Jumat, 19 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Cerai Gara-gara Abaikan Anak dan Istri

Minggu, 15 Apr 2018 12:00 | editor : Radfan Faisal

ono-ono ae, tole, minthul, gambar, ilustrasi, minthul, karikatur, kartun

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

SETELAH tak bisa membiayai kontrakan rumah, pasangan suami istri (pasutri) Tole (nama samaran), 28, dan Minthul (juga nama samaran), 28, malah kembali ke rumah masing-masing. Belakangan, kepulangan ke rumah masing-masing, justru menjadi penyebab keretakan rumah tangga mereka.

Tentu, ada alasan kenapa mereka sampai kembali ke rumah masing-masing. Ternyata, baik Minthul maupun Tole tak akur dengan mertuanya. Sementara, untuk melanjutkan ngontrak atau indekos, mereka berdua tak ada biaya. Terlebih, warga Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan ini butuh uang buat biaya persalinan anak pertama.

Solusi kembali ke rumah masing-masing, menjadi satu-satunya opsi yang mereka miliki saat itu. Meskipun, bagi kebanyakan orang, solusi tersebut dianggap tak lazim. Idealnya, suami istri memang hidup dalam atap yang sama. Kecuali sang suami harus tugas di luar daerah.

Hingga akhirnya, Minthul kecewa berat dengan sikap. Pasalnya, semenjak pisah rumah, Tole tak menafkahinya baik lahir maupun batin. Bahkan, sampai anaknya lahir, Tole tak sepeserpun mengirim uang untuk biaya persalinan. “Memang, gaji karyawan toko gak besar. Tapi, paling tidak kan ada upaya untuk tanggung jawab,” ujarnya.

Sebelum menikah 4 tahun lalu, Minthul memang bekerja sebagai buruh pabrik. Dibandingkan dengan Tole yang sebagai karyawan toko, gaji Minthul memang jauh lebih tinggi. Namun, pekerjaan di pabrik cukup menguras tenaga, diprediksi sebagai penyebab Minthul tak kunjung hamil.

Sehingga banyak yang menyarankan agar Minthul berhenti bekerja dan fokus mengikuti progam hamil. Minthulpun akhirnya mengikuti saran tersebut. Saat itu, Tole dan Minthul sudah tinggal di rumah kontrakan dengan alasan ingin mandiri. Selain alasan lain, yakni tak akur dengan mertua.

Upaya Tole dan Minthul untuk mendapatkan anak, akhirnya membuahkan hasil. Itu setelah program hamil mereka berjalan lebih dari setengah tahun. Tentu saja, berita kehamilan Minthul disyukuri keluarga besar kedua belah pihak.

Namun, di tengah perasaan bahagia, masalah ekonomi menjadi problem rumah tangga mereka. Maklum, selepas Minthul berhenti, Tole menjadi tulang punggung keluarga. Sementara, gaji Tole sebagai karyawan toko pas-pasan.

Itu sebabnya, setelah setahun ngontrak rumah, mereka memutuskan keluar. Pasalnya, mereka tak punya tabungan untuk memperpanjang kontrakan. Rencana indekos juga tidak mungkin karena biayanya juga cukup tinggi.

“Jadi Tole bilang sementara saya pulang ke orang tua saja dulu. Supaya ada yang bantu urus kehamilan juga. Sedangkan balik ke rumah dia juga gak mungkin, karena saya gak cocok dengan ibu mertua. Dia sendiri juga tidak cocok dengan orang tua saya” terangnya.

Karena itu, dari hamil besar sampai anak lahir, Tole cuek dengan istri dan anaknya. Bahkan saat melahirkan, karena Tole tak membantu biaya persalinan. Otomatis orang tua Minthul yang menanggung. “Ya saya malu juga. Kok Tole seperti itu, gak persiapan sama sekali,” terangnya.

Ketika anaknya lahir, Tole hanya datang beberapa kali untuk memberikan uang. Nominalnya pun tak cukup untuk menutupi biaya kebutuhan bayi. Merasa tak dapat perhatian, Minthul protes. Pertengkaran pun tak bisa dihindari. Hingga akhirnya, Minthul memilih pisah.

(br/eka/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia