Sabtu, 17 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

-- Sartini --

Minggu, 04 Feb 2018 10:30 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, sartini

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

JATUH cinta pada janda penjual dawet membuat hidup Mugeni agak berantakan. Di depan teras kontrakanku, pada suatu subuh, bocah pengangguran ini tersungkur dengan mulut berdarah-darah.

Kutanya ada apa, lalu dia bilang: "Jatuh cinta membuat hidup ini ribet!"

Tentu saja aku paham yang Mugeni maksud adalah Sartini, si penjual dawet yang berjualan sejak jam enam pagi itu, dan remaja sembilan belas tahun sepertinya jelas tak bakal mendapat jalan mulus untuk mencumbu seorang janda, tanpa mendapat omongan sana-sini yang tak sedap. Namun, bagaimana bocah ini bisa babak belur begitu, aku tak benar-benar tahu.

Aku baru tahu setelah di hari yang sama, tepat jam delapan pagi, ibu-ibu yang hobi ngerumpi sedang berkumpul di balai dusun untuk mengimunisasi anak-anak mereka.

Di antara ibu-ibu bermulut lancip itu, kudengar Bu Markonah berkata, "Wah, wah, Mugeni itu memang suka cari masalah. Sudah tahu pacar orang, masih dikejar-kejar juga!"

"Memangnya bagaimana ceritanya, Bu?" sahutku yang akan berangkat kerja, yang membuat ibu-ibu itu segera memandang penuh antusias.

Mereka saling bergiliran menjelaskan kepadaku, yang mereka tahu sebagai teman Mugeni, bahwa dini hari di pasar, preman galak yang mengaku pacar Sartini menghajar Mugeni habis-habisan.

Aku tahu Mugeni memang kurus dan tidak berpenghasilan, tetapi dia masih sangat muda dan ada banyak harapan di depan sana yang dapat dia raih, jika dia mau. Masalah yang temanku itu hadapi hanya satu: wataknya yang pemalas.

Sayangnya, Mugeni tidak juga sadar diri. Jatuh cinta membuatnya kerap berangan- angan bahwa suatu hari nanti si janda yang jualan dawet itu akan dia nikahi, dan mereka akan sama-sama berjualan dawet untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Jadi, aku dan janda manis itu bakalan jualan setiap hari, selayaknya suami istri di banyak warung dan pasar yang biasa orang temui. Yang laki-laki bagian berat-berat, lalu yang perempuan bagian yang ringan. Aku bagian cuci gelas dan belanja kebutuhan buat memasak dawet dan memikul segala macam keperluan warung, sedangkan Sartini yang menjual ke para pelanggan," kata si Mugeni yang menikmati lamunannya.

Memang, itu lamunan yang cukup sempurna dan menghibur untuk seorang jobless yang sedang dilanda asmara.

Tapi, bagiku yang sudah berumah tangga, lamunan itu tak ada gunanya sama sekali. Mugeni harus benar-benar beraksi, jika ingin penjual dawet itu jatuh cinta kepadanya juga, dan rela menjadi istrinya. Mugeni juga harus tahu apa yang mesti dilakukan oleh pemuda yang jatuh cinta.

Mugeni hanya gemar melamun dan jarang bertindak, misalnya sekadar menyapa si Sartini saja, harus kudorong beberapa kali, dan itu pun tak pernah berhasil. Mugeni tak berdaya saat berdiri di depan janda manis yang dia sukai itu, dan pada akhirnya pulang dengan tangan kosong.

Sekarang, nasib temanku jadi lebih tragis. Sebelum ia benar-benar berjuang untuk Sartini, seorang yang konon adalah pacar penjual dawet itu menghajarnya tanpa ampun. Ibu-ibu tukang rumpi jelas tahu dan bisa membaca gelagat yang Mugeni tampilkan tiap pagi di pasar; anak itu sering berkeliaran tak jelas di seputar warung Sartini, meski tidak pernah membeli dawet. Sesuai dugaanku, orang-orang mengerti betapa si pengangguran ini menyukai seseorang dan bermaksud mendekatinya.

Bu Markonah menutup penjelasan tentang kejadian di pasar dengan kalimat yang cukup menggiriskan, "Temanmu itu bahkan tak membalas sama sekali, dan seakan-akan dia memang datang ke situ untuk menyerahkan diri ke pacarnya Sartini!"

Sorenya, setelah tahu bagaimana Mugeni terkapar di terasku pada subuh hari, anak itu kuhampiri dan kuserbu dengan banyak pertanyaan. Mugeni cuma tersenyum dan tak semua pertanyaanku dijawab. Dia lama-lama lelah dan bosan dengan sikapku yang agak over-protective kepadanya.

Kubilang, "Aku temanmu, dan meski umurku empat tahun lebih tua, di mana-mana, yang namanya teman harus saling mengingatkan!"

"Iya, mengingatkan kalau aku harus bergerak cepat buat mengawini Sartini, bukan? Kalau itu masalahmu, Mas, mending pergi sana dan tak usah memberiku wejangan tiap hari yang hanya akan membuatku stress!" tukas Mugeni tanpa kuduga-duga.

Akhirnya, sejak sore itu aku tidak bicara dengan Mugeni.

Kubiarkan dia yang amat sangat pasif itu mencintai tanpa bisa memiliki. Dalam nasihat terakhirku sempat kuucap bahwa preman tersebut belum tentu juga pacar Sartini. Ibu-ibu tukang rumpi juga ada yang yakin dengan pemikiran ini. Bahwa sebelum seorang gadis mengatakan apa yang perlu dikatakan pada lelaki busuk yang mencintainya, suatu kabar bisa jadi adalah hoax, dan melawan hoax memang bukanlah perkara gampang.

"Ingatin temanmu itu," tambah seorang ibu berambut keriting kali itu, "orang cinta memang harus berjuang, tapi jangan bodoh begitu. Semua kudu dipastikan. Itu sih kalau memang temanmu beneran cinta."

Sampai kira-kira sebulan kemudian, saat kondisi pertemananku dan Mugeni balik seperti semula, kami sudah benar-benar tahu betapa Sartini tidak pernah memiliki pacar, apalagi suami.

Ternyata, preman yang menghajar temanku subuh-subuh saat itu adalah mantan suami Sartini, yang masih menyukainya, tetapi penjual dawet itu sudah muak, sebab suaminya enggan bekerja dan cuma minta duit dan kehangatan setiap hari.

Kabar ini dapat dijamin keakuratannya, sebab kuperoleh dari seorang penjual es batu, yang merupakan mitra bisnis Sartini selama berjualan dawet di pasar. Es batu dan dawet adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, begitulah yang kupahami sebagai orang yang menyukai es dawet.

Maka, kepada Mugeni, kusampaikan suatu hal, "Ini menjelaskan semua yang ada di khayalanmu itu belum tentu benar sesuai kenyataan. Sartini tidak suka dibantu-bantu di warung dawet seperti imajinasimu. Sartini tidak seperti perempuan lain yang jualan di warung ditemani suami. Bukan berarti perempuan yang berjualan di warung dengan suami masing-masing itu pemalas. Prinsip mereka saja yang berbeda."

Mugeni tidak membantah perkataanku kali ini. Dia bilang, dia akan mencari kerja, ke mana pun, bahkan ke ujung dunia, agar Sartini melihatnya sebagai laki-laki andalan yang bukan pemalas seperti mantan suaminya, dan agar penjual dawet yang manis bagai gula batu itu melihatnya sebagai sosok yang bertanggung jawab.

Aku tahu kali ini Mugeni memang serius. Kutambahkan saran terakhir agar dia tak lupa mandi setiap pagi. Menjaga kebersihan adalah salah satu cara yang tidak bisa kita abaikan kalau ingin mendekati perempuan. Saran terakhirku membuat Mugeni tertawa terpingkal-pingkal dan bersumpah tidak akan malas mandi lagi sejak hari ini.



Oleh: Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media.

(br/rf/jpk/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia