Senin, 22 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Seorang Tua yang Mengakhiri Cerita

Minggu, 01 Apr 2018 18:58 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, seorang tua yang mengakhiri cerita

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

KAU keluar gedung bioskop dengan wajah tak mengenakkan. Wajahmu kusut dan terlipat seperti sedang menahan kekecewaan. Aku tak mengerti mengapa kau seperti itu. Aku hanya bisa mereka-reka. Mungkin saja kau kecewa dengan film yang selesai kau tonton.

Aku memberanikan diri untuk bertanya, tapi ragu-ragu. Takut nanti kalau malah salah. Bertanya adalah cara terbaik untuk menghakimi rasa penasaran seseorang, dan aku akan mencoba menghakimi rasa penarasanku itu.

“Kau kenapa?” tanyaku dengan sedikit rasa takut. Lalu aku menggigit bibir bawahku dengan gigi. Menahan rasa tegang.

“Kau mengerti juga apa yang kurasakan,” jawabmu dengan datar. Sepertinya memang kau merasakan apa yang sedang kurasakan. Mungkin pula kau bisa membaca perasaan yang tersirat di wajahku.

“Tentu saja. Wajahmu sangat tidak bersahabat,”

“Memang. Kau tahu kenapa?”

“Mengapa?” tanyaku penasaran.

“Aku heran, mengapa orang setua itu menjadi tokoh utama dalam film horror itu. Apakah mereka pikir tidak ada orang muda yang mampu menggantikan perannya. Apa mereka pikir, orang muda tidak bisa berakting sebaik orang tua,” katamu dengan menggebu-gebu. Tanpa mempedulikan orang lain di sekitarmu. Padahal jika boleh kukatakan, mereka pasti memasang kuping pada ocehanmu.

“Lalu, mengapa pula orang tua itu yang harus mengakhiri cerita dalam film yang dielu-elukan banyak orang. Kukira produser dan sutradara itu sudah gila,” lanjutmu dengan keras kepala.

“Kau berharap yang seperti apa?” tanyaku.

“Bukankah dalam film horror sebaiknya dibintangi oleh seorang wanita yang cantik. Agar lebih menarik dan enak ditonton.”

Aku heran dengan apa yang kau pikirkan. Apakah semua laki-laki sama saja.

Apakah semua laki-laki hanya memikirkan bentuk tubuh wanita saja. Kau memang baru pertama kali menonton di bioskop, tapi tak lantas juga kau bisa tiba-tiba menjadi kritikus film. Juga tentu saja tak membuatku malu. Oh, ya, soal kau mendadak menjadi kritikus film, kukira kau lebih terbiasa menonton film horror lokal yang lebih mengedepankan bentuk tubuh daripada kualitas film itu sendiri.

Film itu memang menakutkan, bahkan aku pun beberapa kali menutup mataku ketika hantu kunci itu menampakkan diri. Aku membenci hantu, juga cerita-cerita hantu yang dikarang oleh orang-orang tua. Apa mereka kira, hantu itu benar-benar ada. Entahlah. Apa yang ada dalam pikiran mereka adalah rekaan mereka sendiri.

***

Kau menggenggam kerupuk es krim dengan tisu yang lengket karena lelehan es krim rasa vanila. Tanganmu belepotan cairan es krim itu. Menjijikan. Setetes demi setetes lelehan es krim itu jatuh ke laintai dan berceceran. Penjaga toko itu mengamatimu dengan amarah yang meledak-ledak. Aku bisa melihatnya dari bentuk hidung yang mendengus.

Sebelumnya, kau menjanjikan akan membelikanku sesuatu tetapi yang harganya murah. Sebagai perempuan seperti umumnya, aku memilih es krim sebagai kudapan sebelum kita berpisah. Di bagian depan gedung bioskop ini ada banyak penjual. Salah satunya es krim yang kau belikan untukku.

“Setiap kematian tidak memerlukan perayaan,*” kau memulai pembicaraan lagi. Dengan begitu polos dan mengundang rasa penasaran.

“Maksudmu?” aku tak tahu apa yang sedang kau ucapkan. Tak mengerti apapun.

“Kau tak menyaksikan film itu?” selidikmu padaku. “atau kau tidak ingat apa yang telah kau tonton tadi?” lanjutmu.

Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau katakan. Kau membahas film yang telah kita tonton. Lagi-lagi kau seperti ktitikus film yang menyebalkan. Mereka-reka isi film dan menanggapinya dengan celotehan yang kurasa tidak begitu perlu.

Menonton film adalah menikmati kisah yang direka oleh penulis dengan arahan sutradara. Kau bisa mengambil hikmah dari apa yang telah kau saksikan. Tidak perlu banyak berkomentar. Apalagi dengan menjelek-jelekkan film yang telah kau tonton dengan mengeluarkan uang lumayan banyak. Mungkin bisa kau gunakan untuk makan seminggu jika kau membeli makan di emperan toko.

“Lelaki yang membunuh Anna tadi mengatakan itu,” katamu. “kau benar-benar tidak memperhatikannya? Atau kau bahkan tidak ingat sama sekali?”

“Apa?”

“Setiap kematian tidak memerlukan perayaan,” katamu dengan tenaga. Seperti menahan rasa gemas pada sesuatu. Mungkin saja kau memang gemas terhadapku.

Kau memang lucu. Tapi terkadang juga keras kepala. Aku memilihmu dengan dasar rasa tidak yakin dan hanya mencoba-coba. Sampai sekarang pun, aku hanya mencintaimu dengan setengah hati. Aku ragu dengan kau, kelakuanmu, juga masa depanmu. Kau tak pernah menjanjikan kebahagiaan. Juga tak pernah menjanjikan masa depan.

“Bagaimana dengan Rambu Solo** yang dikisahkan oleh Faisal dalam novelnya?”

Seketika aku teringat novel yang dituliskan Faisal Oddang yang kau pinjamkan padaku sebulan yang lalu. Novel dengan sampul yang didominasi warna merah dan hitam yang menyabet penghargaan juga direkomendasikan untuk dibaca oleh majalah kenamaan di ibu kota.

Kau bercerita padaku bahwa buku itu sangat layak dibaca. Bahkan berkali-kali kau mengeluh kesulitan memilikinya. Bukan karena kau tak memiliki uang, tetapi karena memang di toko buku di kotamu, buku itu selalu terjual habis ketika kau mendatanginya. Kau kecewa, hingga akhirnya memutuskan membelinya di toko buku luar kota dengan memesannya pada karibmu.

“Harusnya kau bisa membedakan cara berpikir orang-orang kita dengan orang asing. Memang setiap kematian tidak perlu perayaan. Benar apa yang dikatakan lelaki pembunuh itu,” katamu menggebu-gebu. Serupa sedang pidato di mimbar dan berusaha menarik perhatian orang-orang yang datang.

“Apakah benar setiap kematian tidak memerlukan perayaan?” tanyaku ragu.

Kau tampak gamang dan sedang berpikir serius. Kurasa kau sedang memikirkan sebuah jawaban atas pertanyaanku. Dan dalam pikiranku melintas pertanyaan yang kuajukan, apa benar setiap kematian memerlukan perayaan. Ataukah orang mati hanya tinggal dikuburkan, tak perlu perayaan apapun. Aku merasa bersalah pada dirimu dan diriku sendiri.

Tapi dalam novel itu, tokoh utamanya rela melakukan apapun untuk merayakan kematian ayahnya. Sampai-sampai ia bertindak ceroboh dengan alasan menyelamatkan keluarganya. Aku heran mengapa masih ada orang yang demikian. Meskipun hanya kisah dalam novel, tapi sepertinya cerita itu dilahirkan berdasarkan pengalaman. Sungguh, dunia ini menyimpan ribuan bahkan ratusan hingga jutaan tanda tanya.

“Seharusnya tokoh perempuan tua dalam film itu digantikan. Karena ia sudah tua. aku sangsi jika kematiannya kelak akan dirayakan,” lagi-lagi kau mengatakan hal yang tidak kumengerti.

“Apa hubungan tentang keduanya?”

“Ucapan laki-laki dalam film itu sebenarnya untuk tokoh perempuan yang menjadi tokoh utama dan mengakhiri film tadi,” katamu meyakinkan.

“Berhentilah nyerocos,” aku mulai kesal dengan apa yang kau katakan.

Di luar gedung ini, hujan sedang menunjukkan diri. Jalanan basah, juga pohon-pohon dan apapun yang diguyur hujan. Kau kedinginan karena kau lupa membawa jaket dengan alasan kau terburu-buru menemuiku. Kurasa itu alasan yang logis. Dapat diterima.

Kau menyuapkan kerupuk es krim terakhirmu ke mulut. Lalu mengelapkan cairan lengket itu ke celanamu. Semua laki-laki memang menjijikkan. Mereka tak mengerti tentang arti sebuah kebersihan. Itu semua cukup bagiku untuk semakin membencimu.

“Setiap kematian memang tak memerlukan perayaan, tetapi samua orang perlu penghormatan terakhir. Apapun itu caranya. Mereka bebas menghormati kerabat, kekasih, anak, orang tua, atau pun kawan mereka dengan cara masing-masing.

“Jika mereka memiliki uang lebih, mereka bebas menyediakan apapun untuk melepas mayat yang mereka kenal sewaktu masih hidup. Jika memang terbatas dalam segala hal, tak perlu ada sebuah perayaan apapun. Bukankah Tuhan telah menentukan jalan masing-masing orang,” kau kembali melantur.

“Jika memang kau berpikir demikian, kau tinggal percaya pada dirimu sendiri.”

Akhirnya apa yang kutunggu tiba. Bus yang dikemudikan seorang tua itu akan membawaku menjauhimu. Aku pergi meninggalkan kota ini.

*dialog dalam film Insidious: The Last Key garapan Adam Robitel
**upacara pemakaman di Tanah Toraja


Oleh: Eko Setyawan, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Karya-karyanya tersebar di sejumlah surat kabar

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia