Rabu, 19 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

Aliran Radikal di Kota Probolinggo Sudah Terdeteksi sejak Lama

Kamis, 17 May 2018 12:45 | editor : Muhammad Fahmi

DIJEMPUT DENSUS 88: Densus 88 saat menjemput terduga teroris di Jalan Taman Puspa Indah, Perum STI Probolinggo.

DIJEMPUT DENSUS 88: Densus 88 saat menjemput terduga teroris di Jalan Taman Puspa Indah, Perum STI Probolinggo. (Rizky Putra DInasti/ Radar Bromo)

KANIGARAN - Penangkapan tiga terduga teroris di Perumahan Sumber Taman Indah, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis dinihari (17/5) juga jadi perhatian pemkot setempat. Sekretaris Daerah Kota Probolinggo dr Bambang Agus Suwignyo meminta masyarakat waspada dan tetap tenang terhadap kabar tersebut.

Saat ditanya adanya kelompok dengan aliran radikal di Kota Probolinggo, Bambang Agus membenarkan jika di Probolinggo memang ada kelompok tersebut. Ia menjelaskan dulu pernah ada kelompok yang sifat dalam pemahaman keagamaan berbeda dengan muslim pada umumnya.

Lantaran itu, pemkot pun meminta kelompok tersebut untuk diwaspadai. Agar gerakan mereka bisa terawasi untuk tindakan yang tidak diperkenankan seperti yang terjadi baru-baru ini.

Adakah upaya yang dilakukan pemkot terkait adanya kelompok tersebut? Sekda seperti dilansir dari web Humas dan Protokol Pemkot Probolinggo menjawab, pembinaan sebenarnya sudah dilakukan kepada mereka.

Sosialisasi pun sudah pernah oleh Pemerintah Kota Probolinggo, MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun pernah turun untuk memberikan pemahaman pada mereka.

TKP PERTAMA: Polisi saat mensterilkan lokasi penggeledahan pertama di Jln. Taman Tirta 4 Blok BB  Kel. Sumbertaman RT 04 RW 08 Kec. Sumbertaman, Rabu malam (16/5)

TKP PERTAMA: Polisi saat mensterilkan lokasi penggeledahan pertama di Jln. Taman Tirta 4 Blok BB Kel. Sumbertaman RT 04 RW 08 Kec. Sumbertaman, Rabu malam (16/5) (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

“Alhamdulillah aktifitas mereka dapat kami pantau, kami eliminasi, kami kurangi kegiatan ekstrem dengan pemantauan oleh aparat dan pemerintah,” ucap Bambang Agus.

Pemerintah Kota Probolinggo pun mensupport apa yang dilakukan kepolisian dalam mengungkap kasus terorisme, agar Kota Probolinggo aman, terkendali, kondusif dan tidak terjadi hal yang tidak dilakukan.

“Densus 88 dan Polres Probolinggo Kota bersama Kodim 0820 sudah berupaya memberikan ketentraman. Saya berharap masyarakat tidak gelisah dengan adanya aksi teror bom. Serta tidak terpengaruh isu karena kasus ini sudah ditangani,” tegas sekda.

Ia pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berita yang beredar di media sosial (medsos). Sebab, saat ini tren hoax sangat tinggi. Masyarakat harus mengecek kebenarannya, tidak mudah men-share berita yang belum jelas sumbernya.

“Masyarakat harus cerdas, apakah itu hoax atau bukan. Karena di medsos, itu gampang sekali dimunculkan (berita hoax),” jelasnya.

Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal juga membenarkan bahwa gerak-gerik tiga terduga teroris itu sudah dipantau. “Sudah kami identifikasi. Tentunya Densus 88 juga sudah punya data yang tepat,” jelas perwira polisi dengan dua melati di pundaknya itu.

Pemetaan MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo seperti yang dilansir JawaPos.com/Radarbromo pada 19 Februari lalu, juga memetakan ada empat titik ajaran aliran keras di Kota Probolinggo. Keempat titik aliran keras itu tersebar di seluruh Kota Probolinggo. Keempat titik itu juga sudah dipantau MUI.

Menurut Sekertaris Komisi Dakwah di MUI Kota Probolinggo Ghufron Hadi, ada bermacam-macam aliran keras. Namun, di Kota Probolinggo, yang paling dikenal adalah aliran Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT).

JAT, kata Ghufron Hadi, merupakan pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Selanjutnya, JAT juga terpecah lagi, yakni Jama’ah Anshorut Syari’ah (JAS). Nah, dari hasil pemantauan MUI sendiri, di Kota Probolinggo, aliran JAT ada empat titik.

“Dari empat titik itu, saya tidak tahu mana yang masuk JAT dan mana yang masuk JAS. Yang jelas keduanya sama-sama aliran keras,” terangnya.

Adapun empat titik tersebut yakni di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih; Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan; Kelurahan Jrebeng Lor dan Sumberwetan, Kecamatan Kedopok.

Untuk jumlah jamaah keseluruhan dari yang dewasa sampai yang kecil, diperkirakan sekitar 50 orang.  Menurut pria yang juga sebagai Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PC LDNU), pertumbuhan organisasi tersebut tak terlalu pesat. Bahkan, kebanyakan orang yang ikut bukan berasal dari Probolinggo. Kebanyakan adalah pendatang.

“Jika ada orang Probolinggo yang ikut, maka presentasenya sangat kecil, bahkan 0,001 persen dari jumlah warga Kota Probolinggo,” tambahnya.

Selain itu, juga dugaan organisasi JAT yang ada di Sumbertaman berencana akan mendirikan pondok pesantren. Namun, rencana itu mendapat respons dari warga RT 1/RW 6, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, yang langsung melakukan penolakan.

Penolakan itu dilakukan dan ditandai dengan tanda tangan sejumlah warga sekitar. Termasuk dari RT dan RW. 

Sehingga untuk pembangunan pondok pesantren tersebut tidak dilakukan. Surat penolakan itu diberikan pada tanggal 5 Februari lalu.

Adapun isinya, ada tiga poin penting. Pertama, warga sekitar mufakat menolak dengan rencana pembangunan pondok pesantren. Kedua, apabila ada material yang akan digunakan untuk membangun pondok pesantren  terlanjur ada di lahan yang akan digunakan, warga sepakat untuk diambil kembali/dipindahkan oleh yang bersangkutan/pemilik bahan bangunan tersebut.

Terakhir, warga sepakat bahwa aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh warga, adalah aktivitas yang sudah rutin dilaksanakan oleh warga sekitar. Seperti sarwean dan kegiatan rutin keagamaan lainnya yang sudah berkembang selama ini.

“Warga yang tak sepakat melakukan rembukan. Dan, didapati kesepakatan adanya penolakan pembangunan  pondok pesantren mengingat ajaran dapat memicu konflik. Untuk surat penolakan itu, juga diketahui oleh MUI, Babinsa, Linmas, termasuk Polsek,” tandasnya.

Ketua MUI  Kota Probolinggo Nizar Irsyad menambahkan, pihaknya belum mengadakan pemetaan secara detail. Namun, MUI sudah mempunyai data awalan mengenai gejala gerakan yang cukup meresahkan tersebut. Termasuk soal tokoh-tokohnya dan isi pemahaman keagamaannya.

Adapun tindakan yang dilakukan yakni secara berkala sudah mengambil langkah untuk membendung gerakan tersebut. Dengan mengoptimalkan kegiatan dakwah melalui majelis pengajian dan seminar serta workshop kepada pimpinan-pimpinan organisasi masyarakat untuk pendalaman keagamaan yang benar dan damai.

(br/mie/fun/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia