang tak bisa berhenti kerja lantaran banyaknya tanggungan, baik keluarga besar Tole juga keluarganya sendiri. Namun selama ini, Minthul memang memberikan sekadarnya saja. Baru ketika ada sisanya, ditabung untuk kebutuhan lain-lain.

Nah, karena selama ini Minthul selalu kesulitan bepergian, muncul keinginan untuk memiliki sepeda motor sendiri. “Dulu waktu masih gadis, berangkat-pulang kerja dijemput sama bapak saya. Setelah menikah, ya diantar-jemput Tole. Tapi, kadang kala Tole gak bisa jemput karena shift kerjanya berbeda,” jelasnya.

Alhasil, Minthul mau tidak mau harus naik angkutan umum. Inilah yang menurutnya tidak efisien. Sayangnya, niatan untuk membeli motor selalu ditolak Tole. “Tapi, lama-lama saya capek juga karena lebih sering naik angkutan umum ketimbang diantar Tole. Ya sudah saya nekat ambil cicilan motor,” jelasnya.

Minthul yang tidak lagi meminta izin Tole untuk kredit motor, membuat suaminya muntab. Meskipun motor bekas dan tidak mengganggu gaji Tole, namun sang suami tetap berang. Setelah itu, Tole jadi sering mengungkit-ungkit uang pemberiannya. Tole juga berubah menjadi sangat pelit karena menganggap Minthul banyak uang.

Pertengkaran pun jadi sering terjadi. Tak hanya Tole, bahkan keluarga besar Tole juga ikut-ikutan protes pada Minthul. Tak tahan dengan situasi rumah, Minthul memilih pulang ke rumah orang tuanya.

“Padahal, saya juga sering kasih uang dan masih bantu biayai adik-adik Tole. Tapi mereka selalu curiga kalau saya boros dan suka sembunyiin uang. Capek selalu ada prasangka, saya minggat dan milih cerai saja,” katanya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia