Sabtu, 21 Jul 2018
radarbromo
icon featured
Features

Rif’an Nur Anisah, Sulap Limbah Kerang jadi Kerajinan Cantik

Jumat, 22 Jun 2018 12:30 | editor : Fandi Armanto

perajin, kerajinan, kulit kerang

BUATAN TANGAN: Rif’an Nur Anisah bersama kerajinan tangan dari kerang buatannya. (Erri Kartika/Radar Bromo)

POTENSI hasil laut di Kabupaten Pasuruan cukup tinggi, termasuk hasil kerangnya. Sayangnya, kulit kerang selama ini hanya dibuang dan menjadi limbah. Namun, di tangan Rif’an Nur Anisah, warga Grati, limbah kerang dijadikan kerajinan bernilai tinggi. Bahkan, dipasarkan hingga ke luar pulau.

---------------

Ratusan pernak-pernik kerajinan berjajar rapi di etalase kaca di ruang tamu milik Rif’an Nur Anisah, 38, warga Desa Gratitunon, Kecamatan Grati. Mulai dari gantungan kunci, vas bunga, tempat tisu, sampai hiasan meja dan lampu hias yang menarik perhatian. Uniknya, kerajinan ini terbuat dari kulit-kulit kerang bermacam bentuk.

Rif’an –sapaan akrabnya – mengatakan, asal mula dirinya terjun ke kerajinan kulit kerang justru tidak sengaja. “Awalnya karena saya jalan-jalan di pantai Pasir Panjang yang ada di Lekok, Kabupaten Pasuruan. Di pinggir-pinggir pantai itu saya sedih kok banyak kulit-kulit kerang yang dibuang saja. Bahkan, dianggap limbah,” terangnya.

Menurutnya, kulit kerang sejatinya bisa sangat termanfaatkan. Tapi, bagi nelayan setempat, kulit kerang ini justru dibuang ataupun dijual ke luar dengan sangat murah. Saat itu sekitar tahun 2011, Rif’an pun membawa 1 baki kulit kerang yang dikumpulkannya dari Pasir Panjang Lekok, setelah itu mulai dicobanya membuat kerajinan sederhana.

Ibu 2 anak ini mengatakan, bahwa sebelumnya, dirinya sudah terbiasa membuat kerajinan dari pita. Baik untuk aksesori sampai bros. Kerajinan mengolah limbah kerang tersebut dilakukan saat dirinya bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan.

“Tapi, setelah hamil anak kedua, saya memilih berhenti. Dan, di tahun 2011 itulah benar-benar fokus untuk mengembangkan kerajinan handycraft,” jelasnya.

Rif’an cukup beruntung karena keluarganya memiliki toko di depan Pasar Grati. Sehingga, hasil kerajinannya di-display dan selalu laku dibeli. Termasuk saat Rif’an mulai merambah kerajinan kulit kerang, hasil kerajinannya yang awalnya pigura selalu laku dibeli orang.

Merasa bahwa kerajinan kulit kerang cukup menjanjikan, Rif’an pun mulai mencoba berbagai kreasi lain. Mulai dari tempat tisu, gantungan kunci, sampai lampu hias. Awalnya kulit-kulit kerang yang diambil di Lekok diambil dengan gratis.

“Tapi, karena jenis kulit kerang di Lekok masih kurang variasi, saya ambil juga kulit kerang dari Situbondo yang lebih bervariasi untuk aksen handycraft-nya,” jelasnya.

Untuk kulit kerang yang diambil dari limbah, memang butuh pembersihan ekstra. Biasanya dibutuhkan larutan HCL agar pasir-pasir yang menempel bisa rontok. Setelah itu, baru dipisah berbagai ukuran. Baru kemudian dirangkai menjadi hiasan.

Dari awalnya Rif’an saja yang membuat, ia akhirnya merekrut adik, ibu, juga sepupunya sebanyak 3 orang. Setelah itu, sekitar tahun 2012, Rif’an ikut ke Asosiasi Pengeloah dan Pemasar Hasil Perikanan, di tahun itu juga dibentuklah Kelompok Usaha Mina Arshi Bahari.

Dari kelompok usaha ini, saat ini sudah ada 9 orang yang ikut serta. Bahkan, 7 orang adalah IRT. Rif’an mengatakan, karena dirinya adalah kader gizi di desanya, maka tak sulit mengajak kader lainnya yang juga berprofesi sebagai IRT untuk ikut serta.

“Jadi, selain belajar, juga untuk tambahan penghasilan. Untuk membuatnya juga bisa dibawa pulang, sehingga tetap bisa merawat keluarga,” jelasnya. Selain rutin berproduksi, untuk pemasaran kelompok usahanya, ia juga rutin mengikuti berbagai pameran yang diikuti oleh Disperindag dan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan.

Menurutnya, kerajinan kulit kerang justru pangsa pasarnya yakni menengah ke atas yang paling ramai. “Kalau yang menengah ke bawah, biasanya paling laris untuk oleh-oleh seperti gantungan kunci. Sedangkan handycraft seperti vas atau lampu hias disukai untuk menengah ke atas,” jelasnya.

Untuk harga hasil kerajinan kulit kerangnya, untuk lampu hias dari harga Rp 300-350 ribu, vas bunga dari harga Rp 20-30 ribu, hiasan meja dan tempat tisu seharga Rp 50 ribu.

Kunci agar bisa laris, hasil kerajinan harus rapi dan desainnya mengikuti tren. Bahkan untuk meningkatkan pasar, sejak tahun 2017 sudah mulai dijual lewat online baik dari media sosial sampai ikut situs jual beli UKM. “Dan ternyata laris, selain dari Pasuruan sendiri juga banyak yang pesan dari Bali, Sumatera, sampai Kalimantan,” jelasnya.

Untuk menjual secara online memang ada suka-dukanya. Ia pernah tidak dibayar sampai kesulitan memenuhi permintaan karena faktor tenaga kerja. Namun ke depan, Rif’an mengaku bahwa kerajinan kulit kerang masih terus diminati. “Jadi, akan terus dikembangkan lagi, baik lebih memperbaiki pengemasan sampai ke desain-desain handycraft yang lebih modern,” jelasnya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia