Minggu, 19 Aug 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Menikmati Puasa di Negeri Orang (28)

Di Yaman, Salat Tarawih Tak Digelar Serentak

Rabu, 13 Jun 2018 15:00 | editor : Fandi Armanto

berpuasa, puasa, ramadan, 1439 h, 2018, di luar negeri, di negeri orang, yaman

MERANTAU: Muhammad Abdu (berdiri, dua dari kiri) bersama teman-temannya di Darul Musthafa Pesantren Habib Umar, Tarim, Yaman. (Dok. Pribadi)

RAMADAN kali ini merupakan tahun kedua bagi Muhammad Abdu, 21, menikmati Ramadan di Yaman. Warga Kelurahan Sidomukti, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang melanjutkan studinya di Al-Ahgaff University itu pun merasakan sejumlah perbedaan antara puasa di kampung halaman dan negeri orang.

--------------

Ada beberapa pernyataan mengenai penamaan Ramadan. Salah satu di antaranya, ada yang menyebut dinamai Ramadan karena memuncaknya musim panas. Hal itulah yang dirasakan Muhammad Abdu.

Menurutnya, saat ini cuaca di Yaman cukup menyengat. Lantaran itu, aktivitas banyak dilakukan saat sore dan malam hari. Bahkan, pendidikan akademi seperti sekolah-sekolah formal dan universitas diliburkan di musim panas ini.

Masyarakat mengganti dengan mengaji kitab-kitab kuning klasik mengenai kajian bulan Ramadan di majelis-majelis ilmu dan zikir yang diisi oleh para ulama, masyayikh, serta habaib. Kajian kitab kuning itu diadakan dari sehabis salat Asar sampai menjelang Subuh.

Dari segi waktu, tak ada perbedaan mencolok antara puasa di Yaman dan Indonesia. Yakni, sekitar 15 jam-an. Yang menarik, di kota Tarim -kota yang Muhammad Abdu tinggali sekarang- saat malam Ramadan, umat muslim berlomba-lomba beribadah.

Salat tarawih di masjid-masjid tak digelar dalam waktu serentak sehabis Isya seperti di Indonesia. Tapi, diatur dengan jadwal sedemikian rapi di masjid-masjid secara bergantian. Mulai sehabis Isya sampai menjelang sahur.

Dengan fenomena itu, tak mengherankan bila seseorang dapat melaksanakan salat tarawih hingga sebanyak seratus rakaat dalam kurun waktu semalam suntuk. “Hal ini sudah menjadi kebiasaan penduduk Tarim yang dikenal sebagai kota ilmu dan ulama,” cerita Muhammad.

Sedangkan dari segi makanan tentu sangat berbeda. Menu bakso, kolak, dan menu lain di Indonesia tak ditemukan di Yaman. “Kecuali kami sendiri yang membuat dan memasaknya. Jadi, hidup di negeri orang itu juga harus mandiri,” terang Muhammad Abdu.

Saat takjil, menu yang akrab dijumpai di Yaman adalah menu-menu khas negara timur tengah. Seperti kurma, sambosa, syurbah (bubur daging kambing), haritsah (adonan dodol kambing), dan aneka menu khas setempat.

“Ada juga sebagian pelajar Indonesia yang berinisiatif untuk membuat kuliner Indonesia kemudian dijual sebagai obat rindu kuliner Indonesia,” terang pemuda kelahiran 16 Februari 1997 itu.

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum di Al-Ahgaff University ini mengaku, dengan adanya sejumlah perbedaan itu, Muhammad mengaku harus pandai-pandai menjaga kondisi tubuhnya. Agar ia selalu fit dan bisa menjalankan ibadah dengan baik. Caranya pun tak terlalu ribet. Ia cukup mengatur waktu istirahat dan minum yang cukup usai berbuka.

Muhammad sendiri di tahun awal saat studi di Yaman banyak dibantu senior-seniornya yang asal Indonesia. Terutama dari Asatidz dan kakak kelas dari Indonesia maupun dari luar negeri.

Muhammad yang asli kelahiran Probolinggo itu sendiri masuk di universitas tersebut melalui program beasiswa penuh dari pihak universitas yang diadakan Al-Ahgaff Official Indonesia. “Dengan beasiswa, saya bisa sedikit membantu meringankan orang tua,” terangnya.

Pihaknya ingin merasakan apa yang para ulama terdahulu rasakan. Yakni, manisnya bermusafir menutut ilmu. “Imam Syafii pernah berkata; Aku melihat air menjadi rusak karena diam dan tertahan, jika mengalir menjadi jernih, jika tidak akan keruh menggenang. Singa jika tidak tinggalkan sarang, tidak akan mendapatkan mangsa," terangnya mengutip Imam Syafii.

Yaman dipilih menjadi tempat melanjutkan studinya karena keutamaan Yaman jelas disebutkan Rasulullah. Hubungan kuat antara Indonesia dan Yaman seperti hubungan genealogi Wali Songo dan para habaib yang berasal dari Hadhramaut-Yaman. Yaitu, hubungan ajaran berislam, kultur bermadzhab yang masih kental didominasi oleh madzhab Syafii, toleransi, moderat, dan hidup kerukunan antar madzhab Syafiiyah, Hanafiyah, dan Zaidiyah.

Sehingga, dinilai cocok untuk membangun reseptif terhadap perbedaan. “Terakhir, karena Yaman memiliki lingkungan yang kondusif serta nyaman untuk pelajar,” bebernya.

(br/hil/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia