Jumat, 20 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
PERSEKAP

Tersingkir di Piala Indonesia, Ini Kata Pelatih Persekap soal Liga 3

Kamis, 12 Jul 2018 17:01 | editor : Fandi Armanto

persekap, kota pasuruan, the lasser, togog, perssu, sumenep

KALAH TERHORMAT: Skuad Persekap saat meladeni perlawanan Perssu dalam laga Piala Indonesia yang digelar di stadion Untung Suropati, Selasa (10/7) sore. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PANGGUNGREJO - Skuadra Persekap memang sudah tersingkir dari turnamen Piala Indonesia, usai kalah dalam drama adu penalti dengan Perssu Sumenep. Tim kebanggaan masyarakat Kota Pasuruan tersebut, masih memiliki peluang untuk berkompetisi di Liga 3 Zona Nasional, yang akan berlangsung 15 Juli mendatang.

Pelatih Persekap Asyari Cahyani juga sudah menerima kekalahan atas Perssu. Dia menyebut, para pemainnya hanya kurang beruntung lantaran kalah di adu titik 12. Namun, dia menyebut, secara utuh, tim Persekap sudah sesuai komposisi.

Asyari menyebut, saat meladeni Perssu Sumenep, skuadnya terdiri atas 70 persen pemain baru. Lebih dari 80 persen pemain usianya muda. “Tetapi, kerja sama di semua lini sudah bagus. Ini, menandakan kami sudah siap untuk menghadapi Liga 3 Zona Nasional,” beber Asyari.

Meski Perssu membuat gol penyama usai persekap sempat leading lebih dahulu, Asyari menilai, itu wajar dalam sepak bola. Pemain belakangnya sudah berupaya, tetapi dalam sepak bola, keberuntungan memang sangat erat. “Pemain kecolongan hingga akhirnya laga dilanjut dengan penalti,” terang Asyari.

Terlepas kekalahan dari adu penalti, Asyari menyebutkan, semua pemain sudah berupaya. Dia pun tak sungkan untuk memuji para pemainnya, yang disebutkan sangat bersemangat meski sudah beberapa bulan ini belum menerima honorarium.

“Inilah yang menjadi persoalan kami. Apapun juga, pemain tetap butuh pemasukan. Selama ini, pemain belum mendapat bayaran dan datang berlatih dengan loyalitas. Sejauh ini semangat pemain sangat bagus. Namun, entah di kemudian hari. Jelas, pemain butuh (honorarium) untuk beli bensin, menghidupi keluarga, dan lainnya,” terang Asyari.

Hal serupa juga diungkapkan Edy Hari Respati, ketua PSSI Askot Pasuruan. Dia menyatakan, sejauh ini masih mengupayakan pencairan dana hibah dari KONI untuk PSSI. Menurut dia, aturan yang dibuat KONI, memang sangat susah.

“Yang menjadi persoalan, cabor PSSI disamakan dengan cabor lainnya. Ini, yang sulit. Tidak mungkin cabor sepak bola disamakan dengan cabor lain. Misalnya untuk honor pemain dan pelatih, termasuk dana training center. Nah, ini kan yang sulit,” terang Didik, panggilan akrab Edy Hari Respati.

Lelaki yang belum lama ini mengajukan pensiun dini dari PNS Pemkot Pasuruan tersebut menyebutkan, proses pencairan juga beberapa kali terkendala kelengkapan pengurus KONI. “Saat pengajuan untuk tanda tangan, pengurus KONI harus lengkap semua. Nah, ini juga menjadi kendala,” terang Didik.

Namun, Didik menilai, untuk memajukan sepak bola khususnya Persekap, perlu peran pemerintah untuk ikut andil. Tak hanya mendukung melalui dana dari KONI. Minimal, pemerintah ikut peduli dengan sepak bola.

“Bukan untuk membandingkan. Tapi, tanpa peran pemerintah, sepak bola sangat susah untuk maju. Begitu juga untuk mengembalikan Persekap ke liga profesional. Semuanya butuh dukungan banyak pihak,” beber Didik.

(br/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia