Peserta Literasi Award Mulai Pagi sampai Sore Tetap Semangat

PAITON, Radar Bromo - Training Literasi Award 2023 hari kedua digelar Kamis (10/8). Kali ini peserta mendapatkan tiga materi lanjutan diklat jurnalistik di Rechall POH 1 PT Paiton Energy - PT POMI, Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton.
Sama seperti hari sebelumnya, kegiatan pemberian materi dimulai sejak pagi hingga sore hari. Meski panjang, peserta tetap semangat. Peserta yang datang pun tidak berubah sebanyak 235 peserta dan 48 Pendamping dari 47 lembaga.
Di hari kedua, tiga materi disampaikan oleh para narasumber yang cukup berkompeten tidak hanya teori melainkan praktik sebab narasumber merupakan praktisi. Materi yang disampaikan meliputi materi berita cetak dan features oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bromo. Serta materi fotografi oleh Zainal Arifin yang juga fotografer Jawa Pos Radar Bromo.
"Peserta yang hadir dalam materi lanjutan cukup ini antusias. Penyampaian materi sesuai dengan rundown acara," kata Ketua Panitia Literasi Award Innayah.
Peserta dari SMK Nurul Jadid Paiton Ahmad Maulana Fadli mengatakan, enam materi sudah diterimanya. Baik pada hari pertama dan hari kedua, materi perihal berita cetak dan features merupakan materi yang membutuhkan pemikiran ekstra tidak hanya teori saja. Melainkan juga harus praktek sesering mungkin. Sementara materi fotografi menjadi materi yang ditunggu-tunggu. Sebab ia mengaku jika hobi fotografi.
"Banyak materi yang bisa dipelajari. Materi pada sesi pertama dan kedua cukup susah. Perlu latihan banyak. Kalau fotografi memang saya suka. Tinggal menambah sedikit teknik. Sejauh ini materi yang disampaikan sangat berguna," katanya.
Pendamping SMKN 1 Banyuanyar Agus Hidayat mengatakan, secara umum materi yang disampaikan selama dua hari sudah bisa diterima siswa. Namun memang ada beberapa materi yang perlu proses lebih lama dan pertimbangan yang baik. Seperti materi features. Walaupun demikian tidak ada kendala yang berarti. Hanya perlu mencoba dan berlatih.
Sementara itu ada materi lainnya yang memang membutuhkan alat yang mumpuni. Seperti layout dan fotografi. Anak-anak yang belum punya alat hanya bisa teori dan praktik sekedarnya. Berbeda dengan yang alatnya sudah lengkap. Bisa langsung mempraktekkannya.
"Materi yang diberikan merupakan salah satu sistem kerja media. Jadi peserta dapat mengetahui, kerja media sepenuhnya seperti apa. Mungkin kedepannya kalau ada kesempatan. Di sela-sela tanya jawab ada presentasi dari peserta. Sehingga bisa jadi tolak ukur kemampuan siswa," tandasnya. (ar/fun)
