Selasa, 21 Aug 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Kesal Lantaran Mertua Sering Memperlakukan Layaknya Pembantu

Jumat, 06 Apr 2018 20:12 | editor : Fandi Armanto

ono ono ae, tole, minthul, suami, istri, rumah tangga, cerai, talak

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

MIMPI Minthul (nama samaran), 32, untuk bisa hidup mandiri dengan keluarga kecilnya setelah memiliki rumah pribadi, tidak sesuai kenyataan. Pasalnya, sang mertua tetap meminta Minthul datang ke rumahnya hanya untuk sekadar membantu pekerjaan rumah.

Perempuan asal Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, itu mengatakan, ia sudah terlalu lama tinggal di rumah mertua. Sejak awal menikah dengan Tole (juga nama samaran), 35, Minthul berangan-angan bisa punya rumah sendiri. Sampai akhirnya, mimpi itu menjadi kenyataan.

Selama membangun rumah itu, sebagian biayanya disuplai orang tua Tole. “Sudah lama pengen punya rumah sendiri. Meskipun rumah ini juga andil mertua,” ujarnya. Maklum, jika sang mertua ikut membantu. Pasalnya, sang suami belum mampu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Tole sehari-hari hanya buruh pabrik dengan jabatan rendah.

Minthul sendiri tak bisa membantu keuangan keluarga karena selama ini fokus menjadi ibu rumah tangga. Alhasil, pasangan suami istri (pasutri) ini hampir 10 tahun tinggal bersama mertua. Selama itu pula, suka duka rumah tangga mereka juga menjadi santapan mertua.

“Yang namanya tinggal bareng mertua jelas gak enak, gak bebas. Apa-apa pasti dipantau, disuruh-suruh. Karena itu saya pengen bisa punya rumah sendiri,” terangnya.

Keluarga Tole sendiri sejatinya tidak kekurangan. Hanya saja mereka terbiasa mengerjakan semua pekerjaan mandiri dan tidak melibatkan pembantu.

Sehingga, pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan yang tinggal di rumah itu. Mulai nyapu, ngepel, masak, cuci baju, cuci piring, dan sebagainya.

Hingga kemudian, mertuanya berinisiatif memberikan salah satu tanah miliknya pada Tole untuk dibangun rumah. Tentu saja Minthul gembira bukan kepalang. “Termasuk dibantu biaya mendirikan rumahnya. Kita juga bantu sih, meskipun harus utang sana-sini,” terangnya.

Setelah lebih dari 2 tahun, rumah mereka pun siap dihuni. Minthul tak sabar untuk segera pindah membawa kedua anaknya. Nah, yang jadi masalah, jarak rumah mereka dengan rumah mertua hanya 5 rumah. “Jadi ya apa-apa masih bisa kelihatan dan tetap sering ketemu,” ungkapnya.

Ternyata setelah mereka pindah, ibu mertua Tole tetap menyuruh Minthul untuk mengerjakan pekerjaan seperti biasanya. Meskipun ogah, ibu mertuanya menganggap itu adalah balas budi karena mereka sudah membuatkan rumah untuk mereka. Tentu saja Minthul kecewa.

“Ternyata gak gratis. Katanya balas budi harus tetap kerja seperti dulu. Pekerjaan saya jadi dua kali lipat. Di rumah sendiri dan rumah mertua. Termasuk memasakkan untuk mereka,” terangnya. Karena keberatan, lama-lama Minthul jadi jarang ke rumah mertua.

Hal inilah yang sering menjadi cekcok dan ujung-ujungnya berpengaruh ke kehidupan rumah tangga mereka sendiri. “Tapi, Tole malah gak dukung saya. Katanya sudah jadi kewajiban saya buat nurut apa kata suami dan mertua. Kami akhirnya bercerai karena setiap hari tengkar masalah yang sama,” katanya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia