Selasa, 17 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Ruang Publik

Di antara Dua Kemungkinan Pertemuan

Minggu, 15 Apr 2018 12:30 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, di antara dua kemungkinan pertemuan

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

Yang fana adalah waktu
Kita abadi
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa

(Sapardi Djoko Damono, 2015)

***

Beberapa perpisahan terkadang melahirkan lupa agar kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebab semua orang pasti pernah lupa, bukan? Namun, lupa yang aku maksud adalah lupa yang disebabkan perpisahan.

Tentu lupa itu bukan disengaja. Kalau disengaja namanya itu melupakan. Dan tentang lupa, lupa yang aku alami adalah lupa sungguhan. Lupa yang bagiku, sebenarnya ketika kami bertemu dan menjumpai perpisahan ternyata kami belum sepenuhnya saling mengenal.

Perpisahan yang aku ceritakan adalah perpisahan sebagai takdir buatan ibu, bukan Tuhan. Aku merasa Tuhan tidak mungkin menakdirkan ini. Aku hanya yakin, bahwa ini bukan Takdir, bukan.

Sepertinya ada masa kelam dalam kehidupan ibu yang belum kuketahui sebelum aku bernafas di dunia. Entah mengapa, tak sedikit pun aku berani menanyakan hal-hal yang ingin aku ketahui tentang masa lalu ibu, lebih tepatnya masa kelam ibu.

Di rumah mungil berwarna putih ini, kami hidup berdua saja. Rumah kami kecil. Beberapa temanku bilang rumahku mirip rumah Hobbit, rumah kurcaci yang dipenuhi taman bunga dalam film Lord Of The Rings itu. Dan rumahku memiliki warna cat tembok putih. Alih-alih beberapa perabotan rumah pun pasti tidak lepas dari warna putih. Aku sempat heran. Tapi, terakhir aku tahu bahwa ibu ternyata suka warna putih. Bagi ibu, putih adalah kehangatan. Dan kehangatan diciptakan dengan kebersamaan: hanya Aku, ibu, dan warna putih itu sendiri. Meski aku belum paham, begitu ibu mengatakan kepadaku.

Di rumah, seluruh ruangan hanya dibagi dengan beberapa sekat saja. pernah aku bertanya perihal, kenapa seluruh ruangan dibiarkan terbuka (tentu kecuali toilet). Meja belajar, ruang tamu, kasur, dan tumpukan buku-buku pun seperti menjadi suatu sarang yang nyenyak untuk tidur.

Ibu memilih menjadi seorang wanita karier. Hari-harinya banyak ia habiskan untuk bekerja sebagai karyawan kantor. Tugas-tugas lemburan adalah ciri hidup pekerja, yang sejatinya tak menyadari bahwa semua itu adalah kata lain dari makna “buruh”. Karena itu, aku sering kesepian di rumah. Sendiri di rumah. Waktu ibu terbeli oleh pekerjaan. Dan aku terbeli oleh kesendirian. Hingga pada suatu ketika, sepi yang mengakrabi kesendirianku dirumah, semakin menyadarkanku dari lamunan bahwa aku tak memiliki saudara dan ayah.

Sekarang aku sudah dewasa, 18 tahun sudah cukup bagiku untuk tahu semua yang Ibu sembunyikan selama ini. Tidak sekadar dewasa dari segi umur seperti yang diajarkan oleh guru olah raga di sekolah. Namun, aku yakin aku sudah dewasa sejak dalam pikiran. Persis apa yang diwasiatkan Pram dalam bukunya yang pernah kubaca.

“Bu, bolehkan aku bertanya sesuatu pada Ibu? Tapi aku ingin jawaban jujur dari Ibu.” Tanyaku sedikit ragu.

“Apa sayang, apakah Ibu selalu terlihat berbohong?”

Ibu tidak pernah berbohong tapi selalu berpura-pura. Aku tidak nyaman dengan kepura-puraan ini. Banyak orang bilang, bahwa kepura-puraan adalah lembah kebohongan digali. Ibu semakin menggali lembah itu menjadi jurang kebohongan. Hingga akhirnya kuberanikan bertanya lebih lanjut.

“Seorang anak lahir dari perut seorang perempuan, dan ibu tentu juga tahu kalau perempuan tidak bisa menghasilkan benih tanpa ada laki-laki yang menanamnya. Sekarang, siapa laki-laki itu Ibu?” Tanyaku.

Ibu hanya diam, matanya terlihat nanar dan menunduk tiap aku menatapnya. Ibu masih diam, apakah diam jawaban dari pertanyaanku? Ada banyak kata-kata dalam dunia ini, tapi “diam” tapi tak sedikitpun kupahami dari diamnya seorang perempuan yang masa lalunya tak pernah aku ketahui sebabnya. Ibu menyembunyikan seluruh rupa dan hatinya. Aku tidak ingin menjadi durhaka hanya dengan menanyakan hal itu pada Ibu.

Di titik ini aku sangat benci ibu. Ini kali pertama aku membenci dengan Ibu. Aku bukan anak kecil yang makan bubur ayam, apalagi dengan suapan gaya pesawat terbang, bukan. Ibu berhak memberiku penjelasan tentang segala pertanyaanku.

Akhir-akhir ini, Ibu pulang larut malam dan tidak ada percakapan atau obrolan renyah seperti biasanya. Aku kecewa. Barangkali aku harus menemukan sendiri laki-laki Ibu, batinku.

***

Dari jauh aku memperhatikan seorang laki-laki yang parasnya hampir mirip denganku, hidungnya, alisnya, matanya, mulutnya, semua sama. Apakah itu laki-laki Ibu? Ah, tapi laki-laki itu terlihat seumuran denganku, mungkinkah Ayahku memang masih muda? Sekonyong-konyong ragaku seperti terhempas oleh lirih angin, aku tersadar tidak mungkin aku menyukainya. Aku merasakan seperti ada aliran darah yang sama, pernah tinggal dalam satu tempat yang sama, berdetak seirama, juga seakan-akan pernah makan makanan yang sama. Ia pun sangat indah di pandang persis seperti Ibuku.

Laki-laki itu melangkah ke arahku, melempar senyum dan memandangku heran. Sontak terlontar dari mulutku “Tuan apakah engkau memiliki seorang anak perempuan?” Laki-laki itu terkejut dengan pertanyaaku.

“Apakah aku terlihat seperti lelaki dengan anak dan istri?”

“Perkenalkan aku Juna.”

“ Juna?”

Nama itu hampir mirip dengan namaku, hanya berbeda vocal “a” dan “i” saja, lantas kujabat tanganya “Juni.”

Setelah laki-laki itu memperkenalkan diri ia pergi begitu saja.

“Aku menginginkan nama terakhirnya”.

***

Pagi ini dan suasana masih sama. Meski Ibu sudah redam tapi api dalam diriku tetap menyala. Bau harum di rumah tidak lagi tercium dan warna putih tembok terlihat kusam. Sejak Ibu memilih berbohong padaku. Bagimanapun aku tidak sepenuhnya membenci Ibuku, Ia telah berteman dengan kegelapan, membesarkanku sendirian tanpa seorang laki-laki, dan aku tidak mau menambah beban di hatinya.

Aku pun mencoba memulai obrolan dengan Ibuku. Menceritakan perihal seorang laki-laki yang kutemui tadi siang. Aku bercerita bahwa lelaki itu memiliki nama hampir mirip denganku, aku mengira itu saudaraku.

Aku menanyakan pada Ibu apakah dia sudaraku, atau aku memiliki saudara kembar. Laki-laki itu kurasa sangat mirip denganku, juga dengan Ibu. Ibu tidak menunjukkan ekspresi yang berbeda, Ia hanya menanggapi bahwa setiap orang pasti memiliki tujuh rupa yang sama di dunia dan nama hanyalah identitas. Tapi aku mengelak “Tidak bu, dia terasa seperti saudaraku.”

Lagi-lagi Ibu memilih diam, aku semakin benci ketika Ibu diam. Aku percaya bahwa Ibu selalu benar. Kebenaran setiap perkataan Ibu itulah membuatku tidak mampu memikirkan kata-kata lagi. Jika membicarakan perihal siapa laki-laki Ibu membuat Ibu merasa sedih, barangkali aku harus berhenti berusaha mecarinya. Namun, keingintahuanku tentang laki-laki yang menaruh benih pada Ibuku sehingga terlahirlah perempuan bernama “Juni”, namaku. Ibu membuatku resah. Aku tidak berfikir jika sudah kutemukan apa yang harus dipertanyakan nanti. Perpisahan telah membuat lupa seluruh ingatan, dan Ibuku selalu diam dalam kepura-puraan.

Malam selalu datang tepat pada waktunya, tapi perasaan melahirkan kehilangan sosok seorang laki-laki Ibu. Aku tidak pernah berbohong pada diriku sendiri, keyakinanku pada sosok laki-laki bernama Juna bahwa Ia saudara kembarku semakin kuat. Kekuatan itu bukan karena energi sinar bulan malam ini, dua sepasang benih yang tumbuh berbulan-bulan dalam janin seorang Ibu menciptakana kekuatan dalam diriku tentang perasaan.

Kedekatan sepasang janin dalam perut seorang perempuan yang terus tumbuh kasih sayang sebelum dilahirnya, menjadikan aku semakin sering membuat pertemuan dengan Juna, karena selalu ada hening yang menciptakan rindu untuk harus bertemu. Juna pun demikian sama denganku.

Kisah hidup Juna tidak jauh berbeda denganku, Ia tinggal berdua saja dengan Ayahnya dan tidak tahu siapa Ibunya. Aku dan Juna semakin dekat saja, perasaanku tentang Juna saudaraku sudah hilang berganti dengan perasaan yang lain. Hari ini aku memutuskan untuk membawa ke rumah memperkenalkan kepada Ibu. Seperti biasa, Ibu belum juga pulang, mungkin ia masih sibuk dengan tugas lemburannya. Lantas aku dan Juna menunggu di sofa sambil berbincang-bincang. Hanya berdua di rumah, menunggu Ibu.

Kemudian kami tidak tahu apa-apa yang terjadi. Yang aku ingat adalah Juna mengatakan memberikan cintanya sepenuhnya kepadaku.

***

Kali ini Juna sering berkunjung ke rumah Ibuku juga sedang libur kerja. Ketika Juna tiba di rumah aku memperkenalkan kepada Ibu. Aku bisa membaca ekspresi Ibuku kali ini, Ibu terlihat terkejut. Namun, Ibu menyambut dengan hangat. Percakapan Ibu dan Juna seperti anak pada Ibunya tidak ada sekat atau canggung.

Ibu bertanya siapa nama terakhir Juna. Juna menjawab “Juna Maharendra”, sontak Ibu terkejut seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Ibu pernah berkata padaku “Nama hanyalah sebuah Identitas”, sudah kubilang pada Ibuku nama Juna sama sepertiku layaknya saudara kembar “Juni Maharenda”. Ibu kembali diam.

Pagi-pagi Ibu menemuiku di kamar membicarakan tentang Juna. “Jika tumbuh perasaan lain di hatimu jangan kau teruskan dia saudara kembarmu dan Ayahmu bernama Maharendra”.

Hah.. tentang perasaan sebelumnya kepada Juna bahwa ia sebenarnya saudara kembarku, harus dilupakan oleh perasaan yang lain perasaan sepasang saudara kembar? Begitu Ibu mengatakan “dia saudara kembarmu” dan kenyataan bahwa aku jatuh cinta kepada Juna bukan sebagai saudara kembarku.

Bagaimana Ibu dengan mudah mengatakan “jangan kau teruskan?”. Selama ini Ibu membuatku percaya tentang segalanya, perkataannya, kebohongannya, kepura-puraannya, apakah aku bisa lagi mempercayai perkataan Ibu kali ini?

Rumah kami tidak lagi berwarna putih juga berdinding, semua runtuh ditelan kebohongan Ibu sendiri. Selama ini Ibu selalu berbohong dan memilih diam menyembunyikan kebenaran dariku. Aku sudah tidak lagi percaya pada Ibu, perasaan ku kepada saudara kembarku aku tidak bisa meghentikannya. Biarkan aku jatuh cinta pada Juna, Ia telah menanam benih dalam janinku. Biarkan aku merasakan hidup seperti Ibu tapi tanpa kebohongan.

Tentang Ayahku yag bernama “Maharendra” dan Ibuku bernama “Maharani”. Dua sepasang janin dalam kandungan yang ternyata sama-sama hidup dalam kebohongan. Dan mewariskan kebohongan itu untuk kami. Aku semakin bingung.

Hujan bulan Juni turun hari ini.

*****


Oleh: Alfia Nurul Hidayah, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia IAIN Surakarta. Aktif mengikuti UKM Tari Seni Tradisional UKM SENTRA

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

Rekomendasi Untuk Anda

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia