Sabtu, 21 Jul 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Benar-Benar Kelewatan, Pikap Mertua pun Jadi Alat Bertaruh

Kamis, 17 Aug 2017 12:12 | editor : Muhammad Fahmi

ILUSTRASI

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Tole (nama samaran), 42, warga Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, punya hobi yang tak biasa. Taruhan. Apapun bisa menjadi media untuk bertaruh. Apesnya, saat tak ada lagi uang yang digunakan untuk bertaruh, ia nekat mengorbankan pikap mertuanya.

Soal hobi ini, Minthul (juga nama samaran) sudah angkat tangan. “Tidak bisa dicegah. Taruhan bagi suami saya seperti makan. Kalau tidak taruhan seperti orang gila,” ujar ibu tiga anak ini. Bukan sekali dua kali Minthul meminta suaminya untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Namun, Tole tetap gas pol rem blong.

Media untuk bertaruh juga macam-macam. Mulai taruhan hasil skor pertandingan sepak bola, karapan sapi atau karapan kambing, pemilihan kepala desa, sampai kelahiran anak kambing juga jadi media bertaruh.

“Bukan itu saja, bahkan hal remeh temeh juga bisa jadi taruhan. Orang yang lewat di tikungan desa juga jadi taruhan. Dia bertaruh sama temannya, apakah yang lewat laki-laki atau perempuan. Kok bisa yang kayak gitu jadi taruhan,” kata sang istri heran.

Tole asyik-asyik saja dengan aktivitasnya tersebut. Uang yang dibuat bertaruh mulai dari recehan sampai jutaan. Minthul sendiri tak tahu, apakah selama ini pernah menang atau tidak. Biasanya, kalau menang, Tole selalu koar-koar. Giliran kalah, ia diam seribu bahasa.

“Tapi ya begitu, meskipun menang tidak kelihatan uang dan wujudnya. Padahal, saya tidak minta duit haram itu. Ia juga beralasan tidak ngasih duit hasil taruhan karena tidak mau ngasih anak istri dengan duit haram. Sudah tahu haram, tapi ya tetap dilakoni,” ujar Minthul menggerutu.

Celakanya lagi, terakhir Tole bahkan mempertaruhkan pikap mertuanya. Saat itu ia bertaruh soal hasil pemilihan kepala desa di kampungnya. Meski saat itu tak punya uang sesuai nominal yang disepakati dengan lawannya, Tole tetap pede. Ia yakin pilihannya menang. Apalagi calon yang diusung incumbent.

Saat pemilihan digelar, Tole tampak sibuk mondar-mandir ke sana kemari. Maklum, saat itu ia juga tercatat sebagai tim sukses salah satu calon kades. Saat dimulai penghitungan suara, cakades yang diusungnya melesat jauh meninggalkan dua lawannya.

Tentu saja, ia sangat gembira. Ia yakin bisa memenangkan calon yang didukung sekaligus memenangkan taruhan. Tapi, itu hanya sementara. Ternyata, suara cakades lawannya menyusul perolehan suara tersebut. Dan, akhirnya cakades yang didukungnya kalah.

Wajahnya yang semula semringah, kini berubah pucat. “Suami saya pulang-pulang wajahnya sudah pucat. Akhirnya saya tahu ia kalah taruhan,” katanya. Tole diketahui bertaruh duit Rp 15 juta. Karena tak punya duit sebanyak itu, Tole nekat memberikan pikap mertuanya.

Semula, sang mertua tak tahu jika pikapnya menjadi alat pembayaran taruhan menantunya. Tole memang tak cerita. Ia membawa pikap mertuanya dengan alasan mau mengantar barang. Setelah tiga hari tidak kembali, akhirnya mertuanya tahu kalau pikap tersebut sudah berpindah tangan.

Tole pun dimarahi habis-habisan. Bahkan, mertuanya hendak melaporkannya ke polisi. “Untung bapak saya tidak sampai lapor polisi. Tole berjanji akan menebus pikap itu. Ya mudah-mudahan dia tobat. Kalau ndak tobat-tobat juga, berarti keterlaluan,” katanya sambil berlalu.

(br/rf/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia