Sabtu, 21 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

-- Sahabat --

Selasa, 30 Jan 2018 03:16 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, sahabat

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

“APA yang membuatmu ke Jakarta?” tanyaku pada Aji ketika bertemu tempo hari di pasar ikan Muara Angke.

“Entahlah.” Jawabnya, sembari tersenyum.

Aku juga ikut tersenyum melihat sahabatku itu. Dulu kehidupannya di desa serba berkecukupan dan dermawan, saat masih di bangku sekolah, tak jarang ia membagikan uang sakunya padaku. Karena ia tahu kalau keluargaku hidup serba kekurangan. Selain mempunyai beberapa petak sawah, pada saat itu ayahnya juga menjadi kepala desa. Aku tidak menyangka, mengapa ia sampai menjejakkan kaki di tanah rantau dengan mengadu nasib di Ibu kota ini.

Meskipun hampir satu dasawarsa kami tidak bertemu, hanya sebentar saja kecanggungan di antara kami. Ia menceritakan semua yang telah menimpa keluarganya, ayahnya yang meninggal dalam kecelakaan, ibunya yang sakit-sakitan, hingga ia harus merelakan rumah dan sawah-sawahnya berpindah tangan. Sungguh kesedihan bak beduk bertalu-talu yang memecahkan dadanya, namun ia tetap tegar.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya kemudian ia kembali menghela napas seakan ingin meringankan beban hidupnya. Lalu, ia bangkit dari jongkoknya, suara deru kendaraan menenggelamkan helaan napasnya. Saat ini ia bekerja menjadi kuli panggul di pasar ikan Muara Angke, dengan penghasilan yang tak cukup walau sekadar menopang hidupnya. Ia menjejaki Jakarta karena sering mendengar cerita tentang Ibu kota yang sangat menakjubkan. Sesuatu yang terdengar seperti surga dunia. Serba mewah, serba indah hingga tak bisa ia bayangkan.

Belum genap satu purnama ia terdampar di rimba Ibu kota, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan bak jamur kuping yang mengembang bila musim hujan tiba di kampung. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di areal pasar ikan. Bahkan, ia masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got yang bertubuh hitam besar lagi gemuk melebihi kucing jantan di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

Waktu merangkak naik hingga menjelang malam, tak lama lagi wajah ibu kota akan diselimuti kegelapan. Setelah saling tukar nomor hp, aku berjanji segera berkunjung ke kontrakannya, kemudian aku pamit. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tidak pernah lepas dari sahabat baikku itu. Aku malu. Sebagai sahabat, aku merasa belum pernah berbuat baik padanya. Pengalaman, yang menjadikan dia selalu lekat dalam ingatanku. Tentu dia mengingatnya pula, dan aku yakin rasa yang diidapnya lebih besar, karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dariku.

Malam itu ia berada di rumahku, mengerjakan tugas matematika dari bu Ani yang harus diselesaikan, aku tidak ingin menyulut kemarahan guru matematikaku itu untuk yang ke dua kalinya, aku memang lemah dalam pelajaran berhitung, tidak seperti Aji, temanku itu sangat piawai dalam berhitung.

Lampu teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat dengan wajahku jika kumenunduk untuk menulis. Di atas amben yang berada di sudut kanan depan, ayahku tengah memperbaiki cangkul yang gagangnya patah karena termakan usia, Saat-saat seperti itu percakapan-percakapan apa saja berlaku di antara kami hampir setiap malam kunikmati. Itu yang membuat perasaanku semakin dekat dengannya.

Selesai belajar, aku menyuruhnya untuk pulang karena aku hendak pergi mencari jangkrik bersama anak-anak dari dusun sebelah. Ia langsung menyatakan ingin ikut, tapi aku keberatan. Ayah dan ibunya pun pasti melarangnya. Aku memang sering mencari jangkrik bersama anak-anak dari dusun sebelah, beramai-ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nanti ditempatkan di sebuah kotak atau kaleng bekas, lalu sesekali digelitik dengan lidi yang ujungnya sudah terikat bulu jagung agar berderik lantang. Sebagian biasanya aku jual pada anak-anak yang tak bisa mencari jangkrik sendiri karena dilarang oleh orang tuanya dan sebagian lagi aku koleksi sekadar meramaikan rumah dengan suara deriknya. Tapi malam itu Aji nekat ingin ikut dan aku pun akhirnya tidak kuasa untuk menolak.

Sambil mengambil obor yang sudah kusiapkan sejak sore, kami lalu berjalan sepanjang pematang sawah di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun singkong di belakang rumahku. Sekumpulan kunang-kunang yang bermain di semak berhamburan karena kedatangan kami. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik anak-anak pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Jika bukan karena sebuah kesenangan, aku tidak akan berani berada di sana apa lagi jika sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke tengah areal persawahan. Hanya dalam beberapa menit, beberapa ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam pelok mangga yang sudah dibuang bijinya kemudian diikat karet setelah itu kami masukkan ke kantong plastik yang sudah diikatkan ke pinggangku dengan rafia. Ia mengikutiku dengan semangat, tanah persawahan yang pecah-pecah dan tunggak pohon padi yang mengering sesekali menelusup menyakiti telapak kaki, aku melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, kemungkinan ia tak mengeluh karena gengsi terhadapku.        

“Aduh!” teriakku.

Kaki kananku terperosok celah tanah yang pecah-pecah di areal persawahan itu, seketika itu Aji langsung membuang obor yang ia pegang, kemudian buru-buru ia menopangku. Kakiku terasa sangat sakit, seperti ada hewan yang menggigit jempol kakiku. Dengan dibantu Aji, aku berhat-hati mengangkat kakiku yang terjepit di sela-sela tanah persawahan yang pecah-pecah itu.

“Sepertinya ada hewan yang menggigit kakiku, Ji.” Kemudian ia mengambil obor yang masih tergeletak di tanah.

Ia berusaha mencari tahu, hewan apa yang telah menggigit jempol kakiku dengan obor itu.

“Ular, Mus. Ular yang itu yang menggigit kakimu.” Kemudian Aji berusaha membunuh ular itu menggunakan pantat obor yang ia pegang dengan memasukkan ke celah tanah, tapi ular itu semakin masuk ke celah tanah yang makin sempit.

“Sudah lah, Ji. Biarkan saja ular itu, sebaiknya kau bantu aku.” Pintaku dengan suara merintih.

Kemudian ia mengikat pergelangan kakiku dengan mengambil rafia yang terikat di pinggangku. Ia berusaha mengeluarkan darah dari bekas gigitan ular di jempol kakiku dengan menekan-nekan, sesekali ia menghisap jempol kakiku, takut-takut masih ada bisa ular di kakiku. Jika saja Aji tidak segera mengeluarkan bisa ular itu, mungkin saat itu juga aku sudah meregang nyawa karena bisa ular. Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana, aku tidak boleh  buru-buru pulang, ayah ibuku pasti akan panik jika aku pulang dalam keadaan pincang seperti itu.

***

Aku dikejutkan hadangan sesosok lelaki mengenakan penutup wajah dengan menghunuskan sebilah celurit di tangannya, kemudian ia mengalungkan celurit itu ke leherku.

“Cepat serahkan uangmu, sebelum tangan ini lepas kendali!” Teriak lelaki menggertakku dengan getaran yang hebat. Aku tak tahu apakah ia marah atau malah gentar.

Aku masih berada di atas motorku, kemudian buru-buru aku mengambil dompet lalu kuserahkan dengan gemetar pula. Ini masalah nyawa yang hanya satu-satunya. Bukan kematian yang kutakutkan, namun janjiku untuk menemui sahabatku malam ini, membuatku tak mungkin mengambil risiko untuk mencicipi ketajaman celurit itu. Ada kegelisahan di sepasang mata yang nampak mulai berair itu. Ia menangis. Entah tangisan apa yang mengalir deras dari seorang perampok?

Ia tak juga beranjak. Celurit itu terus terarah ke leherku. Tajam, berkilat, dan gemetar. Sebelah tangannya menangkap dompet dan membukanya dengan tergesa-gesa. Hampir saja dompet itu jatuh. Ia terkejut dengan kebodohannya sendiri. Dan akibatnya celurit itu menekan keras leherku nyaris membuat leherku teriris.

Sial, ia mengambil semua uang dan membuang dompetku. Kemudian perampok itu bergegas pergi. Dengan segera ku buka helm, berniat melemparnya menggunakan helm dan mengejarnya tapi aku takut ia kembali dan melayangkan sabetan dengan celuritnya. Ia melesat begitu cepat seperti ditelan gelap malam, menyelinap dalam padatnya rumah-rumah penduduk.

Aku memungut dompet yang sudah kosong itu dan kembali ke ujung jalan, aku harus melanjutkan perjalanan, ke daerah Kampung Baru Muara Angke. Mencari alamat kontrakan sahabatku, Aji. Meskipun berbekal catatan alamat yang diberikan Mus yang tak seperti lazimnya alamat rumah tapi seperti ancar-ancar menuju rumah kontrakannya. Malam itu aku ingin sekali mengenang masa lalu seperti waktu di desa dulu. Aku masuk ke gang-gang sempit di Kampung Baru Penjaringan Muara Angke. Mencari alamatnya tak semudah mencari jangkrik di sawah, sulit juga menemukan rumah kontrakannya. Sudah beberapa kali aku menelusuri tiap kontrakan, namun tak kunjung juga ketemu. Ku coba menghubungi hp-nya pun tak ada tanggapan.

Setelah bertanya pada beberapa orang di areal permukiman kumuh itu, sampai akhirnya aku menemukan sebuah rumah berukuran kecil semipermanen, dindingnya terbuat dari papan kayu yang mulai usang. Tak seperti rumahnya di kampung yang sudah dijual untuk biaya pengobatan ibunya.

“Assalamu’alaikum.” Kataku sambil mengetuk pintu. Tapi tak ada respon. Ku ulangi sampai berkali-kali namun tetap saja tak ada tanggapan dari penghuninya. Hanya kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasku karena jenuh menunggu. Suara musik, iklan, dan segala hal. Sampai akhirnya ku dikejutkan dengan suara Aji dari belakang.

“Kau sudah dari tadi, Mus?” sapa Aji.

“Iya, Ji. Pantas saja gak ada orang, rupanya kau baru pulang.”

“Di dalam ada ibu, Mus. Ia sedang sakit.” Kemudian Aji membukakan pintu dan mempersilahkan ku masuk.

Sepertinya ia baru saja membeli obat untuk ibunya. Terlihat ia meletakkan kantong plastik yang berisi beberapa obat yang baru saja ia gantungkan di paku yang menancap di dinding rumahnya, kemudian ia mengeluarkan celurit dari balik bajunya dan menyelipkan di sela-sela dinding rumah itu. Ku perhatikan celurit itu sama seperti milik lelaki yang baru saja merampokku. Aku terjebak dalam petaka tanda tanya. “Apakah mungkin sahabatku sudah senekat itu?” gumamku dalam hati.

Dari pakaian yang ia kenakan saat itu semakin meyakinkanku bahwa Aji adalah perampok itu. Memang berat jika hidup di kota besar tanpa memiliki keterampilan yang memadai untuk menunjang kelangsungan hidup. Tapi bukan berarti ia boleh melakukan apa saja untuk menyambung hidup.

“Ji. Uhuk, uhuk” Suara ibunya memanggil sambil batuk-batuk.

“Iya, Bu.” Kemudian Aji bergegas menuju pembaringan ibunya.

“Ji, aku sudah tidak kuat lagi. Uhuk…uhuk…” Suaranya terbata-bata sambil menahan batuk. Aji mengambilkan obat dan air minum, untuk meringankan batuknya. “Minumlah, Bu! Sakitmu akan mereda” Aku ikut membatunya minum.

“Bawa aku berobat, Ji. Aku ingin sembuh.” Pinta ibunya

“Sabar, Bu, aku belum punya cukup uang untuk berobat” jawab Aji

“Ayo kita bawa ibumu ke rumah sakit, Ji. Masalah biaya, aku punya sedikit tabungan.” Pintaku untuk meringankan beban sahabatku itu.

“Sekarang kau cari mobil atau apa saja untuk membawa ibumu ke rumah sakit.” Ia masih Nampak bingung

“Ayo cepat!” lanjutku sembari mendorongnya agar bergegas.

Dengan segera Aji menuju ke rumah pak Hamid, ia tetangga sebelah yang memiliki mobil butut yang biasa digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan jasanya.

Tak lama kemudian Aji sudah sampai di rumah. Dengan langkah sedikit berlari ia langsung ke sudut ruangan menuju ranjang ibunya, disusul pak Hamid yang berada di belakangnya dan juga mempercepat langkahnya.

“Bu, ayo kita berangkat ke rumah sakit, ini pak Hamid sudah ada di sini” Aji berusaha untuk membangunkan ibunya. Namun tak ada respon darinya, dia tetap diam dengan mata terpejam. Pak Hamid yang sedari tadi hanya memperhatikan, kemudian ia mendekat.

“Bu, Bu…ayo kita berangkat!” Ia juga membantu membangunkan.

Kemudian aku memegang pergelangan tangannya. Menekan pergelangan itu untuk mengecek nadinya.

“Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’un… Ibumu sudah tiada, Ji.” Lanjutku sambil memandang ke arah Aji.

Ia seakan tidak percaya mendengar ucapanku, ia langsung meraih pergelangan tangan ibunya untuk memastikan ucapanku. Saat itu sudah pasti tak ada deyut nadi lagi. Aji terpaku, napasnya seakan berhenti, dadanya sesak, tenggorokannya seperti tercekik. Kemudian ia menangis sejadi-jadinya, memanggil-manggil ibunya sambil memeluk jasadnya.

‘Allahummaghfir laha warhamha wa’afihi wa’fu ‘anha’ Doaku dalam hati tak kuasa menahan kesedihan.

Seketika itu air mataku berlinang.

Oleh: Sugianto, Guru MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia