Jumat, 19 Oct 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Suami Hobinya Touring, Tapi Pelit Sama Istri

Senin, 11 Dec 2017 11:00 | editor : Fandi Armanto

tole, minthul, ono ono ae

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

KEINGINAN Minthul (nama samaran), 24, warga Gempol, Pasuruan untuk ikhlas menerima uang berapapun dari suaminya, Tole (juga nama samaran), 32, ada batasannya juga. Ini lantaran, saat rumah tangganya sudah dikaruniai 2 anak, pemberian Tole terlalu pas-pasan.

Yang membuat Minthul kecewa, Tole dinilai tak pernah jujur soal penghasilan. Sebab berkali-kali ditanya, Tole tak pernah mengaku, berapa bayaran yang diterima tiap bulan. Minthul akhirnya curiga, apalagi Tole tak pernah mau memberikan pin ATM. Lama-lama Minthul geregetan dan akhirnya memilih bercerai saja dari suaminya.

Minthul mengatakan bahwa pernikahannya dengan Tole adalah dari perjodohan orang tua. Selepas lulus dari pondok, Minthul yang saat itu sudah memasuki usia menikah, mulai dicarikan suami oleh orang tuanya.

“Saya yang gak pernah gaul sama lawan jenis, ya mau saja. Lagipula teman-teman usia saya saat itu memang sudah banyak yang menikah. Sehingga saya pun juga berkeinginan untuk segera berumah tangga juga,” cerita Minthul.

Akhirnya 5 tahun lalu, Minthulpun dikenalkan dengan Tole. Meskipun dari usia cukup terlampau jauh, Minthul mengaku tidak masalah. Toh pekerjaan Tole sebagai buruh pabrik bisa memberikan nafkah setiap bulannya.

Sehingga hanya berselang beberapa bulan, merekapun menikah. Minthul pun diboyong ke rumah orang tua Tole dan Minthulpun sepenuhnya mengabdi kepada suami setelah itu.

Setelah menikah, Minthul mengaku memang ikhlas dan tak banyak komentar terhadap berapapun uang belanja. Kendati Tole sebagai buruh pabrik yang penghasilannya tetap, Minthul tak pernah tahu berapa persisnya gaji Tole.

“Ya pemberiannya suka-suka dia. Kadang seminggu diberi uang Rp 200 ribu, kadang sebulan Rp 500 ribu, trus ditambahi lagi. Saya gak pernah protes,” jelasnya.

Dengan uang pemberian Tole sendiri, dicukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Kadang kala memang ada tambahan dari mertua entah membeli lauk atau nasi untuk makan. Namun dengan kondisi lahirnya anak dari yang pertama sama yang kedua, pemberian Tole tak pernah bertambah.

Termasuk setelah 5 tahun bekerja, Tolepun harusnya mendapatkan tambahan gaji. Pernah selentingan Minthul mencoba menanyakan besara gaji Tole. “Tapi Tole malah marah, katanya ikhlas saja berapapun yang dia kasih,” jelasnya.

Minthul bukannya tak ikhlas. Hanya saja Tole terlalu sering bersenang-senang sendiri, seperti ikut touring, sampai keluyuran gak jelas sampai tengah malam. Sedangkan kebutuhan 2 anak makin tinggi. Jelas pemberian Tole tak lagi cukup hanya dengan Rp 200-300 ribu perminggunya.

“Saya tanya baik-baik, uangnya mending buat anak jangan dihambur-hamburkan. Trus saya tanya berapa gaji Tole eh dia malah marah-marah,” jelasnya.

Karena Tole tak pernah mau jujur, Minthulpun mencoba mengecek sendiri dengan meminta pin ATM suaminya. Ini lantaran Minthul merasa Tole punya tabungan yang tidak di share dengan istri. Minthul beralasan bahwa suaminya terlalu pelit bahkan Minthul sampai kesulitan uang sampai pinjam ke tetangga.

“Padahal Tole punya uang, tapi gak mau kasih semua. Karena itu saya mau ngecek sendiri uang Tole. Tapi dia gak mau. Ya karena Tole gak pernah mau jujur soal penghasilannya saya jelas kecewa. Hidup terbatas tapi suami senang-senang sendiri,” ujarnya. Tak tahan lagi Minthulpun memilih bercerai saja di Pengadilan Agama (PA) Bangil.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia