Sabtu, 22 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Liputan Khusus

Sarankan Pakai Kandang Komunal, Upaya Mengantisipasi Pencurian Hewan

Jumat, 11 May 2018 11:30 | editor : Fandi Armanto

pencurian, sapi, hewan, ternak, curwan, maling, marak

HABIS DIBOBOL: Pencurian sapi di Pakistaji. Belakangan aksi pencurian hewan ternak di Probolinggo marak dan perlu antisipasi. (Dok. Radar Bromo)

PEMILIK ternak di Kota dan Kabupaten Probolinggo resah. Pasalnya, aksi pencurian hewan akhir-akhir ini semakin marak. Intensitas curwan yang tinggi, membuat kinerja kepolisian dipertanyakan. Karena itu, polisi mengusulkan dibuatnya kandang komunal. Hal itu dianggap solusi jitu mengantisipasi curwan.

---------------

Selasa (8/5) lalu, ada tiga sapi yang dicuri di kandangnya. Masing-masing satu ekor sapi di Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo dan dua ekor sapi di Desa/Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.

Di Bantaran, peristiwa yang diperkirakan terjadi antara pukul 00.00 sampai dengan pukul 03.00, membuat 2 ekor sapi yang masih berumur 6 bulan sampai 1 tahun raib. Sementara di Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, seekor sapi seharga Rp 17 juta hilang dicuri.

Sehari sebelumnya, aksi pencurian juga terjadi di Desa Kramatagung, Kecamatan Bantaran. Saat itu, kawanan pelaku berhasil menggondol 3 ekor sapi. Pemilik baru menyadari sapinya dicuri sekitar pukul 04.00. Beruntung, sapi tersebut ditemukan di sebuah persawahan yang berada di Desa Jrebeng, Kecamatan Wonomerto, sekitar pukul 10.00.

Maraknya aksi pencurian hewan (curwan) khususnya sapi, membuat kepolisian harus putar otak. Meskipun keamanan menjadi tugas bersama, namun polisi sebagai pihak keamanan, merasa paling bertanggung jawab.

Kapolsek Wonoasih Kompol Sukatno mengatakan, salah satu upaya untuk menekan angka curwan, khususnya pada wilayah yang peternaknya banyak, adalah dengan membangun kandang komunal. Kandang itu dibangun di setiap desa atau kelurahan. Sukatno mengatakan, banyak manfaat yang bisa didapat dengan upaya tersebut.

Di antaranya, pengawasan atau penjagaan akan lebih terpantau dan fokus. Penjagaan dibuat bergiliran antarpemilik ternak. Biasanya pemilik berjaga hampir setiap malam. Hal ini efektif agar pemilik ternak juga tidak waswas ketika ditinggal tidur.

“Terkait dengan lahan, nantinya bisa sistem sewa pada pemerintah daerah atau pemilik lahan. Kalau terlalu luas, bisa sampai dua titik kandang komunal dalam satu kelurahan,” terangnya. Selain itu, dengan kandang komunal, dapat dibentuk komunitas peternak sapi di tiap keluarahan.

Meski begitu, Sukatno menyebut, jika program ini tak serta merta dapat dilakukan. Apalagi, banyak pihak yang mesti ikut berperan serta. “Saat ini kita masih lakukan sosialisasi. Ada bebeberapa kelurahan yang sudah kita informasikan. Kalau lurah atau kades mengamini, tinggal masyarakat,” katanya.

Di Wonoasih sendiri, sejak Januari hingga Mei awal, sudah ada 15 kejadian kemalingan sapi. Dari 15 kejadian itu, 3 orang tak melapor ke Mapolsek Wonoasih. Selain itu, juga sudah ada 5 sapi yang berhasil ditemukan.

Sementara itu, Kapolsek Sumberasih AKP Wahyudi mengatakan jika curwan khususnya sapi belum ada laporan yang masuk. “Kurangnya kesadaran yang ada. Sehingga, meski jadi korban, mereka enggan untuk melapor,” terangnya.

Daerah yang sudah menerapkan kandang komunal ini adalah Kecamatan Wonomerto. Maklum, Wonomerto juga menjadi sasaran maling sapi. Karena itu, pemerintah kecamatan setempat, menginisiasi kandang komunal. Seluruh sapi warga ditempatkan di kandang tersebut dan dijaga bergantian.

Camat Wonomerto Taufik Alami beberapa waktu lalu mengatakan, dengan adanya kandang komunal itu, warga bisa bersama-sama menjada sapi mereka. Apalagi, kandang komunal itu di bawah kendali Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Sebelum adanya program ini, warga banyak yang menjaga sapinya dengan cara tidur bersama ternaknya. Tetapi, dengan adanya program ini, warga secara bergantian menjaga kandang.

Tahun lalu, hanya satu desa yang telah siap untuk menjalankan program tersebut. Yakni, Desa Tunggak Cerme. Di desa ini, sudah ada satu kandang yang dikelola oleh BUMdes. Rencananya, tahun ini ada 9 desa lain yang siap menyusul untuk menjalankan program tersebut.

Anggaran untuk menjalankan program ini, diambilkan dari Dana Desa (DD) dan juga dari swadaya masyarakat. Keuntungan lain yang didapat dari keberadaan kandang komunal, yakni pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas.

(br/rpd/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia