Bentuk Karakter Siswa SMPN 1 Bantaran dengan Pendekatan Personal

ETIKA siswa yang terus terkikis perlu ditanggulangi dengan pendidikan karakter yang mumpuni. Pasalnya, karakter tersebut akan dibawa hingga dewasa.
Pendidikan antikorupsi hingga pencegahan bullying merupakan salah satu tujuan sekolah. Adanya imbauan dan instruksi dari pemerintah pusat bahwa sekolah harus ramah anak, kepala sekolah menyelipkannya ke dalam program pendidikan.
Dalam pelaksanaan, tentunya harus diintegrasi dalam kegiatan pembelajaran sekolah. Juga mengadakan sosialisasi dengan wali murid serta tokoh masyarakat.
"Implementasi program pendidikan antikorupsi, bullying, dan antikekerasan sudah dilakukan dengan baik. Alhamdulillah, berdampak positif di lingkungan sekolah dan serta terwujud sekolah ramah anak," ujar SMPN 1 Bantaran Khuzairi.
Dalam melaksanakan pendidikan antikorupsi, bullying, dan antikekerasan, pihaknya mendapatkan kendala. Di antaranya waktu untuk sosialisasi sangat terbatas. Kemudian, dana terbatas karena alokasi dana dari BOS terbatas. Serta, perlu waktu untuk menyamakan persepsi terhadap pelaksanaan program.
Khuzairi yang menjadi kepala sekolah mulai tahun 2009, pertama kali ditempatkan di Kecamatan Kotaanyar di SMP Negeri 2 Kotaanyar Satu Atap. Lokasinya ada di perbatasan Kabupaten Probolinggo dengan Kabupaten Situbondo. Saat itu sekolahnya sulit dijangkau kendaraan umum. Hanya sepeda motor yang bisa melintas.
Jarak rumah (Leces) ke SMP Negeri 2 Kotaanyar Satu Atap kira-kira 75 sampai 100 kilometer. Kalau ditempuh dengan sepeda motor hampir 2 jam.
Dari situlah ia mendapatkan pengalaman bahwa guru dengan karakter yang berbeda-beda dan mempunyai murid dengan karakter yang berbeda pula, tetap bisa menjalin komunikasi yang baik.
"Kepala Sekolah Inspiratif Inovatif Berprestasi perlu dikembangkan. Agar kepala sekolah setiap tahunnya dapat memperbaiki dan bisa memberikan inovasi terhadap sekolah yang dipimpin," pungkasnya. (ar/fun)
