PROBOLINGGO, Radar Bromo-Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Probolinggo pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,57 persen (month to month/mtm). Data ini berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi pada November 2025 yang tercatat sebesar 0,15 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Kota Probolinggo mencapai 3,03 persen (year on year/yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Inflasi IHK pada Desember 2025 terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,42 persen (mtm).
Berdasarkan komoditasnya, kenaikan harga terutama terjadi pada cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen, 0,12 persen, 0,08 persen, 0,04 persen, dan 0,03 persen (mtm).
Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi oleh penurunan produksi di tengah peningkatan permintaan, serta tingginya curah hujan yang berdampak pada produksi dan distribusi.
Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan disebabkan oleh peningkatan harga komoditas emas yang masih berlanjut hingga Desember 2025.
Adapun kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.
Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga cabai merah dan cumi-cumi, dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,02 persen dan -0,01 persen (mtm).
Penurunan harga kedua komoditas tersebut disebabkan oleh tercukupinya pasokan di pasar.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Febrina, mengatakan tekanan inflasi Kota Probolinggo pada Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali.
“Inflasi Kota Probolinggo masih berada dalam rentang sasaran inflasi. Kondisi ini tidak terlepas dari koordinasi yang solid di dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” ujarnya.
Menurut Febrina, pengendalian inflasi tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah konkret. Diantarnya pelaksanaan pasar murah dan pemantauan harga bahan pokok selama Desember 2025, capacity building penyusunan Neraca Pangan pada 5 Desember 2025 dengan mengudang narasumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur.
“Serta pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID Kota Probolinggo pada 4 Desember 2025. Kemudian keikutsertaan pada rakor TPID mingguan selama bulan Desember dan penyampaian infografis neraca pangan mingguan secara rutin,” katanya.
Febrina menegaskan, sinergi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah bersama Bank Indonesia Malang akan terus diperkuat pada tahun 2026, melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan penguatan program 4K.
Yakni, keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif guna menjaga level inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1% (yoy). (uno/mie)
Editor : Muhammad Fahmi