Kamis, 19 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Sering Diberi Makanan Sisa oleh Mertua

Sabtu, 23 Jun 2018 08:15 | editor : Fandi Armanto

Ono-ono Ae, Minthul

ILUSTRASI (Achmad Saifudin Abdillah)

TINGGAL bersama mertua memang tidak mudah. Apalagi saat menantu tidak dianggap anak sendiri. Inilah yang dialami Minthul (nama samaran), 20, warga Beji, Kabupaten Pasuruan ini. 

Selain diperlakukan seperti pembantu, Minthul hanya boleh makan setelah semua anggota keluarga makan. Kondisi ini jelas membuat Minthul merasa sangat nelangsa. Selain sering kehabisan lauk, Minthul hanya makan nasi dan sayur seadanya. Tak tahan lagi diperlakukan seperti itu, Minthul memilih minggat dan cerai. 

Minthul dan Tole (juga nama samaran), 28, sendiri sudah menikah 2 tahun. Selama menikah itu, Minthul tidak pernah dianggap sebagai keluarga sendiri. Awalnya, Minthul menerima saja diperlakukan seperti itu. Minthul sadar, dirinya hanya numpang hidup setelah menikah dengan Tole.

“Setelah menikah saya diboyong ke rumah keluarga Tole. Sebagai orang baru, ya saya nurut saja disuruh ini itu. Hitung-hitung sebagai bentuk berbakti juga kepada mertua,” ceritanya.

Pernikahan Minthul dan Tole sendiri terjadi atas perjodohan keluarga besar. Saat itu, Minthul baru lulus dari sebuah pondok pesantren. Keluarganya lantas berencana segera menikahkan Minthul. 

Kebetulan, bibinya mengenalkan Minthul kepada Tole. Laki-laki yang juga mencari istri dan sudah memiliki pekerjaan tetap di sebuah perusahaan.

Proses perkenalan sampai akhirnya lamaran, berjalan lancar. Kedua keluarga besar mendukung pernikahan tersebut. Sampai akhirnya setelah menikah, Minthul diboyong ke rumah orang tua Tole.

Nah, kehidupan rumah tangga baru terasa saat Minthul jauh dari orang tua dan ikut suami. “Awalnya shock, sama suami tidak begitu kenal termasuk keluarganya. Jadi, saya nurut saja disuruh ini itu. Kerja ini itu dari pagi buta sampai malam hari,” jelasnya.

Capek sudah pasti, tapi Minthul tidak punya pilihan lain. Sebab, sudah menikah dan harus nurut suami. Tole sendiri dikatakan Minthul, serba cuek. Kerja dari pagi dan baru pulang malam hari. Sehingga, Minthul seharian bersama keluarga Tole.

Yang bikin Minthul jengkel, hampir semua pekerjaan rumah harus Minthul yang mengerjakan. Mulai pagi buta membuat sarapan, mengurus rumah, mencuci, setrika, sampai mengasuh keponakan yang tinggal bareng mereka. 

Tidak hanya itu. Pekerjaan Minthul selalu saja dipantau, bahkan tak sekali dua kali dihina karena dinilai tidak benar. Yang bikin jengkel, Minthul baru boleh makan setelah semua anggota keluarga makan.

Meskipun lapar melilit, Minthul tidak berani makan. Dia harus menunggu semua keluarga makan. Yang bikin nyesek, sering kali Minthul kehabisan lauk dan hanya makan seadanya. Yaitu dengan nasi dan sayur saja. Mau masak lagi untuk diri sendiri, juga tidak bisa. Sebab, semua jatah dipantau dan pas-pasan. 

“Keluarga Tole memang banyak, ada orang tuanya lengkap, kakak dan adik, termasuk kakak laki-lakinya yang sudah menikah dan punya tiga anak kecil,” jelasnya.

Tidak betah hidup seperti itu, Minthul pun memilih minggat. “Awalnya mereka minta balik lagi, tapi saya sudah sakit hati. Nggak mau diperlakukan seperti itu. Tole juga nggak mau tinggal di rumah keluarga saya. Karena nggak ada titik temu, ya sudah saya minta cerai saja dan ngurus di Pengadilan Agama Bangil,” pungkasnya. 

(br/fun/eka/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia