Selasa, 25 Sep 2018
radarbromo
icon featured
Features

Fauziyah, Mantan Napi yang Kembangkan Bisnis Kerajinan Tas dan Dompet

Rabu, 11 Apr 2018 18:00 | editor : Fandi Armanto

kerajinan, handycraft, mantan, napi, narapidana, kreatif

MANTAN WARGA BINAAN: Fauziyah dengan hasil kreasi kerajinannya. (Erri Kartika/Radar Bromo)

LIFE is like a rollercoaster. Itulah yang dirasakan Fauziyah, warga Lekok, Pasuruan. Sempat terpuruk karena kemiskinan, hingga dipenjara akibat permasalahan di pekerjaan, kini Fauziyah mulai bisa bernapas lega. Bisnis yang dirintisnya mulai berkembang, meskipun stigma sebagai mantan narapidana tetap melekat.

-----------------------

Tumpukan tali kur yang digulung beraneka warna, tampak tertata rapi di bak plastik berwarna merah. Di sisinya tampak bak plastik yang lebih lebar berisi manik-manik dan renda. Seorang perempuan muda tampak mengambil tali kur warna merah muda dan hijau di bak tersebut.

Jari jemari perempuan tersebut mulai membuat pola, kemudian diikat. Hal itu diulang beberapa kali. Dialah Fauziyah, 33, warga Dusun Pasiriyan, Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, yang mengembangkan kreativitas dengan membuat handycraft.

Di sekitar Fauziyah, ada beberapa tumpuk tas dari tali kur dan dompet yang sudah jadi. Tumpukan memang tidak terlalu banyak karena biasanya baru dibuat setelah ada pesanan. “Saya buat kalau sudah ada pesanan. Lumayan ramai, bahkan tak pernah ada berhentinya setiap hari,” terangnya.

Fauziyah memang bukan perempuan biasa. Dirinya tak malu dengan stereotip masyarakat. Maklum, ia pernah mendekam di Rutan Bangil 9 tahun lalu. Memang dirinya hanya ditahan 10 hari, namun rasa sakit hati dan malu memang masih menghantui dirinya dan keluarganya.

Perempuan yang bahkan belum pernah lulus SD ini, mengakui bahwa hidupnya memang sulit. Setelah bapaknya meninggal saat dirinya kelas 6 SD, perempuan yang akrab disapa Puji ini harus merantau untuk cari uang sendiri. Maklum, saat itu ia tak memiliki biaya untuk sekolah.

“Akhirnya sampai ke Jakarta jadi pembantu rumah tangga, terus juga pernah ke Surabaya ikut kerja konveksi. Tapi, usia 18 balik lagi ke Lekok dan menikah dengan suami saya sekarang yaitu Safi’i yang juga orang Lekok,” ceritanya.

Setelah menikah, Puji memang ikut suami dan membantu pekerjaan nelayan. Namun, dirinya juga sempat kerja ikut koperasi di desanya sebagai penagih kredit. Nah, kisah itulah yang membuat dirinya harus sempat mendekam di penjara. Lantaran dituduh berbuat curang membawa tabungan kosong milik koperasi.

“Saya juga bingung kasusnya gimana. Tapi, saya dilaporkan dan akhirnya membuat saya dipenjara 10 hari di Rutan Bangil,” terangnya. Padahal, saat ditahan itu, Puji sedang hamil anak kedua dengan usia kehamilan 7 bulan. Meskipun sakit hati, Puji mengaku pasrah dan memaksimalkan kehidupan di penjara.

Saat itu di penjara wanita memang ada pelatihan membuat rajutan dan benang sulam. Akhirnya setelah keluar dari penjara, langsung dipraktikkan keahlian tersebut dan coba dijualnya ke tetangga-tetangga. “Karena sulam desainnya lebih manis, jadi yang dibuat ya terbatas seperti syal, topi bayi, meskipun laku tapi gak banyak,” ujarnya.

Hanya saja, konsumennya sedikit. Sehingga, Puji pun memutar otak dan beralih ke pembuatan tali kur karena lebih kuat untuk desain tas dan dompet. Dari percobaannya, ternyata tetangganya banyak yang suka. “Akhirnya setahun setelah keluar dari penjara, yaitu saat usia saya 25, terus buat kerajinan tali kur ini,” terangnya.

Dikatakan dari mulut ke mulut, hasil karyanya ternyata banyak disukai warga Lekok. Tak hanya tetangga kampung, tapi pekerja pabrik juga banyak yang memesan. Pemesanannya sendiri langsung ke rumah Puji, bahkan 1 orang bisa memesan 3-4 produk tas atau dompet.

“Alhamdullilah dikasih jalan sama Allah SWT, jadi rezeki terus-terusan ada dan gak pernah sepi,” terangnya. Puji mengakui memang membuat sendiri dan tidak dibantu orang lain. Dalam sehari dirinya mampu membuat 20 dompet atau 4 tas. Untuk harga dompet kecil dijual dengan harga Rp 30-40 ribu, sedangkan tas dari Rp 50-75 ribu per buahnya. Puji mengakui untuk 1 produk dirinya hanya mengambil keuntungan Rp 5-10 ribu.

“Yang penting dilakoni, terbukti makin banyak yang pesan dan gak ada berhentinya,” terangnya. Puji mengakui kondisinya yang serba terbatas membuat hasil karyanya memang masih mayoritas banyak dipesan oleh orang Lekok sendiri. Meskipun juga ada dari Kota Pasuruan sampai Bangil dari kawan lamanya di penjara.

Selama hampir 7 tahun membuat kerajinan ini, konsumen memang tahu sepak terjangnya yang pernah menjadi narapidana. Namun, ternyata tidak ada yang mempermasalahkan dan memang tertarik dengan hasil karya Puji.

Sebagai istri nelayan dan ibu 2 orang anak, Puji mengaku kerajinannya sedikit banyak mampu menambah ekonomi. Apalagi suaminya memang hanya nelayan yang tidak memiliki perahu.

“Kendalanya memang masih di modal, karena itu selama ini baru membuat kalau ada pesanan. Inginnya bisa beli tali kur yang agak banyak. Karena di Lekok tidak ada dan harus ke Kota Pasuruan untuk beli bahannya,” ujarnya.

Puji mengaku dengan menjadi mandiri justru membebaskannya untuk berkreasi. Selain tetap bisa membantu suami dan mengurus rumah dan anak. Puji tetap bisa berkreasi dengan mencoba model baru untuk desain tas dan dompetnya.

kerajinan, handycraft, mantan, napi, narapidana, kreatif

MOVE ON: Meski pernah dipenjara, Fauziah menjadikannya sebagai pelajaran dan dia harus menatap masa depan. (Erri Kartika/Radar Bromo)

(br/eka/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia