Jumat, 20 Jul 2018
radarbromo
icon featured
Features

Begini Cara Pemerintah Desa Purwodadi Atasi Sampah di Lingkungan

Kamis, 12 Jul 2018 18:00 | editor : Fandi Armanto

bank, sampah, pemilahan

BERMANFAAT: Kegiatan bank sampah yang ada di desa Purwodadi. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)

KEBERADAAN sampah, utamanya sampah rumah tangga, selama ini sulit dikendalikan di Desa Purwodadi. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Desa Purwodadi pun membentuk bank sampah.

-------------

Pengelolaan sampah sempat menjadi polemik di Desa/Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Jumlah sampah yang terus meningkat, menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah desa (pemdes) setempat.

Belajar dalam kondisi itu, secara bertahap Pemdes Purwodadi pun berupaya mengurangi sampah dengan membentuk bank sampah sejak awal Februari lalu. Tidak dilakukan sendiri, warga setempat pun dilibatkan dalam pengelolaan bank sampah ini.

Secara keseluruhan, Desa Purwodadi punya empat dusun. Namun, saat ini baru dua dusun yang merintis pengelolaan bank sampah. Yakni, di Dusun Jatisari dan Parelegi.

“Sengaja kami bentuk bank sampah, tujuannya untuk menyelesaikan persoalan sampah di sini. Juga memberikan nilai ekonomis tambahan bagi masyarakat yang menjadi anggotanya,” ucap Kades Purwodadi Mulyono.

Mulyono menjelaskan, bank sampah memang memberikan tambahan ekonomi pada warga. Pengelolaannya di lapangan, tak beda jauh dengan koperasi.

Ada anggota dan pengurus di tiap unit bank sampah. Anggotanya tentu saja warga dusun setempat. Dan, mereka semua terlibat aktif dalam pengelolaan bank sampah.

Di tiap rumah warga yang sekaligus menjadi anggota bank sampah misalnya, sampah yang dihasilkan dipilih dan dipilah sendiri. Yaitu, yang memiliki nilai ekonomis atau bisa dijual dan yang tidak. Yang bisa dijual seperti kardus, kertas, plastik, besi, serta lainnya.

Semua sampah lantas disetorkan ke unit bank sampah di masing–masing dusun. Sampah yang bernilai ekonomis, dicatat nilai rupiahnya berdasarkan hasil timbangan. Selanjutnya, dijadikan tabungan yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh masyarakat atau anggotanya.

Untuk sementara, di bank sampah unit Jatisari sudah ada 130 anggota. Sedangkan di Parelegi hanya sekitar 44 anggota saja.

Nah, Pemdes Purwodadi bekerja sama dengan pihak ketiga sebagai pengepul atau pembeli sampah. “Kami kerja sama dengan pihak ketiga, sebagai pengepul yang membeli sampah bernilai ekonomis dari anggota di tiap bank sampah. Dengan model seperti ini, bisa maksimal dan mendapat respons baik dari warga,” tuturnya.

Agar lebih maksimal, ke depan pemdes setempat terus mengupayakan pengadaan sarpras pendukungnya di lapangan. Caranya, dengan mengajukan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan.

bank, sampah, pemilahan

BANTU MASYARAKAT: Sejak ada bank sampah, pengelolaan sampah di masyarakat jadi lebih bermanfaat. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)

(br/zal/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia