Minggu, 22 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Kraksaan

Kegiatan Keagamaan Resahkan Warga, Duga Ada Penyimpangan Ajaran Islam

Senin, 12 Mar 2018 10:00 | editor : Fandi Armanto

penolakan, tolak

ILUSTRASI (Dok. Radar Bromo)

SUMBERASIH - Warga di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, sedang bergejolak. Ini, lantaran muncul keresahan sebagian warga di sana akan adanya kegiatan keagamaan.

Warga resah karena kegiatan keagamaan itu, dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Selain itu, kegiatan keagamaan dilakukan di fasilitas umum, yang bukan pada tempatnya.

Keresahan itu memuncak, Sabtu (10/3) malam lalu. Saat itu, di desa setempat, sedang digelar acara santunan kepada yatim-piatu dan kaum duafa oleh jamaah Toriqoh Shiddiqiyyah. Entah mengapa, tiba-tiba muncul penolakan dari para pemuda.

Salah seorang pengurus ranting Nahdotul Ulama (NU) desa setempat yang tidak mau disebutkan namanya membenarkan hal itu. Menurutnya, penolakan tersebut dilakukan oleh para pemuda desa setempat. Sebab, beberapa waktu lalu, para pemuda sempat mencari tahu kegiatan jamaah Toriqoh Shiddiqiyyah. Hasilnya, para pemuda desa setempat menilai, kegiatan keagamaan Toriqoh Shiddiqiyyah melenceng dari ajaran Islam.

“Ya benar memang ada penolakan dari kaum muda Desa Gili. Jadi, mereka katanya ada buktinya bahwa memang menyimpang. Yang paling mencolok yaitu salat Jumat disertai salat Duhur itu,” terangnya, Minggu (11/3) saat dikonfirmasi.

Selain itu, kegiatan yang dilakukan juga telah meresahkan warga sekitar. Apa lagi kegiatan yang dilakukan bukan pada umumnya. Yaitu, kegiatan dilakukan di puskesmas pembantu yang ada di desa setempat.

Akibatnya, kegiatan puskesmas menjadi terbengkalai dan mengakibatkan keresahan masyarakat. Agar tidak terus meresahkan warga pada malam itu, pemuda desa dengan bukti yang ada, langsung melakukan penolakan terhadap acara pemberian santunan jamaah tersebut.

“Sudah lama pemuda desa memang menyelidiki. Dan namanya pemuda, mereka menanyakan langsung kepada salah satu pengikut. Dan, ternyata kecuriagaan mereka benar,” ungkapnya.

Beruntung, saat itu tidak terjadi perdebatan yang mengarah ke tindakan anarkis. Sehingga, suasana bisa ditenangkan. “Kalau terjadi perdebatan, sepertinya akan panjang urusannya,” tandasnya.

Sementara itu, Mulyono dari organisasi pemuda Shiddiqi mengatakan, sebenarnya kegiatan bukan dilakukan di puskesmas seperti yang disangkakan. Sebab, sebenarnya kegiatan yang dilakukan itu adalah bertempat di Balai Desa Gili.

“Itu salah besar. Kami sudah ada administrasinya lengkap kok, bahwa kegiatan yang kami lakukan itu mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa sampai kecamatan dan kabupaten. Jadi, kegiatan yang disebutkan di puskesmas, itu salah besar,” ujarnya.

Begitu pula dengan tudingan warga atas ajaran yang ada pada Toriqoh Shiddiqiyyah, dinilai melenceng karena tidak sama dengan Islam kebanyakan. Yakni, menjalankan salat Jumat dan di sertai salat Duhur.

Soal itu, Mulyono hanya menjawab, apa yang ada pada toriqoh-nya adalah sesuai dengan Alquran dan Hadis. “Mengerjakan salat lima waktu itu hukumnya wajib. Dan, mengerjakan salat Duhur itu hukumnya wajib. Jadi, mana yang salah. Tolong jelaskan. Kami mengamalkan sesuai dengan apa yang ada pada Alquran dan Hadis,” tegas Mulyono.

Pihaknya sendiri tidak terima dengan apa yang dituding warga bahwa mereka menyimpang dari Islam. Mulyono juga tak terima, jika kegiatan mereka meresahkan warga. Untuk itu, pihaknya saat ini masih melakukan kajian, apakah tuduhan itu masuk ranah perdata atau pidana.

“Yang jelas kami tidak terima. Jika memang ini nanti bisa dilakukan ke ranah hukum, maka akan kami tempuh,” tandasnya.

(br/sid/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia