Minggu, 23 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Kabut Kendeng

Senin, 18 Jun 2018 04:00 | editor : Muhammad Fahmi

cerpen, radar bromo, ruang publik, kabut kendeng

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

HUJAN lebat yang disertai angin kencang itu lebih terdengar seperti suara riuh teriakan orang-orang yang berunjuk rasa di telinga Hamdani. Tapi begitu kesadarannya kembali, yang ada justru hening mencekam, yang membangunkan kenangan-kenangan.

Pasti mertua perempuannya tengah berteduh di sebuah brak di sawah sana. Sudah lima harian ini perempuan itu seperti burung prenjak yang begitu gesit dan tak bisa anteng. Betapa pun kesedihan baru saja memukulnya telak. Dan kabut dari puncak-puncak Pegunungan Kendeng masih menguasai pagi.

“Hati-hati saja, Mak. Siapa tahu macan putih itu masih berkeliaran di sini,” pesan Hamdani dengan entengnya, saat Murjiah mengambil cangkul, caping, dan tangki penyemprot hama yang disimpan di rumah Hamdani (lantaran letaknya lebih dekat ke sawah). Pekerjaan yang mau tak mau harus dikerjakannya meski banyak menuai sanjungan bernada iba. Ada lima bahu sawah tinggalan suaminya yang sudah ia ambilkan buruh tani tersendiri. Sementara ia mengerjakan sawah warisan orangtuanya sendiri, sembari mengawasi para pekerjanya.

“Aku masih belum percaya kalau hewan itu masih ada di daerah sini,” sahut Murjiah, sebelum kemudian cerita perihal pesannya kepada Pak Lurah bahwa pencarian mayat suaminya sebaiknya masih terus dilakukan meski di sesela aktivitas harian. Betapa pun hanya sisa-sisa tubuh yang nanti ditemukan.

Hamdani menarik napas panjang, berusaha mendinginkan yang tiba-tiba memanas di dasar perutnya. Ia yakin semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Seperti tiga pekan lalu, ketika ia meyakinkan orang-orang yang ia temui diam-diam itu.

*    *    *


Tiga pekan lalu, Hamdani memutuskan untuk menemui mereka di sebuah rumah makan kecil area perbatasan kabupaten, di jalan Pantura yang berdekatan dengan Laut Jawa. Tempat itu tak begitu ramai, tapi cukup dikenal oleh mereka yang pekerjaannya menuntut keluar masuk kabupaten. Lantaran orang-orang yang mengenalnya sedikit kemungkinan akan singgah di tempat itu, Hamdani pun memilihnya sebagai tempat untuk mengurai segala rencana yang akan dan telah ia jalankan.

“Sang macan putih itu sudah menyelesaikan semuanya,” berganti-ganti Hamdani menatap lima orang yang satu meja makan dengannya. Bau amis pantai tak begitu berarti baginya.

“Jadi yang kau ceritakan kemarin itu benar-benar ada?” tanya lelaki yang berjaket abu-abu dengan dalaman kemeja abu-abu. Kemeja yang membawa nama tempat mereka bekerja.

Pertanyaan itu membuat Hamdani menghela napas pendek, teringat dengan pertemuan mereka di tempat yang sama tiga bulanan silam.

“Siapa dia?” tanya lelaki berjaket abu-abu dengan dalaman kemeja abu-abu ketika itu.

“Ya macan,” Hamdani mengelap mulut setelah menelan suapan terakhir. “Warnanya putih.”

“Bukankah harimau Jawa sudah lama punah?” tanya lelaki itu lagi.

“Apakah kalian pernah mendengar perihal hewan penunggu?” ujar Hamdani.

“Kedengarannya seperti takhayul. Bagaimana takhayul bisa mengubah kondisi yang seperti sekarang?” yang berjaket hitam dengan dalaman kemeja coklat bertanya. Sesekali menoleh ke kendaraan yang melintasi jalan raya.

“Orang-orang di sana masih percaya tentang mitos hewan itu,” Hamdani menoleh ke sekeliling, mengamati orang-orang yang lalu-lalang dalam rumah makan itu. Entah mengapa tiba-tiba tengkuknya merinding.

“Lalu?” susul yang berjaket coklat dan bertopi hitam.

“Aku ingin memastikannya sekali lagi, apa yang kalian janjikan kepadaku kemarin benar-benar akan ditepati?” menyeruput kopi hangatnya. Bau harumnya mengalahkan bau amis laut.

“Kami siap menjadi penyuplai, seberapa pun kamu butuh. Tanpa agunan,” jawab yang berjaket abu-abu tadi, mencomot pisang goreng. “Memangnya, seberapa besar tokomu?”

Kalimat terakhir itu menyulut kenangan terpahit Hamdani dua tahun silam, sebelum akhirnya ia memutuskan menjadi seorang sales produk makanan ringan berlogo kelinci. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya pernah ia cibir dan benci.

“Belum punya pekerjaan tapi nekat menghamili anak orang! Apa kau pikir aku membesarkannya hanya untuk kau incip sebelum bayar?!” gelegar amarah lelaki itu, tanpa segan menguliti Hamdani di hadapan banyak mata.

Pandangan Hamdani lekat menghunjam lantai rumahnya. Ia tak kuasa mengangkat wajah, bahkan untuk sekadar melihat isak tangis Istianah yang turut dalam rombongan itu. Suara televisi di ruang tengah yang belum dimatikan seakan turut mengejeknya.

Hamdani tak menyesal atas apa yang telanjur terjadi. Orang-orang itu toh tak pernah mengerti apa itu cinta, bagaimana rasa mabuk dan tanggungan rindunya. Yang Hamdani sesalkan dan sangat ia benci, mengapa ia harus dipermalukan sedemikian rupa? Padahal anak perempuannya juga akan turut menanggung malu.

Bahkan hingga bayi laki-laki itu lahir, setiap ada kesempatan, Hamdani pasti akan diciprati sindiran.

“Aku kasih nama Iman Sugiharto saja. Dia akan jadi orang berada, tapi imannya tetap teguh tak terjerumus perbuatan buruk seperti lanjarannya. Ya biar saja simbahnya yang kasih nama. Lha wong aku yang membesarkan, merawat, dan keluar ragad untuk semuanya kok,” ujaran lelaki itu begitu meruncing di telinga Hamdani.

Kemudian Hamdani tahu bahwa ia memelihara benci yang kemudian berbuah dendam.

Menjadi sales membuat Hamdani sadar bahwa dendamnya itu butuh penopang yang lebih besar untuk menjalankannya. Pekerjaan itu pun menjadi semacam siksaan ringan yang tiap harinya semakin menyuburkan perasaan benci.

“Seharusnya kamu lebih bersyukur ketimbang aku. Meskipun perkerjaannnya berpeluh-peluh begini, bukankah setidaknya kau bisa mencukupi anak istrimu? Apalagi rumah sudah kau dapat, pangan pun tercukupi. Aku dengar sawah mertuamu berhektar-hektar, membentang dari utara sampai selatan Tambakromo. Apa sih yang membuatmu kurang nyaman dan mengeluh melulu?” tutur Teguh, kawan di jalan yang menariknya ke dunia sales itu.

Teguh memang tak pernah tahu perihal latar belakang Hamdani. Mereka bertemu di sebuah pertandingan badminton tak resmi di sebuah gedung olahraga yang disewakan. Teguh ingin dekat lantaran baru kali itu ia mendapatkan lawan tangguh yang ia pikir bisa diajak memancing keringat sewaktu-waktu. Tanpa pernah menyangka kalau Hamdani seorang pengangguran.

“Dipelihara mertua memang berat. Kalau tak bisa menampakkan diri, kita akan dianggap tak pernah ada. Aku paham keluhanmu. Tapi mbok yo hidup ini dinikmati juga. Kemarin kau bahkan bisa mengalahkanku. Ayo tanding lagi!”

Hamdani menatap jengkel, tapi merasa beruntung juga lantaran mendapatkan kawan seperti Teguh ini.

“Setiap ketemu denganku, keluhanmu itu lampiaskan saja lewat smash-smash mematikan, oke?! Daripada merusak jantung!”

Hari-hari Hamdani memang terasa seperti suasana desa kala tersaput kabut yang turun gunung. Sesekali waktu datang pula penyesalan mengapa ia jatuh hati dengan Istianah. Tapi begitu melihat bayi lelakinya, Hamdani pun kemudian berpikir bahwa bukanlah mereka biang keladi yang menyebabkan penderitaan batinnya.

Hingga akhirnya enam bulan persis sebelum pertemuan pertama di rumah makan itu, Hamdani menemukan titik terang yang kemudian menjadi benih atas rencana besarnya. Ketika itu Desa Keben tengah disiagakan oleh desas-desus kemunculan macan putih yang turun gunung. Orang-orang desa meyakini bahwa kemunculan binatang yang dimistiskan itu berhubungan dengan rencana beberapa perusahaan besar mengeksploitasi gamping dari lereng Pegunungan Kendeng.

Kabar berita itu semakin menguar dan seolah menjadi penyemangat orang-orang yang beberapa bulan belakangan rajin mengadakan protes terhadap Pemkab yang kurang peka dengan kekhawatiran para warga. Bahwa eksploitasi besar-besaran itu nanti akan membunuh puluhan mata air di Kendeng.

*    *    *


Hamdani sering bilang kepada para tetangga atau pun para kenalannya yang senang melumur-lumuri kabar kemunculan macan putih itu dengan kemistisan, bahwa macan tetaplah macan. Hewan buas itu memiliki naluri pemangsa, apalagi jika terdorong dendam lantaran ketentramannya yang mulai terusik. Ia bisa memangsa siapa pun tanpa pandang bulu, bahkan mungkin orang-orang yang justru merasa bersyukur dengan kemunculannya.

Begitu pula yang Hamdani yakinkan kepada orang-orang yang ditemuinya di rumah makan itu.

“Aku bisa memberimu dalam bentuk uang kalau kau mau,” ujar yang berjaket hitam.

“Aku bisa memberimu posisi sebagai mandor, kalau kau serius dengan ucapanmu,” disusul yang memakai jaket abu-abu, sembari menatap lurus Hamdani.

“Tentu saja aku serius,” rahang Hamdani mengeras. Perasaan aneh ketika ia bercerita mengenai macan putih itu muncul kembali. Menumpuk dan berpusar di bawah perut.

“Orang-orang di sana sangat percaya tentang mitos hewan itu,” Hamdani menoleh ke sekeliling, mengamati beberapa orang yang lalu-lalang dalam rumah makan.

“Lalu?” susul yang berjaket coklat dengan dalaman kemeja oranye.

Jika saat pertemuan pertama Hamdani tak begitu yakin dengan ceritanya sendiri, tapi pada pertemuan kali ini Hamdani sudah sangat yakin dengan apa yang ia ceritakan.

“Meski mayatnya belum bisa ditemukan sampai hari ini, tapi kemarin malam kami tetap mengadakan acara seratus hari kematiannya. Jika kalian ingin tahu siapa orangnya, akulah yang menuntunnya ke hadapan si macan putih.”

“Benarkah?” sahut yang berjaket abu-abu dengan tatapan ragu.

“Apa ucapanmu bisa dipegang?” kejar yang berjaket hitam. “Kau membiarkan mertuamu dimangsa binatang buas?” geleng-geleng kepala.

“Apa aku harus ikut mati dengannya?” Hamdani meradang, tersulut bara yang ternyata belum sepenuhnya padam. “Mengenai orang-orang yang masih sering membuat kalian jengkel, itu sudah bukan urusanku lagi. Mereka jelas di luar jangkauanku.”

Tiba-tiba hening. Keberadaan mereka seolah tertelan keramaian rumah makan yang meski tak seberapa. Kelima orang berjaket itu menatap Hamdani setengah percaya. Tapi Hamdani tak peduli lagi. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam demi mengusir perasaan aneh yang muncul tiap kali bercerita perihal macan putih yang kini telah memakan korban jiwa. Bahwa kadangkala, ia percaya kalau macan putih itu adalah sebangsa roh jahat yang dapat merasuki siapa pun di saat-saat hatinya tersulut dendam amarah tak tertanggung. Meski tahu perilakunya itu percuma dan hanya menimbulkan semacam kegugupan saja.

Hamdani telah hafal bahwa cara terampuh untuk mengusir perasaan aneh itu adalah dengan mendatangi Istianah dengan sepenuh cinta, sembari bercerita tentang masa depan mereka yang akan semakin cerah. Tapi tentu saja ia harus memastikan janji orang-orang ini sekarang. Masa depan tak boleh seperti masa lalunya.*



Oleh: Adi Zamzam, Kalinyamatan – Jepara, 2017.

(br/jpk/mie/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia