Senin, 10 Dec 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Nafkah Diberi Sedikit, Eh Istri Masih Dibebani Hutang

03 Mei 2018, 09: 30: 59 WIB | editor : Fandi Armanto

ono-ono ae, tole, minthul, gambar, ilustrasi, minthul, karikatur, kartun

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

ENTAH apa yang ada di pikiran Tole (nama samaran), 40. Warga Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, ini membebani utang pada Minthul (juga nama samaran), 36, istrinya. Padahal, setiap bulan tak banyak uang belanja yang ia berikan. Rumah tangga pasangan suami-istri (pasutri) ini pun runyam dibuatnya.

Minthul mengaku benar-benar kecewa dengan sikap suaminya. “Memang sih dia rutin kasih uang belanja, tapi sedikit. Sisanya dia pakai sendiri. Eh, ternyata masih kurang, pakai ngutang segala,” keluh Minthul.

Pernikahan mereka sendiri sejatinya sudah berjalan belasan tahun. Bahkan, mereka sudah memiliki dua anak yang kini duduk di bangku sekolah. Awalnya setelah menikah, Minthul memang full menjadi ibu rumah tangga. Tulang punggung keluarga dibebankan pada Tole, yang bekerja sebagai buruh pabrik.

Untuk meminimalisasi pengeluaran, tentu saja mereka harus berhemat. Yang terpenting tetap ada buat makan dan susu anak. Saat anaknya sudah besar, Minthul mengatakan ingin kembali bekerja untuk membantu ekonomi suami. “Ya namanya hidup, pasti ingin maju. Kalau cuma ngandalkan suami ya selamanya gini-gini terus. Karena itu saya mau kerja lagi kayak dulu,” ucapnya.

Ternyata keinginan Minthul didukung oleh Tole. Minthul pun mencoba mencari pekerjaan lewat koneksi teman lamanya. Memang, mencari kerjaan di usia yang tak muda lagi cukup sulit. “Cari di pabrik banyak saingannya. Untungnya, bisa masuk ke konfeksi. Lumayan lah daripada nganggur,” terangnya.

Minthul tetap kerja rutin dari pagi sampai sore. Meskipun tak sebesar penghasilan di pabrik. Namun lumayan untuk tambahan ekonomi keluarga. Mengetahui Minthul punya penghasilan sendiri, Tole malah seenaknya sendiri. Uang bulanannya lama-lama dikurangi karena menganggap Minthul bisa memakai gajinya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saya ya marah awalnya. Kok Tole seperti itu? Tapi dia gak peduli,” terangnya. Minthul sendiri jelas menggerutu. Tapi, ia tak punya pilihan. Eh, Tole malah ngelunjak. Ia bahkan sering utang entah buat kebutuhan apa. Sehingga, tak sekali dua kali ada teman Tole yang datang ke Minthul untuk menagih.

Minthul pun jadi senewen. Ia marah ke Tole karena tak jelas uang utang buat apa. Tole juga tak mau terbuka. “Karena gitu terus sampai setahun, ya saya lama-lama gak tahan juga. Sudah uang belanja dikasih minim, masih harus bayar utang dia. Gak tahan lagi saya, sudah saya pilih pisah dan cerai saja,” katanya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia