Senin, 20 Aug 2018
radarbromo
icon-featured
Liputan Khusus

Program Pemprov Tak Maksimal, Sapi Curian Sulit Diidentifikasi

Jumat, 11 May 2018 12:00 | editor : Fandi Armanto

pencurian, sapi, hewan, ternak, curwan, maling, marak

DIMALING: Salah seorang warga tampak menunjukkan kandangnya yang dibobol maling. Belakangan aksi pencurian hewan ternak di Probolinggo marak dan perlu antisipasi. (Dok. Radar Bromo)

PROGRAM kepemilikan sapi yang digalang provinsi, nyatanya tak cukup memberikan dampak pada hewan yang dicuri. Pasalnya, jika sapi itu hilang, maka tidak dapat diidentifikasi ketika ada di pasar sapi atau pada saat penjualan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Produksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Suryanto. Bahkan, Suryanto mengaku, jika program kepemilikan ternak dengan cara mendaftarkan ke Dispertan tak lagi berjalan.

Karena itu, jika ada sapi hasil curian yang dijual di pasar, maka tak dapat diidentifikasi milik siapa. Solusi lain yang dilakukan, yakni dengan meluncurkan program dari pemerintah pusat mulai tahun 2016 lalu. Sapi bisa diasuransiakan melalui program Asuransi Ternak Sapi Potong (ATSP).

Sehingga, jika sapi yang diasuransikan hilang, maka akan mendapatkan ganti Rp 10 juta per ekornya. Baik yang berukuran kecil atau besar. Dengan catatan sapi mulai bisa diansuransikan minimal berumur setahun. “Untuk pembayaranya sendiri hanya Rp 200 ribu tiap tahun per ekornya,” terangnya.

Cara pendaftaranya pun tak sulit. Cukup dengan memberitahukan pada petugas yang ada di tiap daerah. “Jika sudah diansuransikan, tiga hari kemudian hilang. Maka sesuai kesepakan yang ada, pemerintah akan menggantinya senilai Rp 10 juta per ekor. Uangnya langsung dikelola pemerintah pusat melalui provinsi.

“Jika sapi mati atau hilang juga akan mendapatkan asuransi. Dengan catatan, jika mati karena sakit, harus ada keterangan dari dokter hewan setempat. Kalau hilang harus ada bukti dari kepolisian,” tambahnya. Ia berharap, dengan adanya program ATSP ini, masyarakat banyak yang mengansuransikan sapi miliknya.

Hal senada dilakukan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Kabupaten Probolinggo. Mereka mendata hewan ternak yang ada di daerahnya. Pendataan itu dilakukan oleh pihak pemerintah desa. Sekaligus menerbitkan Surat Kepemilikan Ternak (SKT).

“Dari hasil pendataan ini, nantinya setiap ternak yang ada di Kabupaten Probolinggo akan memiliki kartu ternak. Output-nya yaitu diharapkan dari hasil pendataan nanti bisa mengurangi kasus curwan,” ujar Kabid Perbibitan dan Produksi Ternak pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Amir Syarifuddin.

Pendataan atau registrasi itu sendiri dilakukan secara gratis. Alias tidak dipungut biasaya lantaran dibiayai oleh dana desa. “Ini sifatnya gratis kan didanai oleh dana desa,” tambahnya.

Menurut Amir -sapaan akrabnya-, kegiatan itu sesuai dengan Perda Nomor 2/ 2010 tentang Pendataan Hewan. Bukan kali ini saja dilakukan, tetapi sudah diimplementasikan pada 2010 lalu. Tetapi, tidak berjalan secara maksimal.

“Ya, karena warga enggan mengikuti pendataan. Sebab, waktu itu untuk membuktikan bahwa ternak tersebut adalah miliknya harus ada identitas resmi berupa anting. Sementara peternak enggan melubangi telinga ternaknya. Itu, karena akan menurunkan harga jual ternak sebab dirasa cacat.

Lebih lanjut, untuk melakukan pengantingan kepada hewan ternak, pemkab tidak memiliki anggaran yang cukup. Sehingga, hal itu berjalan tidak efektif pada waktu itu. Pasalnya sekali pengadaan membutuhkan biaya Rp 50 ribu.

“Populasi ternak baik sapi, kambing, domba, dan kuda, mencapai sekitar 270 ribu ekor. Jika pengadaan anting dilakukan, tentunya menyedot anggaran Pemkab Probolinggo secara besar,” ulasnya.

Tahun ini, Perda itu diimplementasikan secara matang. Selain itu, juga direncanakan pada tahun depan, seluruh ternak sudah terdata. Jika sudah terdata, bisa berguna bagi pembibitan ternak seperti kebutuhan kawin suntik dan juga pelacakan jika terjadi pencurian hewan.

(br/fun/sid/rpd/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia