Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SMPN 2 Kraksaan Implementasikan Pendidikan Antikorupsi melalui Media Appsheet

A
Penulis: Achmad Arianto❯
Kegiatan di SMPN 2 Kraksaan. Inset, Kepala SMPN 2 Kraksaan Dra. Milyun Wijayanti, M.Pd.
Kegiatan di SMPN 2 Kraksaan. Inset, Kepala SMPN 2 Kraksaan Dra. Milyun Wijayanti, M.Pd.

MEMBENTUK karakter siswa yang berkualitas memerlukan teknik yang tepat. Seperti yang dilakukan Kepala SMPN 2 Kraksaan Milyun Wijayanti. Sekolah ini menanamkan pendidikan antikorupsi dengan strategi “Intan Berlian”.


Advertisement

Intan Berlian merupakan visi dari SMPN 2 Kraksaan. Akronim dari Insan Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berprestasi, Berwawasan Lingkungan, Antinarkoba dan Antikorupsi.

Perlu langkah yang tepat untuk merealisasikan visi tersebut. Seperti mengimplementasikan pendidikan antikorupsi melalui media appsheet dengan strategi Intan Berlian sebagai best practice.

Tujuannya, memberikan pemahaman pada guru dalam mengimplementasikan pendidikan antinarkoba, korupsi, dan anti bullying. Hasilnya, implementasi tersebut mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan layanan kepada peserta didik yang aman dan menyenangkan serta memerdekakan.

Advertisement

"Best practice memudahkan guru. Sehingga, apabila guru sudah menguasai, maka lebih mudah mengaplikasikannya pada siswa," kata Kepala SMPN 2 Kraksaan Milyun Wijayanti.

Program ini pun membuat Milyun Wijayanti masuk 40 nomine dalam lomba Kepala Sekolah Inspiratif Inovatif Berprestasi (Kesit). Lomba ini digelar Dinas Dikdaya Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Menurutnya, korupsi, narkoba, bullying dalam berbagai tingkatan masih banyak terjadi. Bahkan, seolah-olah telah menjadi bagian dari kehidupan dan dianggap hal biasa.

Advertisement

Siswa pun berpotensi terpengaruh narkoba. Mereka juga sering bersikap tidak jujur, kurang disiplin, dan kurang bertanggung jawab. Bahkan, masih ada bullying terhadap teman.

Dengan menerapkan media Appsheet melalui strategi Intan Berlian, kondisi warga sekolah pada umumnya dan peserta didik khususnya terbentuk karakter antinarkoba, antikorupsi, dan anti bullying sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Sehingga, proses pembelajaran menjadi bermakna.

"Jika dibiarkan dan diam saja, kondisi ini cepat atau lambat akan menghancurkan masa depan siswa. Perlu ada upaya agar hal tersebut tidak terjadi," ujarnya. (ar/hn/*)

Advertisement
Editor : Jawanto Arifin

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer