Jumat, 16 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Alhamdulillah, Kondisi Nur Fatimah Membaik usai Dirujuk ke Surabaya

Kamis, 15 Mar 2018 12:00 | editor : Muhammad Fahmi

hidrosefalus, bayi, benjolan di kepala, liprak kulon, banyuanyar

DEMI KESEMBUHAN: Bayi Nur Fatimah saat berada di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Rabu (14/3), Nur Fayimah dirujuk ke RS PHC Surabaya. (Dok. Radar Bromo)

KRAKSAAN - Kondisi Nur Fatimah, bayi yang memiliki penyakit kelainan bawaan sejak lahir, terus membaik. Rabu (14/3) sekitar pukul 09.00, bayi asal Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, itu dirujuk ke Rumah Sakit Port Health Center (PHC) Surabaya.

Hasil observasi sementara, pihak medis RSUD Waluyo Jati Kraksaan mencurigai jika bayi malang itu menderita crouzon syndrome. “Penyakit yang diderita itu, salah satu penyakit langka yang disebut kongenital,” kata dr. Komang Ayu R Purnamaningsih, dokter spesialis anak RSUD Waluyojati.

Dr. Ayu –sapaan akrabnya – menjelaskan, kondisi fisik kepalanya tidak normal sebagaimana anak pada umumnya. Bentuk kepala yang seperti itu, disebut dengan brachycephaly. Begitu pula dengan bagian wajahnya. Khususnya mata sebelah kiri. Mata yang menonjol keluar itu, disebut exofthalmus.

“Melihat dari kondisinya, kami mencurigai pasien bayi ini mengalami penyakit crouzen syndrome,” tuturnya. Karena itulah, Nur Fayimah dibawa ke RS PHC agar mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk mendukung bukti-bukti dan hasil diagnosa.

Beruntung, saat pasien masuk ke rumah sakit, kondisinya stabil. Begitu juga setelah sehari semalam dirawat, bayi Nur Fatimah dalam kondisi baik. Kondisi bayi itu dalam keadaan stabil. Tidak ada batuk, demam, pilek, dan kejang.

Meski kondisi bayi stabil, untuk bisa sembuh total layaknya anak pada umumnya, akan sulit terjadi. Sebab, kondisi itu sudah terjadi sejak lahir.

“Semoga saja bisa sembuh. Meskipun, tidak bisa sembuh secara total kembali normal. Karena secara logika, kalau bagian otak sudah terkena kelainan, maka akan mempengaruhi bagian yang lain,” terangnya.

Ia menjelaskan, dugaan penyakit yang diderita Nur Fatimah, bukan faktor turunan. Sebab, anak tersebut sudah mengalami kecacatan sejak masih dalam rahim.

Soal kemungkinan faktor usia perkawinan yang terlalu rentang jauh atau tua, bisa menjadi salah satu faktornya. Tetapi, semua itu menurutnya tidak dapat dipastikan.

“Kami tidak dapat memastikan salah satu faktor menjadi penyebab penyakit tersebut. Sebab, penyakit syndrome itu menyangkut banyak faktor. Siapa saja bisa terkena,” ungkapnya.

(br/mas/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia