Rabu, 19 Sep 2018
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Pembangunan RSIA Amanah Disorot, Ini Penyebabnya

Jumat, 18 May 2018 09:00 | editor : Muhammad Fahmi

HEARING: Suasana hearing membahas dampak perluasan RSIA Amanah.

HEARING: Suasana hearing membahas dampak perluasan RSIA Amanah. (Ridhowati Saputri/ Radar Bromo)

MAYANGAN-Pembangunan fisik perluasan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Amanah, disoal warga.  Salah satu sebabnya, pembuangan limbah medis dan nonmedis yang dinilai tidak sesuai aturan. 

Keluhan itu disampaikan saat rapat dengar pendapat (RDP), Selasa (15/5) malam yang dihadiri perwakilan dari Komisi I dan Komisi III. Mochamad Yahya,  warga jalan dr Saleh yang mengadukan kondisi itu, juga hadir. 

Hadir pula dr Aminudin dari RS Amanah serta perwakilan dari sejumlah OPD. Seperti Satpol PP,  Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

Menurut Yahya –panggilannya-, rumahnya bersebelahan dengan gedung rumah sakit yang sedang dibangun. Dan pihaknya terganggu dengan aktivitas pembangunan itu. “Kegiatan pembangunan rumah sakit sangat mengganggu. Suara besi, orang ngecor. Ini membuat saya sulit istirahat,” ujarnya.

Yahya juga mengeluhkan asap pembakaran sampah limbah medis yang dilakukan RSIA Amanah.  Asap pembakaran itu menurutnya, mengganggu kesehatannya.

Dia pun mempertanyakan komitmen rumah sakit dengan dirinya, terkait pembangunan rumah sakit itu. Komitmen tersebut di antaranya, tidak membangun rumah sakit lebih dari 3 lantai, dan tidak membangun jendela pada sisi yang berbatasan dengan rumah Yahya. 

“Awalnya saya mendengar rumah sakit tersebut akan dibangun tujuh lantai. Namun, akhirnya disepakati menjadi tiga lantai,” ujarnya.  

Bahkan ada kabar, RSIA Amanah akan dikembangkan menjadi rumah sakit umum. Rencana itu, dikhawatirkan akan menggangu lingkungan sekitar, terutama berkaitan dengan lahan parkir yang terbatas. 

dr Aminudin, pemilik RSIA Amanah mengungkapkan, pembangunan fisik sudah pasti menimbulkan kebisingan. “Namun, ini hanya akan berjalan sekitar 3 bulan saja. Terkait kebisingan karena pengecoran, itu tidak dilakukan setiap hari,” ujarnya.

Untuk rencana pembangunannya, dr Aminudin menjelaskan, telah dilakukan analisis kebutuhan ruang. Termasuk penyediaan lahan parkir untuk kendaraan. Sehingga, akan dibangun 3 lantai. 

“Rencananya, di lantai 1 sebagian digunakan untuk parkir. Kami tidak mungkin membangun jumlah lantai sekian banyak karena butuh modal yang besar. Untuk membangun 1 lantai saja minimal dibutuhkan Rp 2,5 miliar,” jelasnya.

Mengenai adanya jendela pada bagian dinding yang berbatasan dengan rumah Yahya, politisi Gerindra itu menegaskan, jendela disediakan demi keamanan pasien. “Namun, jendela itu akan ditutup dengan kaca. Adanya jendela sebagai keamanan jika terjadi kebakaran, ada pintu keluar yaitu kaca tersebut,” jelasnya.

dr Aminudin juga membantah ada pembakaran limbah medis. Sebab, sejak 1 tahun terakhir RSIA Amanah melibatkan pihak ketiga untuk membuang limbah B3 dan limbah medis.

“Sekarang tidak boleh lagi membakar sampah medis. Harus melibatkan pihak ketiga dan kami sudah melakukan itu. Sudah 1 tahun kami tidak membakar sampah medis,” lanjutnya. 

Sementara itu, Ahmad Sudiyanto, Plt kepala Dinas Penanaman Modal dan pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menjelaskan, sejak 2017 RSIA Amanah mengajukan perluasan bangunan ke Wali Kota. “Pada November 2017 disposisi turun untuk menindaklanjuti perluasan tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya, dilakukan proses izin prinsip.  Proses izin prinsip mengacu pada izin sebelumnya dan tata ruang.  

Dilakukan rapat tim teknis PUPR,  Pertanahan,  Dishub,  Kecamatan,  Kelurahan,  Dinas Kesehatan,  Satpol PP.  Tim teknis setuju diterbitkan izin prinsip.  Sehingga, izin perluasan terbit Januari 2018.

“Yang mengukur dan menganalisis konstruksi adalah Dinas PUPR.  Hasil pengukuran Dinas PUPR menjadi acuan Dinas Perizinan untuk mengeluarkan izin,” ujarnya. 

Heru Margianto, Kabid Tata Penataan Lingkungan DLH membenarkan jika dari RSIA Amanah telah ada perjanjian kerja sama pengangkutan limbah B3. Yaitu, dengan dua perusahaan sejak tahun 2016. 

“Kami juga telah mengecek mesin untuk pembakaran limbah medis milik RSIA Amanah. Kami tidak menemukan bekas pembakaran. Ruangan itu bersih,” ujarnya. Namun, DLH meminta agar pembangunan RSIA Amanah merevisi Dokumen UKL UPL.

Abdul Azis, ketua Komisi I menjelaskan bahwa dalam RDP tesebut belum dikeluarkan rekomendasi. “Rekomendasi akan dikeluarkan setelah sidak ke lapangan yang rencanya dilakukan 24 Mei.  Karena UKL UPL juga baru akan disidangkan di DLH,” ujarnya. 

(br/put/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia