Kamis, 19 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Sungai Pembelah Kota

Minggu, 20 May 2018 13:15 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, sungai pembelah kota

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

MENDUNG yang menggelayut memberati wajah langit, pori-porinya membesar membentuk awan-awan mendung, dan pada akhirnya membasahi wajah abu-abu yang kelak bergerak menjadi biru atau jika bernasib mujur, warna yang lebih beragam akan muncul di permukaan. Berbatasan air sungai, seorang laki-laki berwajah kecoklatan dan setelahnya seorang perempuan berwajah putih sedang saling berpandangan. Pandangan penuh makna.

***

Di masa tumbuh remaja, dialah murit pribumi yang paling pintar. Sampai-sampai anak-anak kolonial menyebut-menyebutnya di sela-sela bangku kayu pagi itu. Laki-laki. Pintar membaca, berhitung, dan berbahasa Jepang. Penampilan sederhana, baju dari karung goni dan celana pendek coklat lusuh seperti warna kulitnya tidak merusak karismanya di depan perempuan-perempuan rok putih keturunan Jepang.

Tepat sekali, laki-laki itu bukan anak bangsawan, dia sebatang kara yang mendapat nasib baik dari majikan bangsawan. Seorang jenderal di sebuah kota yang dipenuhi pedagang rempah-rempah. Jenderal yang ia jadikan majikan sejak peristiwa mengerikan beberapa tahun lalu, ketika kemurungan melanda seluruh kota dan kelompok-kelompok jenderal yang diburu karena tergabung dalam kelompok yang dianggap pemberontak oleh pihak berwenang.

Laki-laki itu menyelamatkan sang Jenderal.  Bersembunyi di balik jerami dan bau tahi kuda selama berjam-jam. Laki-laki penunjuk jalan, hingga sang Jenderal tak perlu mengeluarkan darah dan mati konyol di kandang sapi belakang rumahnya.

Sekolah, memberi makan kuda, dan membaca buku. Terkadang menuju kota seberang sungai untuk menemani majikan bertemu handai taulan di ujung kota. Santapan mewah selalu ditandaskan sebelum acara penyambutan usai. Bagi majikan, laki-laki itu adalah jimat agar tetap hidup. Melakukan perundingan dan pulang dengan perut lebih besar kembali ke kota bagian timur, tempat mereka tinggal.

Jadi  begini, memang kota ini memiliki satu nama, satu identitas sama, namun sebenarnya kota ini seolah terbagi menjadi dua bagian, dengan pemisah sebuah sungai panjang membelah kota. Kota bagian barat dan kota bagian timur. Dengan segala kemajemukan yang berbeda. Di tempat laki-laki itu tinggal lebih banyak dihuni oleh penggembala binatang dan petani sayur dan rempah-rempah. Di bagian yang lain, kehidupan lebih gemerlap, jenderal-jenderal, pegawai, dan sebagian pejabat kota praja bernafas dan bereproduksi di sana.

***

Genderang perang selalu menyelimuti kota, tapi sekolah milik pemerintah Jepang tetap berjalan. Di sana semua siswa adalah keturunan Jepang, baik Jepang asli atau pribumi keturunan Jepang. Apakah laki-laki penyelamat sang Jenderal keturunan Jepang? Tidak ada yang tahu, tapi mata sipitnya sudah berbicara jika Ia berasal dari kota Nagasaki atau Hiroshima atau kota di Jepang lain yang tidak ku ketahui.

Oh, soal kulit coklat? Itu tidak pernah dipermasalahkan, karena cuaca di Indonesia mudah merubah kulit menjadi coklat. Laki-laki tak tau asal-usul dan silsilah keluarga telah berhasil mengaku menjadi anak keturunan Jepang. Hebat bukan main.

Sekolah telah membawa banyak perihal, laki-laki itu didaulat menjadi laki-laki berilmu di tengah peperangan. Tapi itu tak cukup membuatnya berbahagia.

Sekolah usai, berarti percintaan perempuan berkulit putih terpaksa berhenti. Tinta merah muda mereka telah berganti tinta hitam yang harus ditulis sendiri-sendiri. Terpisah oleh sungai pembelah kota. Perempuan dan kehidupan penuh aturan. Pantas saja, Raden Ajeng Kartini dan perempuan di seluruh ujung negeri ini memperjuangkan betul kebebasan kaumnya.

Perempuan di seluruh kota hidup di lingkup sepetak, dua petak bangunan, tanpa diperbolehkan keluar dari seluruh sudut rumah. Tidak berkomunikasi dengan laki-laki, apalagi bertemu dan menjalin kebersamaan.

Hingga di cukup umurnya, perempuan dan laki-laki seluruh kota akan bertemu di sungai pembelah kota. Merasakan getaran bersama genangan air sungai yang dipenuhi ikan mas. Laki-laki dan perempuan akan saling menatap dan menentukan pilihan hanya dengan pandangan mata. Seusai itu, mereka akan bertemu keluarga satu sama lain dan mempersiapakan pernikahan.

Di ujung paling kiri laki-laki penyelamat itu datang terlambat, maklum selesai sekolah ia harus menghadiri perkumpulan pemuda, berpidato dan sesekali melancarkan siasat hasil rundingan pemuda kota. Mata laki-laki mencari perempuan bertinta merah muda, menelisik satu persatu. Alhasil, perempuan tidak ditemukan, ia harus menunggu ritual ini diadakan kembali oleh tetuah. Memutar haluan kembali ke kota timur dengan perasaan kecewa. Apakah perempuan itu sudah menemukan jodohnya hingga tak terlihat?

Berat. Ritual pertemuan laki-laki dan perempuan di sungai pemisah kota tidak dapat diprediksi. Semacam bencana gempa bumi dan tsunami yang sering dibaca laki-laki di buku-buku terbitan Jepang. Perhitungan waktu dan jamnya hanya tetuah-tetuah kota yang mengetahuinya.

Sebagai laki-laki pribumi, mati dapat mengintai kapan saja. Di perjalanan pulang, di persimpangan jalan hingga di kandang kuda, laki-laki bisa mati tertusuk pedang. Kisah percintaan ini tidak mungkin dituntaskan jika ritual tak segera datang lagi.

Berbeda sekali dengan perempuan yang kemungkinan terbunuh sangat kecil, kecuali jika melawan keluar rumah, dia akan dibunuh oleh ayahnya sendiri. Jika laki-laki mati, perempuan bebas mencari bidikan lain. Permasalahan saling cinta atau tidak itu tak dipermasalahkan, yang terpenting tidak mendapat julukan perawan tua.

***

Tepat, satu dasawarsa setelahnya, ritual pertemuan di sungai pembelah kota akan terlaksana kembali. Sore hari, keadaan sedang mendingin usai pemberontakan yang berhasil mengusir musuh beberapa hari lalu. Tak ingin mengulangi kesalahan, laki-laki kulit coklat datang tepat waktu. Hingga pandangan penuh makna dan mendung menggelayut memberati wajah langit pun terjadi. Berhasil, perempuan berkulit putih ditemukan. Mereka sama-sama menikmati air yang turun dari langit dengan bernaungkan payung perempuan berwajah putih.

“Bolehkah aku ikut denganmu?”

“Kehidupan kota timur sangat keras. Tunggu saja hingga aku pindah ke kotamu.”

“Tidak. Aku ingin hidup bersama.”

“Baiklah. Aku melindungimu. Kita akan hidup bersama dan berbahagia.”

***

Sebentar, ini bukan kebahagiaan. Akhir cerita ini sangat tragis. Lepas seminggu mereka hidup bersama, tak ada pertengkaran. Hingga malam itu, datang dua prajurit yang tanpa permisi masuk ke dalam rumah, mendobrak pintu dan menancapkan pedang tepat di dada laki-laki berilmu itu.

Darah muncrat mengenai wajah perempuan berkulit putih. Tidak ada perlawanan, laki-laki itu sedang tidur di ranjang reyot memeluk perempuan berkulit putih. Orang-orang di sekitar pun tak ada yang tahu, atau mungkin ada yang tahu namun tak berani meneriakkan kejadian yang terjadi malam itu. Tengah malam, mendekati pagi buta.

Kau ingin tahu cerita di balik pembunuhan laki-laki itu? Lagi-lagi tidak ada yang tahu. Benar kata seseorang, kebenaran yang sesungguhnya memang sulit dideteksi dan dijelaskan. Selalu berakhir dengan misteri. Yang jelas, setelah pembunuhan itu sang perempuan berkulit putih pergi meninggalkan laki-laki itu bersama dua orang prajurit.

Tunduk dan hormat nampak dari wajah keduanya ketika bertatapan dengan perempuan berkulit putih. Pantas, atasan mereka adalah suami perempuan berkulit putih sekaligus seorang pejabat pemerintah. Pernikahannya terjadi beberapa tahun lalu, apakah itu perempuan berkulit putih yang kau cintai duhai laki-laki berkulit coklat lusuh? Atau kau salah melihat saat dipertemukan di sungai pembatas dua kota?

Kini, tak ada lagi laki-laki yang berani berhubungan dengan perempuan di kota sebelah barat. Sungai yang dulu mempersatukan kini menjadi jurang pemisah. Lagi-lagi siasat licik yang melatarbelakangi ini, menurut penuturan mata-mata yang menetap di kota bagian barat, tempat perempuan berkulit putih itu tinggal. Suaminya adalah pribumi pembela pemerintahan Jepang, kau tentu paham bagaimana laki-laki berkulit coklat itu beberapa kali membuat rugi pihaknya. Kelemahan laki-laki itu hanya; perempuan berkulit putih yang dicintainya.


Oleh: Yolanda Agnes Aldema, kuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia