Rabu, 19 Sep 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Tega Benar, Uang Belanja Istri Distop demi Cicilan Motor

Rabu, 28 Mar 2018 12:15 | editor : Fandi Armanto

ono-ono ae, suami, istri, tole, minthul, cerai, talak, rumah tangga

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

BEGINI akhirnya jika pengeluaran tidak dianalisis dengan matang. Uang gaji yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan primer, malah habis untuk kebutuhan lain. Ya, gara-gara habis untuk cicilan motor, Tole (nama samaran), 31, tak lagi memberi uang belanja.

Minthul (juga nama samaran), 27, pun dibuat geregetan atas ulah sang suami. Pasangan suami istri (pasutri) asal Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, itu lebih sering bertengkar daripada akur. Kondisi rumah tangga pun runyam. Hal itu pula yang menyebabkan biduk rumah tangga mereka berakhir di Pengadilan Agama (PA) Bangil.

Motor, menurut Minthul, bukanlah kebutuhan utama karena hanya digunakan untuk gaya-gayaan saja. “Motor yang lama masih bisa dipakai. Tapi, gak tahu kenapa, Tole ngebet pengen punya motor sport,” jelasnya. Tole seperti tak berpikir jauh, bahwa kondisi itu bisa saja menghancurkan rumah tangga mereka yang sudah dirajut 3 tahun terakhir.

Ya, selama hidup bersama, pasutri itu sudah memiliki satu orang anak. Meskipun sama-sama bekerja sebagai buruh pabrik, namun mereka masih memilih tinggal di rumah orang tua Minthul. Sejatinya, dari segi ekonomi, keduanya tidak pernah ada masalah.

Tole pun memberikan separo dari gajinya untuk Minthul sebagai tambahan kebutuhan makan sehari-hari. “Sedangkan sisanya dia bilang uang laki-laki. Ya, buat makan, transport, dan senang-senang sendiri,” jelasnya.

Karena juga bekerja, Minthul mengatakan tidak mempermasalahkan jika Tole tak memberikan seluruh gajinya. Toh, dari hasil pemberian Tole, selama ini juga cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk juga dari gaji Minthul.

Nah, masalah mulai muncul di tahun ketiga pernikahan. Entah kenapa, Tole mendadak ingin beli motor sport. “Bahkan, ternyata dia sudah nabung untuk uang muka. Jadi, dia tiba-tiba udah bawa motor sport ke rumah,” terangnya.

Tak hanya Minthul, keluarga besar juga kaget dengan keputusan Tole itu. Seharusnya, uang itu bisa berguna untuk kebutuhan yang lain. Misalnya, untuk uang muka beli rumah. Tapi percuma, ibarat nasi sudah menjadi bubur, keluarga Minthul akhirnya mendiamkan saja.

“Alasan Tole biar saya bisa punya motor untuk pergi kerja. Jadi, dia malah beli motor sport yang gunanya pasti buat gaya-gayaan,” terangnya. Buntutnya, karena cukup mahal, berdampak pada gaji Tole. Cicilan motor sport itu cukup menguras kantong. Konsekuensinya, uang bulanan untuk Minthul distop.

Keputusan itu tak hanya dipertanyakan Minthyul, namun juga mertuanya. “Kalau pakai gaji saya saja jelas gak cukup. Soalnya kebutuhan anak juga banyak. Tole pun juga gak bisa berbuat apa-apa. Soalnya, selain buat bayar cicilan, gaya hidup dia seperti nongkrong, makan di luar gak bisa diubah,” ujarnya.

Akibatnya pertengkaran pun tak bisa terelakkan. Bahkan, keluarga Minthul meminta Tole untuk menjual motornya daripada keluarga tak makan. Tapi, Tole malah bersikap kasar dan pergi dari rumah. Tak lagi mau kembali karena sakit hati. “Pas pergi eh malah sama sekali gak kasih uang juga. Karena dianggap sudah lama tak menafkahi lahir batin, ya sudah saya pilih cerai saja,” katanya kesal.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia