Jumat, 19 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Kirim Surat ke Istri untuk Minta Izin Kawin Lagi

Rabu, 17 Jan 2018 11:15 | editor : Fandi Armanto

ono-ono ae, tole, minthul, rumah tangga, kawin lagi

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

TOLE (nama samaran), 45, warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ini tergolong mbeler. Keinginannya untuk menikah lagi, seolah tak terbendung. Karena itu, ia mengirim surat pada Minthul (juga nama samaran), 38, istrinya yang berada di Malaysia untuk menikah lagi.

Tentu saja, Minthul menolak mentah-mentah. Ia menegaskan tidak mau dimadu. Apalagi, selama ini dirinya yang banting tulang untuk mencari uang sampai menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di negeri jiran. Geregetan, pernikahan mereka pun harus berakhir di Pengadilan Agama (PA) Bangil.

Minthul mengaku kesal dengan tingkah polah suaminya. Padahal, tercatat 2 tahun inilah, Minthul yang kerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Lha, ini bukan terima kasih, eh malah minta izin kawin lagi. Pake surat lagi, gak berani ngomong langsung di telepon,” ujarnya.

Pernikahan Minthul dengan Tole memang sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Dari pernikahannya itu, mereka sudah memiliki 3 orang anak. Namun, dengan pekerjaan Tole yang serabutan, mulai dari buruh bangunan sampai buruh tani, membuat ekonomi keluarga tak stabil.

Minthul mengatakan, dulu pekerjaan Tole masih bagus yaitu sebagai tukang mebel. “Tapi ya karena juragannya sepi, akhirnya berhenti. Ganti kerja serabutan,” ujarnya.

Minthul sendiri, dulu bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, sejak lahiran anak pertama, ia memilih berhenti dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Hanya saja, saat ia berhenti bekerja, keuangan keluarga seret. Karena tak kuat hidup serba kekurangan, Minthul akhirnya mengikuti jejak sepupunya, bekerja ke luar negeri.

Dengan modal pinjam sana-sini, akhirnya Minthul pun bisa berangkat ke Malaysia. Setelah itu, Minthul yang paling banyak berkontribusi dalam keuangan keluarga. Meski Tole juga bekerja, namun hasilnya masih kalah jauh dengan Minthul.

Tentu saja, konsekuensi yang harus mereka tanggung adalah berjauhan. Minthul yang menyadari hal itu, mengaku masih rutin kirim kabar lewat telepon. “Ya kangen, tapi rutin telepon seminggu sekali lah minimal,” ujarnya.

Awalnya, Minthul merasa tidak ada masalah dalam keluarganya. Memang ada rasa kangen rumah, kampung halaman, termasuk suami dan anak. Namun, Minthul mengaku harus bertahan. Terpenting, perekonomian keluarga stabil.

Hanya saja, itu hanya berlangsung dua tahun saja. Pasalnya, kondisi mereka yang berjauhan, akhirnya memicu masalah. Tak ada hujan tak ada angin, eh tiba-tiba ada kiriman surat buat Minthul dari suaminya. “Saya kaget, kok dapat surat? Padahal, selama ini masih rutin telepon,” ujarnya.

Dengan hati gelisah, Minthul membaca isi surat dari sang suami. Bak disambar petir di siang bolong, isi surat itu menceritakan kegalauan Tole selama ditinggal dia bekerja. Di akhir surat, Tole meminta izin untuk menikah lagi. Bahkan, sudah ada calon yang mau untuk dinikahinya.

“Rasanya, jantung kayak mau copot. Gak percaya saya, coba telepon suami. Dia cuma diam. Katanya, tetap bermaksud seperti isi surat yang ditulis,” ujarnya. Namun, karena ogah dimadu, Minthul tak mau mengizinkan suaminya kawin lagi. Sepulangnya ke Indonesia, Minthul pun memilih bercerai dari sang suami.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia