Senin, 20 Aug 2018
radarbromo
icon featured
Features

Lukman Hadi, Napi yang Punya Kreativitas Membuat Miniatur Kapal

Minggu, 15 Apr 2018 14:30 | editor : Radfan Faisal

napi, narapidana, tahanan, warga binaan, rutan, bangil, miniatur, kapal, pengrajin

KREATIF: Lukman Hadi Sulistyo menunjukkan miniatur perahu buatannya saat ditemui di Rutan Bangil. Ia menekuni pembuatan miniatur perahu selama mendekam di dalam rutan. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

Tidak semua orang yang mendekam di jeruji penjara selalu stres atau terganggu kondisi kejiwaannya. Sebagian lainnya justru menjadi kreatif. Maklum, daripada menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa, sejumlah warga binaan menyalurkan ide-ide segarnya dengan membuat kerajinan tangan. Seperti yang dilakukan Lukman Hadi Sulistyo, 35.

------------------

Panjangnya tak sampai satu meter. Bahan dasarnya berupa bambu. Sekilas, mirip dengan kapal aslinya. Itulah miniatur kapal bikinan Lukman Hadi Sulistyo, warga Tanjung Arum, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Lelaki yang akrab disapa Datuk ini, memang memiliki kesibukan baru di rutan dengan membuat miniatur kapal.

Sudah delapan bulan terakhir, ia berkreasi dalam pembuatan miniatur kapal. Ia kepincut untuk membuat miniatur kapal, setelah melihat miniatur kapal temannya yang satu ruangan di dalam tahanan.

“Selain mengikuti program Rutan Bangil, awal-awalnya saya banyak menganggur. Sampai kemudian, saya melihat teman membuat miniatur kapal ini. Saya pun tertarik untuk membuatnya,” kata lelaki 35 tahun tersebut.

Kisahnya sendiri bermula setelah dirinya ditangkap polisi gara-gara kasus kepemilikan narkoba. Kejadiannya berlangsung 13 Maret 2017 lalu. Ketika itu, ada rekannya yang memesan. Ternyata, saat ia menyiapkan barang, polisi keburu menciduknya.

Perasaannya tak karuan. Membayangkan hidup di penjara, pastinya membuat dirinya tak nyaman. Namun, tak ada yang bisa dilakukan. Selain pasrah untuk menjalaninya hukuman yang telah menantinya. Ia pun divonis 5 tahun 6 bulan gara-gara perbuatannya itu.

Selama di dalam tahanan, Lukman kerap merepotkan keluarganya di rumah. “Makanya, meski di tahanan, saya bertekad untuk tidak lagi menyusahkan keluarga,” aku dia. Bak gayung bersambut. Saat membangun tekadnya itu, ia sering melihat temannya membuat miniatur kapal. Ia pun menjadi penasaran. Sampai akhirnya, ia tertarik menekuni hal yang sama.

“Saya pun belajar untuk membuat miniatur kapal itu. Karena barangnya bisa dijual. Sehingga bisa menghasilkan uang,” ungkap Datuk. Memang, membuat miniatur kapal tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ketelatenan untuk belajar. Datuk mengaku berulang kali gagal membuat miniatur kapal yang diharapkan.

“Garapannya kurang bagus saat-saat awal. Kadang terlihat mencleng dan tidak sejajar,” kisahnya. Namun, ia tak mau menyerah. Pelan tapi pasti, ia akhirnya bisa. Hasil kreasi miniatur kapal buatannya sesuai dengan yang diharapkan. Ia makin senang, ketika miniatur kapal miliknya bisa laku terjual. Kala itu, miniatur kapal buatannya bisa laku sekitar Rp 75 ribu. Ia semakin semangat untuk membuat miniatur kapal yang lain.

“Sekarang bisa sampai Rp 500 ribu. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Saya semakin termotivasi untuk membuatnya,” sambung dia. Sebulan, ia mampu memproduksi hingga 15 unit miniatur kapal. Pembelinya, rata-rata keluarga warga binaan yang datang berkunjung. Mereka pesan dengan imbalan uang.

Soal bahan baku, ia mengaku tak mengalami kesulitan. Karena, bahan baku tersebut, bisa diperoleh dari keluarganya di rumah. Baik bambu ataupun lem untuk perekat. Biasanya, ia minta potongan-potongan bambu yang siap untuk dibuat kerajinan. “Kalau bahan bakunya, saya minta keluarga di rumah. Ibu saya biasanya datang ke sini membawakan bambu. Jadi, hampir tidak ada masalah,” tutur dia.

Berkat kreativitasnya itu, ia bisa mewujudkan tekadnya itu. Yakni, tidak lagi membebani orang-orang di rumah. Karena, ia tak lagi meminta-minta uang dari keluarganya. Bahkan, ia masih bisa memberikan uang saku untuk anaknya ataupun keluarga di rumah. Meski nilainya tak seberapa.

“Alhamdulillah, saya masih bisa memenuhi kebutuhan sendiri di sini. Tidak lagi meminta-minta kepada keluarga. Bahkan, saya kini bisa memberikan uang kepada keluarga ketika mereka menjenguk saya di sini,” ungkap Datuk. Dikatakan Datuk, kreasinya itu kini berkembang. Bukan hanya miniatur kapal. Ia juga bisa membuat miniatur becak.

Kepala Rutan Bangil, Wahyu Indarto mengaku terus menggali bakat-bakat dan potensi para warga binaan. Hal ini tak lain agar mereka memiliki kesibukan. Sehingga, tidak mudah jenuh ketika ditahanan. Lebih dari itu, mereka juga bisa produktif. Karena, mampu menghasilkan karya-karya. “Dari karya mereka itulah, bisa mendatangkan uang untuk mereka sendiri,” tandas Wahyu.

(br/one/rf/rf/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia