Jumat, 19 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Istri Banting Tulang Jadi TKI, Suami Asyik Bersantai di Rumah

Minggu, 14 Jan 2018 11:30 | editor : Muhammad Fahmi

ono-ono ae, tole, minthul, rumah tangga

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

NIAT Minthul (nama samaran), 37, warga Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan untuk bekerja ke luar negeri menjadi tenaga kerja wanita, justru menjadi bumerang bagi rumah tangganya. Ini lantaran suaminya, Tole (juga nama samaran), 36, jadi malas bekerja dan hanya menggantungkan hidup dari kiriman istrinya.

Minthul geregetan dengan perilaku suaminya. Betapa tidak, sudah 3 tahun bekerja di luar negeri, eh suaminya tak menunjukkan keseriusan yang sama. “Ya kecewa dan marah. Saya banting tulang cari uang, suami malah enak-enakan di rumah mengharapkan kiriman uang dari saya,” ujarnya.

Dulu, kehidupan ekonomi mereka memang serba sulit. Apalagi setelah Tole di PHK dari pabriknya bekerja. Sehingga Tole sempat beberapa kali ganti pekerjaan. Mulai dari sales, sopir, pegawai toko. dan lain sebagainya.

Namun, selama ini tak ada pekerjaan yang gajinya memuaskan mereka.  Apalagi, kebutuhan rumah tangga dengan dua anak, makin tinggi. Ekonomi mereka semakin sulit. Gara-gara kesulitan ekonomi itu, pasangan suami istri (pasutri) ini, tak memperpanjang kontrakan. Mereka memilih kembali ke rumah orang tua Minthul.

Di tengah kondisi yang serba sulit itu, Minthul yang sebelumnya jadi ibu rumah tangga, harus memutar otak agar bisa mendapatkan penghasilan lebih. “Kalau pendapatan dari Tole jelas gak cukup, wong kurang terus,” ujarnya.

Akhirnya, mau tidak mau Minthulpun ikut bekerja. Dari jaga warung, sampai menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Nah, dari situ ada yang menyarankan Minthul menjadi TKI saja. “Ya saya tertarik. Akhirnya modal pinjaman buat persiapan dan berangkat 3 tahun lalu ke Malaysia,” jelasnya.

Minthul mengaku memang benar-benar berat, jika harus berpisah dari anak dan suami. Namun, karena kebutuhan ekonomi mendesak, tak ada pilihan lain. Syukurlan, setelah bekerja di luar negeri, ekonomi keluarga semakin membaik. Hanya saja, sisi negatifnya, Tole malah seperti tak ada upaya untuk melakukan hal yang sama.

Setelah rutin dapat kiriman uang, Tole malah memilih berhenti bekerja dari pegawai toko. “Katanya sih dipecat, tapi setelah saya cari tahu, Tole sendiri yang memilih berhenti,” terangnya.

Awalnya, Minthul memilih diam saja. Ia berharap suaminya segera cari kerja lain. Karena bagaimanapun, kewajiban mencari nafkah ada pada suami. Tapi nyatanya, sampai 3 tahun Minthul di negeri tetangga, Tole tak kunjung mendapat pekerjaan.

“Dia hanya santai aja di rumah. Ini membuat saya sepaneng. Saat saya pulang kampung, langsung saya usir saja. Jengkel saya melihat dia yang enak-enakan. Setelah saya usir, saya juga menggugat cerai dia. Lebih baik begini, biar saya tenang bekerja di luar negeri hanya untuk anak-anak,” jelasnya.

(br/eka/mie/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia