Jumat, 19 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Tak Bisa Mandiri, Istri Relakan Suami Minggat

Minggu, 04 Feb 2018 17:12 | editor : Fandi Armanto

ono ono ae, tole, minthul

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

MENUMPANG di rumah mertua tidak selamanya enak. Jika tak cocok, maka bisa memicu prahara. Seperti itulah yang dirasakan Tole (nama samaran), 28, warga Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Oleh mertuanya, Tole dianggap tak berupaya untuk mandiri.

Minthul (juga nama samaran), 27, istri Tole mengatakan, selama empat tahun menjalani biduk rumah tangga, pasutri ini masih menumpang di rumah orang tuanya. Namun, karena dinilai terlalu lama menumpang, orang tua Minthul lama-lama memang jadi tidak suka.

“Kami akui, sudah bertahun-tahun ikut orang tua. Tapi, kondisi kami memang tak memungkinkan untuk cari kontrakan,” ujarnya. Pendapatan Tole sebagai kepala rumah tangga, terbilang pas-pasan.

Mungkin, beda persoalan ketika Minthul masih bekerja di pabrik seperti dulu. Tapi, itu dulu. Pasalnya, setelah anak kedua mereka lahir, Minthul harus fokus mengurus anak. Keputusan untuk resign dari perusahaan tempatnya bekerja, juga mempertimbangkan keluhan orang tuanya yang mengaku capek mengurus cucunya.

“Mau menabung buat ngontrak rumah juga susah karena itu kita tetap bertahan di rumah orang tua,” ungkapnya. Meskipun, rumah yang mereka diami memang kecil. Sehingga, mereka harus berdesak-desakan sekadar untuk tidur.

Orang tua Minthul mulai mengeluhkan anak dan menantunya yang tak kunjung pindah itu, sejak 2 tahun terakhir. Apalagi, setelah Minthul melahirkan anak kedua. Maklum, anak kecil memang suka ramai dan membuat rumah berantakan. Kondisi ini tidak dimaklumi orang tua Minthul.

Baik Minthul maupun Tole, sempat berpikiran untuk pindah ke tempat orang tua Tole. Namun, di rumah orang tua Tole sendiri juga tak memungkinkan. Lantaran kedua saudara Tole yang sudah menikah, juga masih menumpang di sana.

Karena itu, sudah dua tahun ini Tole, menurut Minthul, sering disindir orang tuanya lantaran dianggap tak bisa mengayomi keluarga. Minthul mengatakan, bukannya Tole tak berusaha. Namun, gajinya sebagai buruh pabrik, hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari.

“Ya kan butuh buat susu, makan, bahkan Tole pun sebenarnya ikut bantu makan keluarga saya,” terangnya. Seringkali Tole jadi sasaran bila rumah berantakan maupun kotor. Termasuk ketika di kamar mandi ada tumpukan baju kotor yang belum dicuci. Apalagi jika Tole pulang larut malam dan uang bulanan untuk dapur berkurang.

“Seperti mencari-cari kesalahan suami saya terus,” ungkap Minthul. Tole yang sekian lama bersabar karena terus-terusan disindir, akhirnya muntab juga. Tak kerasan berada di rumah mertua, Tole akhirnya minggat meninggalkan Minthul dan anaknya.

Anehnya, Minthul seperti merelakan suaminya pergi. Ia tak berusaha ikut pergi dengan suaminya. Malah Minthul menggugat cerai sang suami. “Memang tidak bisa dipertahankan. Saya pasrah saja. Akhirnya saya gugat cerai,“ katanya enteng.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia