Senin, 20 Aug 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Menikmati Puasa di Negeri Orang (26)

9 Tahun Ramadan di Jepang

Senin, 11 Jun 2018 16:00 | editor : Fandi Armanto

berpuasa, puasa, ramadan, 1439 h, 2018, di luar negeri, di negeri orang, jepang, japan

BERSAMA PERANTAU: Arief Junaedi (berkacamata) saat berbuka puasa bersama kawan-kawannya. (Dok. Pribadi)

TINGGAL dan menetap di Jepang selama 9 tahun, membuat Arief Junaedi, warga Probolinggo, terbiasa menjalankan puasa Ramadan di luar negeri. Meski demikian, tetap ada perasaan berbeda menjalankan ibadah di Jepang.

----------

Berpuasa Ramadan di negeri yang minoritas muslim sangatlah mempengaruhi perasaaan. Inilah yang dirasakan Arief Junaidi tentang kondisinya menjalankan ibadah puasa Ramadan di Jepang. Meski sudah 9 tahun berpuasa di Jepang, tetap ada perasaan berbeda. Terutama karena jauh dari keluarga.

"Perasan gembira, dan senang langsung mencuat, karena di bulan inilah dosa-dosa kami diampuni, dan doa-doa kami didengar. Namun, perasaan sedih muncul begitu saat salat tarawih pertama. Di kanan dan kiri bukan keluarga. Melainkan sahabat-sahabat terbaik kami," ujar warga Jl. A. Yani Gg. Plasa Telkom No 31 C Kota Probolinggo ini.
Arief yang berprofesi sebagai perawat medis adalah alumni Poltekkes Malang. Pada 2006-2007 dia bekerja di Rumah Sakit Islam Malang. Lalu, pada 2007-2009 bekerja di Intenational SOS Jakarta. Dia lantas ikut program ekonomi G to G Indonesia-Jepang di bidang keperawatan pada 2009.

Begitu sampai di Jepang pada 2009, dia berkerja di rumah sakit Kobe-Jepang. Lalu pada 2013 lulus Registarsi Nurse (RN) Jepang yang digelar Pemerintah Jepang. Dan pada 2014 sampai sekarang, bekerja di Nursing Home Yokohama.

Praktis, sudah 9 tahun dia di Jepang yang merupakan negara sub tropis. Sebagai negara sub tropis menurutnya, puasa di Jepang lebih lama daripada di Indonesia. "Di jepang puasa dilakukan selama 16 jam," ujarnya.

Meski di sini muslim adalah agama minoritas, Arief masih bisa merasakan suasana Ramadhan di Tokyo. Terutama di masjid-masjid yang ada di Tokyo. Arief pun mendatangi sejumlah masjid yang ada di sana selama Ramadhan. Masjid-masjid itu memberikan takjil khas masing-masing. Sehingga, warga yang datang bisa merasakan kekhasan di setiap masjid.

"Ketika berkunjung ke Masjid Camii (masjid Turki) kami disuguhi masakan ala Turki. Ada juga masjid Hiroo Tokyo (Masjid Arab). Maka hidangannya pun ala Arab. Tapi begitu ke Masjid Indonesia Tokyo (MIT), kami akan bisa menyantap makanan ala Nusantara. Ada tahu isi, kolak, sambal, sate dan macam-macam. Khusus Ahad karena ada Tabligh Akbar, menu buka puasa dibuat ala prasmanan," ujarnya.

Meskipun waktu berbuka puasa lebih lama, namun itu tidak mengubah aktivitas sehari-hari Arief. "Akitivitas saat bulan Ramadhan di Jepang tidak ada yang berubah. Jam kerja, jam sekolah tidak ada perubahan," ujarnya.

Yang berubah adalah akitivitas amal sholeh. “Alquran diturunkan saat bulan Ramadhan. Jika di bulan-bulan biasa kami hanya mampu membaca selembar Alquran, maka di bulan yang penuh rahmat ini kami mencoba memaksimalkan bacaan Alquran,” lanjutnya.

Meskipun jauh dari keluarga, Arief tidak merasa sepi dan kesepaian. Sebab, banyak "keluarga" dari Indonesia di dekatnya.

"Organisasi Islam seperti KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) juga menggelar buka puasa bersama setiap hari di Sekolah Republik Indonesia Tokyo," ujarnya.

Ada juga salat taraweh berjamaah, tabligh akbar tiap pekan (Ahad) yang diisi ustadz dari Indonesia. Dan setiap Ahad pagi ada shubuh berjamaah di Masjid Indonesia Tokyo (MIT), sahur bersama dan lain-lain.

Berada di negara subtropis menurutnya, jelas perlu penyesuaian dibading puasa di negara tropis. "Namun karena puasa sudah dilatih sejak dini, tidak ada cara khusus menyiasati diri untuk puasa di negri minoritas muslim," ujarnya.

Yang perlu diperhatikan menurutnya, mengurangi aktivitas yang bisa mengurangi pahala puasa. “Jangan sering-sering keluar rumah untuk ngabuburit karena godaannya besar banget. Cara pakaian musim panas di Jepang tentu berbeda dengan musim dingin," tambahnya.

Sedangkan di tempat kerja, menurut Arief untuk beban kerja sudah dikurangi. "Karena dari pihak nursing home (rumah perawatan) itu juga menyadari bahwa umat Islam sedang berpuasa," ujarnya.

(br/jpk/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia