Jumat, 20 Jul 2018
radarbromo
icon featured
Features

Agung Prabowo, Guru SMP yang Pelukis Beraliran Pop Art

Senin, 19 Mar 2018 12:40 | editor : Fandi Armanto

guru, pelukis, seni, seniman, pop art, lukisan

KONTEMPORER: Agung Prabowo berpose di depan lukisannya yang ia pajang di rumahnya. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)

MENCINTAI seni lukis sejak kecil, membuat Agung Prabowo, 27, asal Dusun Meli’an, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, dalam kesehariannya tak lepas dari cat dan kuas. Hobi itu pula yang kemudian menjadi pekerjaannya di kemudian hari.

--------------

Kalem dan tidak banyak bicara. Sekilas, itulah yang tergambar dari sosok Agung Prabowo. Pria yang sehari-harinya menjadi seorang guru di SMP Negeri 3 Gempol ini, ternyata juga seorang seniman. Lukis menjadi pilihan dia berkesenian. Sudah tak terhitung, berapa karya yang ia buat.

Ditemui di sela-sela aktivitasnya berkesenian, pria yang hingga kini masih betah membujang ini mengaku, lukis memang sudah mendarah daging sejak kecil. Sambil mengingat-ingat, Agung mengaku mulai tertarik dengan lukisan sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Sejak itu, Agung kecil sudah rajin menggambar. Hobi itu terus diasahnya sampai duduk di bangku SMA. Karena itulah, saat memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia mantap memilih jurusan pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Malang.

Lukisan hasil karyanya, banyak terpajang di rumahnya yang ia manfaatkan sebagai semi-galeri. Ada belasan karya yang dipajang di sejumlah sudut rumahnya. Agung mengaku, hasil karyanya tak hanya disimpan di rumahnya. Ada juga di rumah kerabatnya. Sebagian lain sudah laku terjual.

Agung mengatakan, aliran yang dipilihnya untuk menuangkan kreativitas berkesenian itu adalah pop art atau yang biasa dikenal sebagai kesenian kontemporer. Seperti lukisan di dinding rumahnya. “Ini bukan cetakan gambar sebuah komik lalu dipigura. Sepintas memang mirip, tapi inilah pop art,” katanya.

Pria yang juga hobi memelihara kura-kura itu mengatakan, sejatinya ia sudah mencoba semua jenis lukisan. Namun, pop art ini yang mencuri perhatiannya. “Istilah aliran ini mengambil dari Jepang. Objeknya animasi dan imajinasi. Mirip sebuah komik. Tapi dilukis dengan banyak kreasi,” bebernya.

Anak kedua dari pasangan suami istri Bandowo dan Nadia ini mengatakan, jenis lukisan ini tingkat kesulitannya juga sama dengan aliran lainnya. Butuh ketelitian dan ketelatenan dalam membuatnya. Apalagi, pop art mengharuskan pelukisnya memainkan banyak warna.

Agung mengatakan, sebelum melukis, ia pasti menentukan temanya terlebih dahulu. “Setelah itu, baru menuangkannya di atas kanvas dengan cat akrilik. Butuh waktu lama dalam membuat lukisan jenis ini. Paling cepat sebulan dan paling lama bisa sekitar tiga bulanan,” jelasnya.

Menjadi seorang pelukis, menurut Agung, tak hanya bisa menyalurkan hobi. Tapi, sekaligus sebagai sarana untuk meraih prestasi. Sejumlah ajang sudah ia ikuti. Seperti dalam lomba antarguru se-Indonesia 2014 silam. Saat itu, hasil karyanya berjudul Sisi Lain berhasil masuk 6 besar nasional.

Tak hanya lomba dan festival, Agung juga sering mengikutsertakan lukisannya dalam berbagai pameran. Karyanya yang berjudul Pulau Using pada 2016 lalu tampil di ajang pameran lukis nasional. Tepatnya di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Agung juga sempat foto bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kala itu, Anies Baswedan.

“Karena sudah terlanjur suka, sekaligus hobi. Karena itu, saya akan terus berkesenian sebagai seorang pelukis. Tentunya selain sebagai guru yang memang jadi tugas utama saya,” terangnya.

guru, pelukis, seni, seniman, pop art, lukisan

SERING IKUT PAMERAN: Kreativitasnya dalam melukis membuatnya sering tampil di ajang pameran dan juga lomba. (Rizal F. Syatori/Radar Bromo)

(br/zal/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia